Semilir angin menyapu lembut di atas permukaan air. Kolam kecil di tengah restoran itu menambah kesan sejuk dan, menenangkan. Pengunjung cukup ramai, hanya terlihat beberapa meja saja yang kosong.
Di salah satu meja, pasangan muda terlihat menikmati hidangan yang disajikan. Sesekali terdengar percakapan ringan di sela makan siang mereka.
"Weekend ini ada grand launching usaha nasabah di Seminyak, mau ikut sayang?" tanya Jonathan.
Gadis di hadapannya mengernyitkan kening, heran.
"Buat apa? Nggak enak sama temen kantormu," tolaknya.
"Sekalian jalan-jalan sayang, nanti pesan beda hotel," bujuk Jonathan lagi.
Jonathan adalah karyawan bank yang bertanggung jawab menjaga relasi dengan nasabah prioritas. Mereka sering diundang dalam acara-acara penting para nasabah, termasuk kegiatan pengembangan bisnis.
Sedangkan kekasihnya, Naomi, adalah karyawan di salah satu perusahaan sawit yang cukup besar. Lini bisnis perusahaannya meliputi perkebunan sawit dan pengolahan sawit menjadi produk dasar seperti minyak sawit mentah.
"Nggak deh, kamu juga kan pasti sibuk di sana," jawab Naomi.
"Nggak sibuk, sayang. Cuma dateng sebentar di acaranya, jadi tamu,"
Pramusaji resto baru saja menghantarkan smoothies pesanan Naomi, memberi jeda dalam pembicaraan mereka.
"Ikut ya, sayang?" bujuk Jonathan lagi setelah pramusaji itu meninggalkan meja mereka.
Naomi dengan tegas menolak, dia tidak nyaman bergabung dalam agenda kantor kekasihnya.
Setelah menyelesaikan makan siang, keduanya kembali ke kantor masing-masing. Cukup jauh dan berbeda arah.
Naomi memasuki lobby kantor dengan tergesa, dia terjebak macet dan hampir terlambat kembali ke kantor.
Begitu membuka pintu ruangan, hawa dingin berhembus pelan. Menyegarkan tubuh Naomi yang sedikit berkeringat karena berlari.
"Tumben telat, Na" sapa rekan kerja Naomi yang baru bergabung di samping mejanya, membawa secangkir kopi instan yang diseduh di pantry kantor.
"Kejebak macet di bundaran, mbak. Sopir angkot berantem lagi" jawabnya lesu.
Ucapan Jonathan di parkiran tadi sedikit menyinggung dirinya. Kekasihnya itu protes karena selama hampir satu tahun menjalin kasih, Naomi tidak pernah mau diajak stay cation.
"Ck, di situ ribut mulu dah perasaan. Harusnya ada yang patroli lah biar nggak bikin macet" komentar Ajeng, rekan Naomi itu.
"Tadi ada mbak, tapi namanya panas-panasan kejebak macet sering bikin pusing, ribut deh" jawab Naomi, menelungkupkan wajah di atas meja.
Dua hari ini dia sangat terganggu. Selain ucapan Jonathan tadi, Naomi juga terusik oleh satu hal yang sulit dia atasi.
Panggilan bersama Wira kala itu masih menjadi misteri baginya. Pria itu juga tidak berkomentar sama sekali.
Sebenarnya, apa yang salah dengan hidup Naomi? Di mana titik awal kekacauan yang terjadi saat ini?
Naomi tak bisa memecah semua tanya yang mengendap.
Dia juga sangat cemas memikirkan kejadiaan naas kala itu. Semoga saja penderitaan Naomi tidak bertambah. Jangan sampai ada kehidupan yang menumpang hadir melalui dirinya.
"Ngopi dulu deh, mbak. Wangi banget" ucap Naomi pada Ajeng.
Semua kebuntuan dalam pikirannya tak mungkin terurai begitu saja. Naomi butuh asupan kafein untuk merilekskan pikirannya saat ini.
"Itu kopi yang mana, mbak?" tanya Naomi, penasaran dengan aroma yang terasa manis gurih.
"Mocacinno, Na," ucap Ajeng seraya menyebutkan merk kopi instan yang cukup terkenal.
Naomi melangkah lesu, tak ada gairah hidup yang membuatnya semangat.
Di area pantry, ada Rian yang sedang menyeduh beberapa gelas minuman.
"Ada tamu, mas?" tebak Naomi.
Rian mengangguk, menyebutkan kehadiran tamu di ruangan salah satu petinggi perusahaan.
"Pantes. Tumben ada kopi mahal," gurau Naomi.
Gadis itu membawa cangkirnya ke ruang kerja, tak lupa mencomot beberapa camilan dari laci di pantry.
Di kantor mereka memang tersedia minuman dan camilan gratis untuk karyawan.
Saat memasuki ruangan, Naomi berpapasan dengan Wira yang ingin keluar ruangan.
Tatapan pria itu terasa menusuk tajam, Naomi sampai tak berani membalas pandangannya.
"Eh, Na. Beneran proposal yang waktu itu diterima?" tanya Ajeng heboh.
Naomi mengernyit heran, tidak mengerti konteks pembicaraan.
"Yang mana, mbak?" tanya Naomi, tidak tahu proposal apa yang dimaksud. Ada banyak proposal yang pernah mereka ajukan.
"Proposal bareng Bang Dipta, Na," ucap Tasya, mendekat ke meja kerja Naomi dan Ajeng.
Tasya memang duduk cukup jauh dari mereka, tapi saat ini dia mendekat untuk ikut bergosip.
"Barusan Pak Wira dihubungi, disuruh menghadap, Na," ucap Tasya, membuka bungkusan cokelat karamel yang dibawa oleh Naomi.
Ajeng ikut mengambil bolu pandan dan cookies kacang.
"Oalah, pantes kemaren Bu Tyas minta dikirimin filenya" ucap Naomi, baru mengingat proposal yang dimaksud.
Tasya mendadak heboh karena proposal itu akan mendatangkan banyak bonus jika benar terlaksana.
"Semoga aja bener diACC. Udah lama kita ngga dapet bonusan gede" ucap Tasya dengan nada bahagia.
Ajeng mengangguk setuju. Memang tim mereka sudah lama tidak menerima bonus besar dari pengajuan proposal semacam ini.
"Bener. Tahun depan anak gue masuk SD, butuh banyak biaya" ucap Ajeng ikut antusias membayangkan rekeningnya membengkak.
Naomi terkekeh, dia juga senang tapi tidak seantusias mereka.
Sejak awal, Naomi sudah yakin proposal itu akan diterima jika benar-benar ditelaah.
"Banyakin tidur dari sekarang. Nanti bakal lembur mulu" tambah Naomi, memadamkan euforia yang sedang mekar.
"Ck, males sih kalau bahas lemburannya. Tapi demi cuan, biar deh nggak kelonan dulu sama ayang" ucap Tasya, membuat Ajeng mendelik.
"Makin nggak ketolong, mbak. Bucin level t***l" sindir Naomi, membuat Ajeng tertawa.
Tasya tidak peduli. Toh dia tidak merasa merugikan siapa pun. Urusan asmaranya biar dia dan pasangannya yang memutuskan mau bagaimana.
Beberapa waktu kemudian, Wira datang dengan membawa map biru di tangannya.
"Kumpul sebentar ke ruang meeting" ucapnya, mengambil kertas lain dari tumpukan dokumen di mejanya.
Setelah file proposal dibagikan, semua orang diminta fokus pada beberapa bagian yang sudah dihighlight.
"Bulan ini semua harus rampung. Bu Tyas akan ikut mengawasi langsung kinerja kita. Apakah ada yang keberatan dengan tugasnya?" tanya Wira, menatap satu per satu wajah dalam ruangan itu.
Tak ada jawaban pertanda semua setuju dengan pembagian tugas masing-masing.
Waktu mereka hanya satu minggu untuk menyelesaikan tugas masing-masing.
Naomi dimasukkan dalam tim yang ikut peninjauan lapangan, sehingga dia harus bersiap jika diminta berkunjung ke area perkebunan atau pabrik.
"Besok pagi kita langsung survei, bisa?" tanya Dipta pada timnya yaitu Naomi, Ajeng, dan tiga orang laki-laki.
Mereka kompak setuju, pembagian partner dan lokasi kunjungan juga sudah disepakati sebelumnya.
Naomi dapat partner Dipta. Dia bersyukur karena Dipta bukan tipe laki-laki yang suka mengomel.
Begitu kembali ke kubikel masing-masing, Naomi malah harus mendapati tatapan tajam Wira padanya, lagi.
"Besok pakai celana, jangan rok seperti itu" ucap Dipta, mengingatkan Naomi.
Gadis itu mengangguk paham. Dia akan memilih pakaian yang nyaman digunakan ke lapangan.
Interaksi mereka tak luput dari pengamatan Wira, sehingga Naomi merasa semakin tertekan dibuatnya. Apa yang salah dengan dirinya?
Bahkan Naomi tidak ingat sejak kapan atasannya itu bersikap seperti itu.