5

1014 Kata
Teduhnya pepohonan sawit tidak bisa menghalau hawa panas di sekitar. Aliran air di sisi kiri mereka pun terlihat keruh, tidak memberikan kesan sejuk sedikit pun. Naomi mengekor di belakang Dipta yang berbicang dengan petugas perkebunan. Tangannya juga lincah mengetikkan beberapa informasi yang dirasa penting. Setelah mengunjungi area tanaman sawit, Naomi dan Dipta juga menyempatkan diri untuk melihat gudang pupuk yang sedang bongkar muatan. Naomi duduk di depan gudang. Dia batuk-batuk karena banyaknya debu dan serbuk pupuk beterbangan di dalam gudang. "Balik, bang?" tanya Naomi, saat Dipta datang menghampiri dirinya. "Ke pabrik, jemput Ajeng" ucap Dipta seraya melangkah menjauh dari area gudang. Di dalam mobil, Naomi sibuk merapikan kembali hasil catatannya yang banyak typo. "Mbak Ajeng minta jemput ya, bang? Kok nggak bareng Bang Rony?" tanya Naomi penasaran, padahal mereka adalah partner yang seharusnya sama-sama, tapi Ajeng malah mau nebeng ke tim lain. "Rony masih stay, ada TBS (Tandan Buah Segar) panenan pertama yang mau masuk" jawab Dipta. Mobil mereka melaju pelan melewati jalanan berlumpur di area perkebunan. * Setibanya di kantor, Naomi bergegas masuk ke dalam toilet. Ajeng dan Dipta dipersilahkan kembali ruang kerja terlebih dahulu. Suasana toilet cukup sepi, semua bilik kosong dan terbuka. Setelah selesai mencuci wajahnya, Naomi memakai sunscreen dan memoles kembali wajahnya agar lebih enak dipandang. "Udah wangi" gumamnya, tersenyum lega keluar dari dalam toilet. Saat Naomi melangkah, seorang pria menarik tangannya secara tiba-tiba. Belum sempat Naomi bertanya, pria itu menutup rapat pintu tangga darurat dan membekap mulut Naomi dengan bibirnya sendiri. Naomi mematung, otaknya sedang berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. Saat lidahnya dibelit, Naomi akhirnya mulai menyadari situasi saat ini. Gadis itu memberontak, mendorong bahu pria yang sedang menciumnya secara brutal. "Kenapa?" tanya Naomi lirih, tubuhnya gemetar saat melihat kembali kobaran gairah di mata pria itu. Pria itu tidak menjawab. Dia kembali menunduk, menghirup aroma leher Naomi yang wangi dan memabukkan. Tanpa permisi, pria itu menyesap kulit leher Naomi dan melabuhkan beberapa gigitan kecil. Sekuat tenaga telah Naomi kerahkan untuk menahan lenguhan akibat geli di lehernya. Pria itu menarik diri, menatap wajah Naomi dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa aba-aba, pria itu meninggalkan Naomi sendirian di area tangga darurat. "Anjirlah, ditinggal sendiri di sini" gumam Naomi begitu menyadari dia sendirian di area paling menakutkan baginya. Sejak dulu Naomi tidak berani masuk area tangga darurat. Suasana sepi dan jarang dilewati membuat area tangga darurat terasa mencekam dan menakutkan bagi sebagian karyawan, termasuk Naomi. Gadis itu masuk kembali ke dalam toilet untuk membersihkan mulut dan lehernya. "Kenapa sih tuh orang?" omelnya, mengusap area gigitan pria itu yang ternyata meninggalkan bekas. Naomi terpaksa memakai cushion tebal untuk menutupi bekas gigitan itu. Pintu ruangan terbuka, semriwing AC terasa menyegarkan setelah seharian ini bergelut dengam cuaca panas di luar sana. Naomi kembali duduk di kursinya, namun tatapan matanya sesekali melirik pria b******k itu. Ekspresi pria itu sangat datar, seolah tidak ada yang terjadi. Padahal Naomi sedang berusaha mati-matian untuk tidak memikirkan kejadian barusan. Ada notifikasi panggilan masuk di ponsel Naomi, membuat layarnya berkedip dan bergetar. "Jadi lunch bareng kan, sayang?" ucap Jonathan dari seberang sana. Naomi merapikan anak rambutnya agar ponselnya tidak terhalang. "Iya, di Warung K" jawab Naomi, mengingatkan. Ajeng mengembalikan notes milik Naomi yang dipinjam tadi pagi. "Udah ya, aku mau lanjut dulu. Ini udah di kantor" ucap Naomi, meminta mengakhiri panggilan mereka. Catatan hasil survei sudah Naomi kirimkan di grup. Ada reaksi emoticon jempot yang diberikan oleh Wira dan Dipta. Naomi melirik ke arah pria itu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. * Siang harinya, Naomi tiba terlebih dahulu di lokasi makan siang mereka. Gadis itu memilih meja di bawah kipas angin. Sambil melihat-lihat daftar menu, Naomi juga memperhatikan ke arah pintu masuk. Berharap kekasihnya segera tiba karena Naomi sudah lapar level maksimal. Sementara itu, di halaman warung makan terlihat sebuah motor hitam memasuki area parkir. Motor itu berhenti tepat di samping mobil Naomi. Jonathan yang hampir memasuki halaman mendadak memutar kemudi mobilnya. Pria itu meninggalkan area warung makan itu tanpa pikir panjang. Karena sudah terlalu lama menunggu, Naomi memutuskan menghubungi kekasihnya. "Udah dimana?" ucap Naomi begitu panggilan mereka tersambung. Bunyi klakson bersautan menyambut pendengaran Naomi. "Aku kejebak macet, sayang. Kayaknya masih panjang, besok aja lunch bareng ya?" ujar Jonathan. Pria itu sengaja membuka jendela mobilnya agar riuh jalanan terdengar jelas oleh Naomi. Meski rasa kecewa dan kesal memenuhi hati Naomi, dia tidak tega melampiaskannya pada Jonathan. Naomi mengakhiri panggilan dengan baik, lalu memesan makan siang untuk dirinya sendiri. Dia tidak bisa menyalahkan Jonathan karena keadaan yang membuat mereka seperti ini. Saat menunggu pesanannya datang, seorang pria mendekat ke arah meja Naomi. "Boleh gabung?" ucap pria itu, tangannya sudah memegang sandaran kursi di hadapan Naomi. Naomi tidak tahu harus menjawab apa. Niatnya makan siang bersama kekasih, namun malah orang tak terduga ingin bergabung dengannya. "Em, boleh, pak" jawab Naomi kikuk. Dia sebenarnya ingin menikmati makan siang dengan leluasa, namun dia juga tak punya nyali untuk menolak kehadiran atasannya itu. Wira duduk dengan cepat, matanya melirik sekeliling yang sudah padat dan tak ada meja kosong tersisa. Naomi ikut memperhatikan area sekitar, gadis itu baru sadar jika ternyata keadaan seramai ini. Naomi tidak ingin berpikir yang tidak-tidak, sehingga dia mengambil kesimpulan bahwa Wira bergabung dengannya karena tak ada lagi meja kosong. "Sudah pesan?" tanya Wira, menatap Naomi yang sibuk mengalihkan pandangan. Gadis itu mengangguk, namun tidak membalas tatapan Wira. Akhirnya pria itu memesan untuk dirinya sendiri. Karena rasa lapar yang sudah menggerogoti, Naomi berusaha mengabaikan kehadiran atasannya di hadapannya. Naomi tersedak saat Wira membukakan sebotol air mineral untuknya. Dia menatap pria itu dengan tatapan penuh kebingungan. Namun Naomi tidak berani berkomentar. "Terima kasih, pak" ucapnya, menerima botol air mineral itu. Usai makan siang yang penuh dengan kecanggungan itu, Naomi akhirnya merasa lega saat sudah berada dalam mobilnya menuju kantor. Di belakang sana, ada Wira yang juga ikut kembali ke kantor dengan motor besarnya. * * * Gimana, guys? Tinggalkan komentar kalian tentang cerita ini ya. Kalau cerita ini ramai, kita lanjut up terus 😚 Btw, kalian nemu cerita ini dari mana? Dari aplikasi ini atau dari platform lain? Atau mungkin direkomendasikan oleh orang lain? Jawab di kolom komentar ya guys, jangan males komen hehehe.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN