Tiga lawan satu, Aiden sama sekali tidak bisa mengangkat kepalanya. Sementara Ayya di samping, tidak bisa membantu selain diam dan mendengarkan petuah orang tuanya. Megan sendiri hanya menjadi provokator dalam diskusi pagi ini. “Saya benar-benar minta maaf, Pak.” Terhitung, ini sudah kelima kalinya Aiden mengatakan hal tersebut. “Beri saya satu kesempatan lagi untuk membahagiakan putri Bapak.” Kondisi ini terasa seperti suasana lamaran, pada umumnya, tetapi dalam keadaan berbeda. “Kesempatan-kesempatan ndasmu! Dikira setahun lalu bukan kesempatan apa namanya?” Megan paling semangat membalas. Tidak ada yang bisa mencegah mulutnya mengeluarkan kalimat kasar, karena yang ia ucapkan benar adanya. “Ayya, kamu yakin mau balik lagi sama Aiden?” Bapak bertanya, pada Ayya yang sejak satu jam

