Keinginan untuk mencegah muntah, tidak bisa aku penuhi. Aku langsung bangun, dan memukul-mukul Mas Aiden agar memberi perintah pada papanya untuk berhenti. “Pa, berhenti sebentar, Pa.” Setelah Papa berhenti, aku kalang kabut keluar dari mobil dan langsung mengeluarkan isi perut di pinggir jalan. Mas Aiden memijit tengkukku, tetapi selama aromanya tercium, muntah ini tidak bisa berhenti. “Mas pergi, Mas. Mau bau tau, nggak?” pekikku kesal. Beruntung dia patuh, dan tugasnya digantikan Megan. Usai mengeluarkan semua cairan muntahan, aku langsung lemas. Seperti semua isi perut dan tenagaku dikuras habis. “Dia tidak sakit, Pa. Cuman sandiwara,” keluh Mas Aiden. Aku langsung menatapnya sinis. Ini bentuk pertolongan agar dia tidak terlihat b*****t oleh orang tuanya sendiri! Dasar! “Aiden

