Mood bagus yang aku bawa dari Zul mendadak berubah buruk setelah melihat mobil Mas Aiden terparkir di depan kontrakan. Padahal, malam ini, aku berniat mulai menjauhinya, dan pulang ke rumah Bapak besok. Mau berbalik, rasanya percuma. Mas Aiden sudah melihat taksi ini dan berdiri menyambut. Jadi, aku hanya bisa turun dengan wajah masam. “Kamu dari rumah Zul?” Matanya memicing sinis. Aku balas dengan mengangkat kedua bahu tak acuh. Dia aku abaikan, langsung masuk ke kontrakan. Tampilan dalam cermin lebih menarik perhatianku. Kapas dan micellar water aku keluarkan dari dalam tas. Kemudian menghapus make up. “Kamu tahu, kan, dia playboy?” ucap Mas Aiden yang berdiri di belakangku, ikut mengambil bagian dari cermin yang menempel di dinding. “Kamu cuman jadi salah satu mainannya, Ayya. Jan

