Turun dari mobil Mas Aiden, aku disambut beberapa jenis tatapan. Apalagi sialnya, aku malah berpapasan dengan Azari dan Lia. Kemarin sudah membentak keduanya, sekarang bagaimana caranya berbaikan dengan mereka? Kepalaku semakin berdenyut kuat atas nasib sial karena penyamaran ini, padahal mereka, terutama Azari sangat baik padaku. “Kamu baik-baik saja?” tanya Mas Aiden. Aku tidak berbalik, atau sekadar menunggunya. Langsung berjalan dengan cepat untuk menghindar. Dan sepertinya Mas Aiden tidak sepenasaran itu dengan kondisiku. Ia tidak mengejar sama sekali. Ah, aku yang kekanak-kanakan karena berharap dengan hal sesepele ini. “Guys ....” Dalam lift yang ada kami bertiga dan seorang karyawan lain, aku menyapa dua temanku ini. “Aku minta maaf soal kemarin. Kemarin itu beneran, aku banya

