Sekitar pukul tiga sore Shakeel dan Annisa berpamitan untuk pulang setelah mereka mengistirahatkan tubuh dan matanya didalam kamar kost Boby. Wajah Annisa masih pucat. Kontraksi itu belum sepenuhnya hilang. Nyerinya sungguh menusuk bagian dalam tulang pinggang dan punggung. Namun, mau bagaimana lagi? Ini bukan tempat tinggal mereka. Rasanya sangat tidak pantas merepotkan orang yang baru dikenal. Kalau Shakeel ... dia mungkin bisa bersikap biasa saja. Apalagi sudah mengenal Boby sejak lama tapi Annisa ... wanita itu sungguh sangat sungkan. Apalagi kalau mengingat bagaimana Boby dan Fitria membantunya. "Kenapa, Annisa jadi merubah keputusannya, ya sayang?" tanya Fitria saat motor yang dikendarai Shakeel dan Annisa sudah keluar dari pagar kost-an mereka. "Aku rasa itu semua dia lakukan k

