Bertahan Hidup
"Lari..."
"Aku harus kuat..."
"Harus bertahan..."
Seorang gadis dengan pakaian yang kotor dan robek terus berlari sekau tenaga di dalam hutan demi menyelamatkan dirinya dari sekelompok orang yang ingin membunuhnya tanpa menghiraukan luka-luka yang ada disekujur tubuhnya dan rasa dingin yang menderanya, yang kini hanya ia pikirkan adalah secepatnya mendapatkan pertolongan entah dari siapa yang penting ia selamat dari orang-orang yang terus mengejarnya.
Tanpa ia sadari ia ternyata terus berlari menuju ke jalan utama dan tiba-tiba sebuah mobil yang melaju kencang menabraknya hingga terpental cukup jauh.
"Selamat tinggal, semoga tubuhmu tidak dimakan anjing liar hehehe...." Dan sang pengemudi mobil pun tertawa dan pergi meninggalkan gadis yang sudah tidak menyadarkan diri sama sekali tersebut.
Henry Keith yang baru saja pulang berburu dan kebetulan berkendara melewati jalan tersebut melihat seorang gadis terbaring dengan luka yang sangat parah. Ia pun segera menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan menghampirinya.
Henry tidak menyangka bahwa gadis tersebut masih bernafas dan segera ia membawa gadis itu ke dalam mobilnya kemudian dengan segera membawanya ke rumah sakit milik sahabatnya.
Saat tiba di rumah sakit, sahabat Henry yang bernama Adam kaget dengan sosok gadis yang dibawa oleh Henry.
"Hei Henry, siapa gadis ini? Mengapa ia terluka parah? Apakah kau yang menabraknya???"
"Sudah diam kau!!! Bukan aku yang menabraknya. Aku hanya menemukannya di pinggir jalan saat aku kembali dari berburu. Cepat kau tolong dia" Kata Henry kepada Adam.
Adam menghampiri gadis tersebut sambil berkata "Baiklah, aku percaya ceritamu. Sebaiknya kini kau keluar dulu dan tunggu di ruanganku supaya aku dapat berkonsentrasi"
Satu jam berlalu, Adam pun keluar dari ruang tindakan dan menuju ruangan kantornya. Di dalam Henry sedang duduk dengan santai sambil meminum secangkir kopi hitam yang diberikan oleh salah satu perawat yang berkerja di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Henry saat ia melihat Adam masuk.
Tanpa melihat Henry, Adam langsung duduk di kursi dan berkata "Siapa gadis itu? Apakah kau mengenalnya? Aku tidak pernah melihatmu dengan gadis itu sebelumnya. Luka-lukanya sudah kuobati, kakinya terkilir lumayan parah hanya saja kepalanya mengalami benturan yang cukup keras dan butuh segera dioperasi."
"Jujur saja, aku tidak mengenal gadis itu sama sekali" Jawab Henry dengan malas.
"Ya sudah, ia kini sudah dalam perawatan. Saat ia sadar sebaiknya kau minta ia hubungi keluarganya untuk persetujuan tindakan perawatan lebih lanjut. Sekarang apa rencanamu?" Tanya Adam yang kini sudah berdiri dan mengambil jasnya.
"Entahlah... Malam belum terlalu larut, bagaimana kalau kita ke tempat biasa bro?" Henry kemudian berdiri dan berjalan bersama sahabatnya menuju tempat dimana mereka selalu menghabiskan malam dengan bersenang-senang hingga pagi hari.
.
.
.
Keesokan harinya, gadis tersebut sadar. Ia mencium bau obat dan disinfektan yang cukup menusuk hidung. Perlahan gadis tersebut membuka matanya dan ia melihat plafon berwarna putih dan bersih. Dengan segera ia duduk dan mulai mengamati keadaan disekitarnya.
Saat ia ingin mencoba turun dari ranjang, ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat pada kaki dan kepalanya dan ia pun membatalkan niatnya tersebut.
"Auuu... Ada apa ini? Mengapa kaki dan kepalaku sakit sekali. Dimana aku sekarang?"
Tiba-tiba seorang perawat masuk dan ia pun segera menghampiri gadis tersebut. "Hai, kau sudah sadar ternyata. Bagaimana perasaanmu? Apakah ada yang masih terasa sakit?"
Gadis itu menundukkan kepalanya dan menjawab "Aku baik. Hanya saja mengapa kaki dan kepalaku terasa sakit. Dan dimana aku sekarang? Bagaimana aku bisa sampai ke tempat ini?"
Perawat itu tersenyum "Wajar saja kepala dan kakimu sakit, aku dengar dari perawat yang bertugas semalam kau mengalami kecelakaan dan Bapak Henry yang membawamu ke rumah sakit ini. Ini adalah rumah sakit milik sahabat Bapak Henry."
"Siapa Henry?" tanya gadis itu yang kini mengangkat kepalanya dan menatap perawat yang tersenyum itu.
Saat perawat ingin menjawab pertanyaan gadis tersebut, Henry dan Adam masuk ke dalam ruangan dan menghampiri mereka.
"Siang Dokter Adam, siang Bapak Henry. Pasien baru saja sadar dan kini ia sedang bingung. Selain itu, kondisi tubuhnya sudah lebih baik. Sekarang saya permisi dahulu" Kini perawat itu pun keluar dari ruangan dan menyisakan tiga orang didalamnya.
Gadis itu terdiam menatap dua orang pria yang menurutnya sangat tampan menghampiri dirinya.
"Emmm...."
"Hai, selamat siang, siapa namamu? Perkenalkan aku Dokter Adam. Aku yang merawatmu semalam saat kau datang kemari. Aku lihat kini kau sudah jauh lebih baik daripada semalam." Tanya Adam kepada gadis yang terdiam itu.
"Emmm... Kaki dan kepalaku masih terasa sakit dokter" jawab gadis itu yang kini mulai menundukkan kepalanya kembali.
Dokter Adam pun tersenyum "Kau semalam mengalami kecelakaan. Temanku Henry yang menemukanmu di pinggir jalan dan membawamu kemari. Kakimu terkilir cukup parah jadi untuk beberapa saat kau jangan berjalan dahulu untuk mempercepat proses penyembuhan. Sedangkan kepalamu terluka cukup serius dan perlu tindakan perawatan lebih lanjut. Aku pikir sebaiknya kau menghubungi keluargamu mengenai kondisimu saat ini. Aku yakin mereka pasti sangat khawatir karena kau tidak pulang kerumahmu semalam. Ini, kau bisa menggunakan ponselku dahulu dan hubungi keluargamu.
"Aku... Aku..." Gadis itu terbengong melihat ponsel yang ada ditangan Adam.
"Aku tidak tau keluargaku... Aku bingung..." jawab sang gadis yang sontak membuat Henry dan Adam saling bertatapan keheranan.
"Hei... Apakah kau sedang kabur dari keluargamu?" Tukas Henry dengan segera.
Gadis itupun menggelengkan kepalanya dan berkata "Aku tidak ingat apa-apa. Aku benar-benar bingung"
Seketika Henry langsung menarik Adam keluar ruangan dan berkata "Bagaimana bisa seperti ini? Gadis itu tidak tahu keluarganya."
Dengan santai Adam menjawab "Tampaknya ada gumpalan darah di kepalanya dan menekan syarafnya sehingga ia tidak mengingat apa-apa. Karena ia tidak ingat apa-apa, nampaknya kau sebagai seseorang yang pertama kali menemukannya harus merawatnya sementara dan membantunya mencari keluarganya."
"Aaarrrghhh... Bagimana mungkin aku mau direpotkan untuk hal semacam ini. Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Aku cuma menolongnya dengan dasar kemanusiaan." Henry kini sudah mulai tidak sabar dan ingin segera pulang meninggalkan Adam dan sang gadis.
Adam merasa tingkah sahabatnya sangat lucu dan mulai menertawakanny. "Sudahlah. Terima saja tanggung jawab ini. Lagipula aku perhatikan gadis itu cantik dan mirip dengan Catarina. Anggap saja gadis itu dapat membantumu mengobati rasa kangenmu dengan Catarina. Kekasihmu itu sudah lumayan lama kan tidak bersamamu dan kau pun sudah mulai gila menghadapinya"
Henry menatap tajam wajah sahabatnya "Baiklah, gadis itu ikut denganku. Kapan ia bisa pulang?"
"Besok dia sudah bisa ikut kau pulang. Aku akan menyiapkan obat-obat yang harus dia konsumsi. Oh iya... nampaknya kau perlu mengatur waktu kapan gadis itu dapat melakukan operasi di kepalanya. Jangan terlalu lama, aku takut semakin ditunda akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan nyawanya"
Henry yang masih merasa kesal hanya mengiyakan penjelasan sahabatnya tersebut. Ia kemudian meninggalkan Adam dan masuk ke ruang perawatan sang gadis. "Perkenalkan namaku Henry Keith. Aku yang menolongmu dan membawamu ke rumah sakit ini. Saat ini aku yang bertanggung jawab atas dirimu sampai kau bertemu kembali dengan keluargamu. Besok Adam memperbolehkanmu keluar dari sini dan kau sementara akan tinggal di villaku"
Sang gadis terus menatap Henry sejak Henry masuk. Saat Henry selesai berbicara, gadis itu menganggukan kepala sebagai respon.
Melihat respon gadis itu, Henry kemudian melanjutkan bicaranya, "Karena kau tidak ingat siapa dirimu dan tidak mungkin aku memanggilmu dengan sebutan hey jadi mulai sekarang kau bernama Madeline. Kau pakai nama itu sampai saatnya kau ingat kembali siapa dirimu. Sekarang silahkan kau lanjutkan istirahatmu, aku ingin kembali ke perusahaan. Sampai jumpa besok Madeline"
"Sampai jumpa Bapak Henry"
Mendengar hal itu, Henry berhenti melangkah dan berkata "Panggil aku Henry saja."
"Baiklah" Jawab Madeline dengan suara yang hampir berbisik.