Namaku Madeline

1222 Kata
Sepanjang malam Madeline tidak bisa tidur sama sekali. Ia termenung memikirkan apa yang telah dialaminya, identitasnya dan apa yang harus dia lakukan kedepannya. Ia benar-benar tidak ingat siapa dirinya sama sekali, kini ia merasa seperti cangkang kosong yang tidak berisi. "Siapa aku? Mengapa aku tidak ingat apa-apa" Semakin Madeline berusaha berpikir, kepalanya semakin terasa sakit hingga akhirnya ia memutuskan untuk menerima keadaannya saat ini dengan lapang d**a. "Benar. Aku sekarang Madeline. Namaku sekarang Madeline. Aku akan menggunakan nama yang telah diberikan oleh Henry" Ucapnya dengan penuh keyakinan dan seketika ia merasa jantungnya berdetak kencang. . . . Pagi-pagi Henry sudah datang ke rumah sakit dan menjemput Madeline. Madeline yang melihat Henry sudah datang kemudian berusaha berdiri namun dihentikan oleh Henry mengingat kaki Madeline yang masih sakit. Madeline juga melihat Adam datang dan menghampiri dirinya serta Henry yang terlebih dahulu tiba di hadapan Madeline. "Wah wah wah... Nampaknya ada sudah tidak sabar ingin keluar dari sini. Aku tau tidur disini rasanya tidak enak hahaha..." tawa Adam. Tanpa menghiraukan bercandaan Adam yang menurut Henry tidak lucu sama sekali "Apakah semua sudah siap? Kalau sudah siap ayo kita jalan. Aku harus segera kembali ke perusahaan, ada banyak pekerjaan yang menungguku disana." Adam yang masih tertawa lalu berkata "Semua sudah siap. Ayolah kawan, jangan terlalu serius nanti tidak akan ada wanita yang mau hidup sampai tua denganmu" Kemudian Adam menatap Madeline "Sementara waktu kau harus duduk di kursi roda sampai kakimu benar-benar sembuh. Jangan lupa minum obat dan vitaminmu dengan teratur supaya kau cepat sembuh. Sayang sekali kau tidak ingat namamu, aku jadi bingung memanggilmu." Madeline kemudian tersenyum sambil memandang Henry "Panggil aku Madeline. Kemarin Henry yang memberikan nama itu kepadaku dan aku menyukai nama itu" "Hmmm... Nampaknya hubungan kalian mengalami kemajuan pesat" goda Adam lagi dan dibalas dengan tatapan tajam dari Henry yang tidak suka dengan candaan sahabatnya itu. "Baiklah baiklah, aku tidak kuat dengan tatapan mautmu. Sebaiknya kalian cepat-cepat keluar dari sini. Sampai jumpa lagi Madeline. Semoga kau cepat sembuh" ujar Adam sambil keluar dari ruangan . . . Sepanjang mereka berjalan dari ruangan rawat inap hingga lobby rumah sakit jantung Madeline terasa kembali berdetak kencang apalagi jika ia sedang berada didekat Henry. Ia mengira jantungnya juga mengalami masalah akibat kecelakaan yang dialaminya. "Aduh. Kenapa dengan jantungku. Mengapa detak jantungku kencang sekali." Ucapnya dalam hati. Henry yang menyadari keanehan Madeline, melihatnya lalu berkata "Ada apa? Apakah ada masalah?" Madeline menggelengkan kepalanya. Perawat yang mendorong kursi roda Madeline membantu Madeline masuk ke dalam mobil lalu mengucapkan selamat tinggal kepada Madeline dan Henry. Sepanjang perjalanan, baik Madeline maupun Henry sama-sama terdiam. Madeline hanya memandang pemandangan disepanjang jalan sedangkan Henry yang duduk disebelahnya sibuk membaca dokumen dan tidak menghiraukan Madeline sama sekali. Satu setengah jam kemudian mereka pun tiba di villa milik Henry. Madeline begitu terpukau dengan villanya yang cukup besar dan pemandangan di sekitar villa yang sangat indah. Seorang pelayan muda lalu menghampiri Madeline dan mambantunya duduk di kursi roda. Pelayan tersebut tersipu melihat Henry. Henry yang masih tetap berada di dalam mobil berkata kepada Madeline "Aku harus segera kembali ke perusahaan. Mulai sekarang kau akan tinggal disini." "Baik. Terima kasih. Jam berapa kau akan pulang?" ucap Madeline "Itu urusanku." Kemudian mobil Henri pun meninggalkan villa. Pelayan yang berada dibelakang Madeline kemudian mendorong kursi roda Madeline masuk ke dalam villa dan berkata dengan ketus "Namaku Anna. Hanya aku yang tinggal di villa ini, sedangkan pelayan lainnya cuma datang saat pagi hari dan kembali kerumah mereka masing-masing saat sore hari. Tuan Henry jarang datang kemari, jadi kalau tidak ada Tuan Henry akulah yang berkuasa di villa ini. Meskipun kau dibawa oleh Tuan Henry, kau tetap wajib mendengarkanku. Apa kau mengerti?" Mereka pun tiba di sebuah ruangan yang kini menjadi kamar Madeline. Ruangan tersebut sangat besar dan bernuansa putih. Madeline sangat senang dengan kamarnya saat ini apalagi disana terdapat jendela besar dimana Madeline dapat melihat pandangan taman yang indah. "Ini kamarmu. Kau bisa tidur disini." Ucap Anna yang dengan sangat jelas menunjukkan rasa tidak sukanya kepada Madeline. Anna pun langsung keluar sambil menutup pintu dengan kencang. Madeline yang menyadari rasa tidak suka Anna hanya bisa menghela napas dan ia kemudian melihat pemandangan taman. Sore hari seorang pelayan lain masuk untuk memberikan makanan kepada Madeline. Madeline yang merasa lapar segera memakan makanan tersebut hingga habis dan langsung meminum obat yang diberikan oleh Adam. Seketika Madeline merasa sangan ngantuk dan mulai tertidur hingga keesokan harinya. . . . Pagi harinya Madeline bangun dan mandi, kemudian pelayan masuk mangantarkan sarapan. Madeline sangat ingin sekali keluar menuju taman tapi ia bingung harus meminta tolong kepada siapa. Para pelayan hanya masuk kekamarnya untuk mengantarkan makanan saja, akhirnya Madeline memendam keinginannya tersebut dan hanya cukup puas melihat taman dari jendela kamar. Madeline penasaran apakah Henry semalam kembali ke villa atau tidak. Ia penasaran apakah hari ini ia dapat bertemu dengan Henry. Tanpa Madeline sadari ia sudah mulai menyukai Henry walaupun mereka baru saja bertemu dan interaksi diantara mereka pun sangat jarang. Madeline merasa nyaman berada didekat Henry, seolah-olah ia sangat familiar dengan Henry. Sudah 1 minggu Madeline berada di villa milik Henry dan selama itu pula ia hanya berada didalam kamar terus dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan Henry sebab Henry memang tidak pernah kembali ke villa semenjak ia mengantarkan Madeline ke villa. Madeline kemudian mendengar suara pintu terbuka. Ternyata Henry dan Adam yang masuk dan menghampiri Madeline. "Hai Madeline, aku datang ingin memeriksamu. Bagaimana keadaanmu? Apakah masih ada yang terasa tidak nyaman?" tanya Adam. "Aku baik dokter..." "Husshhh... Panggil aku Adam saja. Jangan terlalu formal" potong Adam. "Aku baik Adam" jawab Madeline tersipu. Henry yang melihat interaksi antara Madeline dengan Adam merasa kesal "Kalau kau cuma ingin berbincang saja sebaiknya kau pulang saja, jangan membuang waktuku" Adam langsung mengeluarkan peralatan dokternya "Kawan... Sudah kubilang jangan terlalu serius. Aku hanya berusaha ramah kepada pasienku saja, mengapa kau yang tidak senang" Beberapa saat kemudian Adam selesai memeriksa Madeline. "Kakimu sudah sembuh, kau sudah bisa berjalan akan tetapi saranku usahakan kau tidak berlari dahulu. Aku senang kau juga sudah tidak merasakan sakit kepala lagi, jika tiba-tiba kau merasa sakit kau dapat meminum obat yang telah kuberikan." Madeline mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Adam. Saat Adam dan Henry akan keluar kamar, Madeline memanggil Henry "Hmm... Henry, apakah aku boleh keluar kamar dan berjalan di taman?" Henry hanya mengangguk dan langsung keluar kamar dan menuju ruang kerjanya bersama Adam. "Apakah kau sudah melakukan penyelidikan mengenai Madeline? Aku kasihan kepada keluarganya. Pasti mereka sangat khawatir dan mencari Madeline kemana-mana apalagi menurutku usia Madeline sepertinya masih dibawah 20 tahun" tanya Adam yang penasaran apa rencana Henry kepada Madeline kedepannya. Adam yang mendengar pertanyaan Adam mengernyitkan dahinya lalu berkata "Sejak kapan kau mulai ikut campur urusan orang. Kau itu tipe orang tidak perduli dengan urusan pribadi orang lain. Apakah kau tertarik dengan Madeline? Aku pikir Madeline bukan gadis yang cocok untukmu. Kita bahkan tidak tau siapa dia dan bagaimana latar belakang keluarganya. Bagaimana ternyata ia bukan gadis baik-baik." "Heh... Kau bahkan tidak mencari tau tentang Madeline bagaimana kau bisa yakin kalau dia bukan gadis baik-baik" jawab Adam. Lantas Henry pun menimpali "Mana ada gadis baik-baik berkeliaran di hutan. Sudahlah daripada membahas gadis tidak penting itu lebih baik kita bersenang-senang." "Kalau ini aku sangat setuju hahaha." Adam lalu merangkul pundak Hendry keluar dari ruang kerja dan berangkat ke tempat dimana mereka selalu bersenang-senang dengan minuman dan wanita cantik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN