Kehilangan Sesuatu Yang Berharga

1061 Kata
Henry dan Adam tiba di bar langganan mereka dan langsung menuju ruang VIP tempat biasa mereka tempati. Di dalam ruang VIP yang sangat besar terdapat sebuah kamar yang memang khusus dipersiapkan bagi para pelanggan yang langsung ingin menyalurkan hasrat birahi meraka. Biasanya Adam yang selalu memakai ruangan kamar sedangkan Henry lebih suka menyewa kamar hotel. Manager bar yang mengetahui kedatangan Henry dan Adam segera masuk ke ruang VIP sambil membawa beberapa wanita sesuai dengan tipe kesukaan Henry dan Adam. "Selamat datang tuan, saya bawakan beberapa wanita yang saya yakin anda berdua pasti akan suka." Adam yang melihat para wanita tersebut merasa puas dan segera menyuruh sang manager segera keluar. "Kemarilah wanita cantik, layani aku dan temanku ini. Buat temanku senang, saat ini ia sedang tidak bahagia hahaha." Beberapa wanita itu pun menghampiri Henry dan berusaha meggodanya. Akan tetapi Henry sepertinya tidak tertarik dengan para wanita itu dan terus meminum minumnya. Henry saat ini hanya memikirkan kekasihnya yang entah mengapa selalu menolak lamarannya untuk menikah dengan alasan tidak ingin menikah muda padahal usia kekasihnya saat ini sudah menginjak umur 23 tahun dan Henry sudah berusia 30 tahun. Dua jam kemudian Henry berdiri dan ingin pulang "Adam, kau bersenang-senang saja. Aku ingin pulang dahulu, besok pagi ada meeting penting di perusahaan." Henry pun lalu keluar bar dan entah mengapa ia sangat ingin kembali ke villa yang ditempati oleh Madeline. Setibanya di villa, Henry yang setengah mabuk secara tidak sadar masuk ke kamar Madeline dan ia secara samar seolah melihat kekasihnya sedang tidur di ranjang. Henry segera berjalan menuju ranjang sambil melepaskan jas, dasi dan ikat pinggangnya. Madeline yang merasa ada seseorang di kamarnya lalu terbangun dan melihat Henry datang kearahnya dengan langkah gontai. "Malam Henry, ada apa kau datang kemari? Ada yang bisa aku bantu?" Henry yang sudah mulai tidak sadar dengan keadaan disekitarnya hanya memandang Madeline yang ia kira adalah kekasihnya. Ia lalu memandang Madeline dan mengelus pipi halusnya. Seketika Henry tiba-tiba mencium Madeline dengan penuh hasrat dimana hal itu membuat Madeline kaget dan merasa senang. Madeline yang terbawa suasana tanpa sadar membuka mulutnya dan hal itu langsung membuat Henry memasukkan lidahnya ke dalam mulut Madeline lebih dalam. Henry kemudian mendengar desahan Madeline mulai menyentuh dan meremas p******a Madeline yang kenyal. Perlahan tapi pasti Henry membuka baju Madeline hingga menyisakan bra dan pakaian dalam. Henry yang melihat keindahan tubuh Madeline langsung melepaskan seluruh pakaiannya setelah itu ia melepaskan seluruh pakaian dalam Madeline kemudian dengan ganas melahap kedua p******a Madeline bergantian. Madeline yang baru pertama kali merasakan hal tersebut hanya bisa terus mendesah sambil meremas rambut Henry. Henry yang sudah terbakar birahi menurunkan tangannya menuju bagian sensitif Madeline lalu memasukkan jarinya kedalam bagian sensitifnya. Madeline terus mendesah keenakan. Mendapat lampu hijau dari Madeline, Henry lalu memposisikan miliknya yang sudah berdiri dengan sangat tegak ke depan lubang inti dan mulai memasukkan miliknya. "Ooowwhhhh... Sempit sekali... " Racau Henry. Henry terus memasukkan miliknya tanpa memperdulikan Madeline dibawahnya yang sudah merasa kesakitan. Tak lama kemudian akhirnya milik Henry sudah masuk ke dalam milik Madeline dan Henry terus mempompanya dengan cepat. Madeline terus berteriak dan mendesah dengan keras. "Aaarggghhh... Sakit Henry... Tolong pelan sedikit" isak Madeline memohon. Akan tetapi kesadaran Henry sudah tidak ada, yang tersisa hanya nafsu dan birahi yang harus segera ia salurkan terhadap gadis yang berada di bawah tubuhnya. Henry merasa birahinya naik berkali lipat dari biasanya saat milikny dijepit oleh milik Madeline yang sempit. "Kau benar-benar menjepitku sangat erat..." Henry terus menerus memompa dengan cepat sambil mencium dan mengulum p******a Madeline. Madeline terus menerus berteriak dan meminta agar Henry dapat bergerak lebih pelan. "Akh! Ah... Hmm..." Tubuh Madeline terus tersentak akibat gerakam kasar Henry. Henry yang mendengar desahan Madeline menjadi semakin bersemangat dan bergerak lebih cepat lagi. nafasnya menjadi berat saat ia tenggelam dalam kenikmatan. Madeline mendesah keras saat orgasmenya datang. Cairan o*****e Madeline membuat Henry memasukinya semakin cepat dan dalam. Henry terus memompanya tanpa henti. Waktu terus bergulir, Henry kemudian memejamkan matanya dan mengerang, kemudian dengan satu dorongan kuat megeluarkan cairan putih ke dalam tubuh Madeline. Madeline berbaring lemas dan kelelahan, sementara Henry mengatur napasnya yang berat. Ia kemudian mengeluarkan miliknya yang sudah bercampur dengan cairan dan darah perawan milik Madeline. Henry yang masih belum merasa puas kemudian membalikkan tubuh Madeline dan mulai memasukkinya kembali lalu mempompanya dengan kencang. Entah berapa lama Henry terus memompa tubuh Madeline, ia merasa tidak cukup sama sekali dan ingin terus melakukannya. Madeline yang sudah sangat kelelahan kemudian pingsan dan membiarkan Henry menjarah tubuhnya. . . . Keesokannya Henry bangun dengan kepala berat dan entah mengapa ia merasa moodnya lebih baik. Madeline yang merasakan ada gerakan disampingnya juga ikut terbangun lalu menatap Henry. "Pagi." Ucap Henry sambil berjalan menuju kamar mandi. Di bawah guyuran air, Henry berusaha mengingat kejadian semalam. Ia seperti melihat kekasihnya dalam diri Madeline. "Hmmm... Sepertinya saran Adam tidak ada salahnya. Ia dapat kugunakan untuk melepaskan stress, lagipula ia bersih tidak seperti wanita yang berkerja di bar." Tak lama kemudian Henry keluar dengan hanya menggunakan handuk yang dililitkan dipinggangnya yang six pack. "Kau bersihkan dirimu dahulu, setelah itu temui aku di ruang kerja. Kita perlu berbicara." Setelah mandi dan memersihkan diri, Madeline menuju ruang kerja dengan perasaan gundah. Ia takut Henry akan berpikir bahwa Madeline yang mengodanya semalam. Tok... Tok... "Masuk dan duduk disana." "Aku rasa kau sadar apa yang telah terjadi semalam. Anggap saja hal itu sebagai balas budimu karena aku telah menolong dan menampungmu. Mulai saat ini kau harus selalu siap saat aku menginginkan tubuhmu di villa ini kapanpun. Apa kau keberatan?" Ucap Henry sambil menyalan rokoknya. Madeline yang semakin gugup menjawab bahwa ia tidak keberatan sama sekali dan akan siap kapanpun Henry menginginkannya. Henry yang merasa puas dengan respon Madeline kemudian berkata lagi, "Satu hal lagi, aku tidak akan pernah menggunakan perasaan saat berhubungan s*x denganmu karena aku sudah mempunyai seseorang yang kucintai. Kau hanya alat pemuas nafsuku saja, mengerti?" "Aku mengerti." jawab Madeline. "Baguslah kalau kau mengerti." Henry merasa tubuhnya bereaksi segera memerintahkan Madeline melepaskan seluruh pakaiannya. "Kalau kau mengerti, aku ingin kau melepaskan seluruh pakaianmu sekarang." Madeline yang terkejut hanya bisa menuruti kemauan Henry. Henry berjalan menuju Madeline lalu mendorong Madeline ke arah sofa kemudian menindihnya dan melanjutkan kegiatan yang mereka lakukan semalam. Henry terus menerus menggarap tubuh Madeline dengan kasar dan buas. Ia terus menerus memompa tubuh Madeline dengan kencang dan mempermainkan tubuh Madeline sesuai keinginannya. Madeline hanya bisa pasrah karena ia sebenarnya sudah jatuh cinta dengan Henry.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN