Kembalinya Sang Kekasih

1001 Kata
Tak terasa sudah satu tahun Madeline tinggal di villa milik Henry. Selama itu pula ia tidak pernah menginjakkan dirinya di luar villa karena Henry melarangnya. Henry tidak tinggal bersama Madeline dan hanya datang sesekali saja. Perasaan Madeline terhadap Henry juga semakin dalam, ia merasa Henry adalah nafas dan jiwanya apabila Henry tidak ada dalam hidupnya maka ia sudah pasti akan mati. Demi rasa cintanya, ia juga rela menjadi tempat pelampiasan nafsu apabila Henry sedang kesal atau stress. Setiap hari yang dilakukan Madeline adalah duduk di depan jendela ruang kerja Henry yang menghadap pintu utama sehingga jika Henry datang mengunjunginya ia dapat segera tahu dan menyambutnya dengan senyuman manis. Akhirnya penantian Madeline selama beberapa hari ini terwujud, ia melihat mobil mewah Henry masuk. Sontak Madeline berdiri dan berlari ke pintu utama dengan senyumnya yang manis. "Selamat datang Henry, aku menunggumu. Apakah kau sudah makan? Kalau belum, kau mandilah dahulu dan aku akan memasak makan malam untukmu dan kita akan makan bersama." Dengan wajah tampannya yang tanpa ekspresi, Henry menuju sofa dan berkata, "Aku sudah makan. Kau kemari." Madeline menghampiri Henry dan duduk disebelahnya. Tiba-tiba ia melihat Henry mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya. Madeline berpikir apakah Henry akan melamarnya. Sontak wajahnya bersemu merah dan jantungnya berdetak kencang, ia bahagia akhirnya Henry telah membalas perasaannya dan memintanya untuk menjadi istrinya. "Coba pakai." Henry mengeluarkan cincin tersebut dan memasang ke jari Madeline. "Hmmm... Sudah kuduga ini cocok." Kemudian Henry melepaskan cincin tersebut dan meletakannya kembali ke dalam kotak. Melihat wajah kebingungan Madeline, Henry berkata "Apa kau pikir ini untukmu? Sebaiknya jangan bermimpi. Ini untuk kekasihku, ia akan kembali minggu depan dan aku akan melamarnya kembali. Saat ia sudah menerima lamaranku, aku harap kau pergi dan jangan bertemu lagi." Madeline begitu shock mendengar perkataan Henry. Ia merasa hatinya sangat sakit seolah ditusuk dengan ribuan jarum sekaligus. "Bisakah aku tetap bersamamu?" ucap Madeline terisak "Kau tau aku tidak punya siapa-siapa, hanya kau. Kau adalah hidupku, kalau aku tidak bersamamu aku akan mati. Aku benar-benar tidak bisa hidup apabila tidak bertemu denganmu." "Itu bukan urusanku. Satu tahun sudah cukup, jika kau ingin mati itu lebih baik karena sudah pasti kita tidak akan bertemu." Kemudian Henry melepaskan seluruh pakaian Madeline dan melakukan hubungan s*x dengan kasar sepanjang malam seperti biasa. Keesokannya Madeline tidak melihat Henry. Ia berharap Henry tidak serius dengan ucapannya. . . . Di Bandara seorang wanita cantik muncul dan berlari menghampiri Henry kemudian memeluk dan menciumnya. Ia adalah Catarina yang telah kembali ke negaranya. "Aku kangen padamu sayang. Apakah kau juga merasakan hal yang sama?" ucap Catarina dengan genit. Henry mengelus wajah Catarina dan menatapnya dengan lembut. "Tentu saja. Kau tak bisa membayangkan bertapa aku sangat tersiksa berjauhan denganmu. Aku harap ini yang terakhir kalinya kita berpisah sayang." Catarina merasa bahagia mendengar jawaban Henry. Ia pun semakin erat memeluk Henry. "Sayang, apakah kau sudah menyiapkan tempat tinggal untukku? Aku lelah dan ingin segera beristirahat supaya nanti malam aku memiliki tenaga untuk menyenangkanmu." "Hahaha tentu saja sayang, aku sudah menyiapkan yang terbaik untukmu dan aku sangat menantikan nanti malam." Henry pun kembali mencium dan melumat bibir Catarina. Empat puluh lima menit kemudian mereka sampai di sebuah gedung apartemen mewah di pusat kota. Henry memberi Catarina satu unit penthouse dan menyewa desain interior ternama untuk mendesain penthouse tersebut agar sesuai dengan selera sang kekasih tercinta. "Kau istirahat dahulu, aku harus segera kembali ke perusahaan. Nanti malam akan ku jemput untuk makan malam." "Baiklah sayang. Hati-hati di jalan." Catarina lalu memberikan ciuman untuk Henry. Malam hari Henry datang ke apartemen menjemput Catarina, mereka menuju ke sebuah restoran ternama yang telah di booking oleh Henry. Catarina yang mengenakan long dress bahu terbuka berwarna hitam dengan dandanan yang cantik terlihat sangat sexy dan menarik di mata Henry. "Kau sangat cantik." Catarina tersipu malu dan langsung menggandeng Henry menuju mobil mewah Henry. Sesampainya di restoran, Catarina sangat terkejut dengan suasana restoran. Ternyata Henry menyulap restoran tersebut menjadi lebih romantis dengan dekorasi lilin dan bunga yang cantik di seluruh restoran. "Semua yang terbaik hanya untukmu." Kemudian Henry mengeluarkan cincin dan berkata, "Aku harap kali ini kau menerima lamaranku. Aku rela berkorban dan memberikan yang terbaik serta akan selalu manjakanmu. Will you marry me?" Catarina mengangguk dan memberikan jarinya. Saat Henry mengenakan cincin di jari Catarina ternyata cincin tersebut tidak muat. Catarina yang dengan kecewa berkata, "Nampaknya kau harus memperbaiki cincin ini. Tenang saja, aku akan tetap menerima lamaranmu." "Terima kasih sayang. Sungguh aku tidak tahu kenapa cincin ini tidak muat di jarimu. Aku akan memberikan cincin baru yang lebih indah daripada ini kepadamu." ucap Henry dengan gugup. "Baik sayang. Mari kita makan dahulu. Ingat malam ini aku akan menyenangkanmu, jadi semakin cepat kita makan maka akan semakin baik." "Tentu sayang, aku sudah tidak sabar." Henry pun menggandeng tangan Catarina menuju meja makan. Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke apartemen. "Duduklah di sini dulu." Catarina berbalik menuju kamar lalu mengganti pakaiannya dengan lingerie transparan lalu keluar. Henry menelan ludah saat melihat kekasihnya keluar kamar, ia menghampiri Catarina mendekapnya dan menciumnya dengan nafsu. Catarina membalas ciuman panas Henry, saat ia mulai kehabisan nafas, Henry menghentikan ciumannya lalu menggendong Catarina ke kamar. Di dalam kamar Henry meletakan Catarina di atas ranjang dengan lembut dan ia segera melepaskan seluruh pakaiannya. "Aku sangat merindukan tubuhmu." Catarina menatap nakal. "Malam ini aku milikmu sayang." Ciuman, sentuhan dan dorongan kejantanan Henry kepada tubuh Catarina sangat lembut seolah ia takut menyakiti kekasihnya. Hal itu sangat berbeda ketika ia berhubungan s*x dengan Madeline. Meskipun begitu, Henry merasa malam ini cukup hanya sekali berhubungan s*x dengan Catarina, jika dengan Madeline, ia dapat melakukannya berkali-kali dalam satu malam. "Sial!!!! Mengapa aku tiba-tiba teringat gadis jalang itu. Sebaiknya aku harus segera menyuruhnya pergi agar tidak mengganggu pikiranku. Yang pantas bersamaku hanya Catarina saja" ucap Henry dalam hati sambil memandangi wajah kekasihnya yang terlebih dahulu terlelap. Henry berdiri lalu berjalan keluar kamar untuk merokok, besok ia berencana akan meminta Madeline untuk pergi. Setelahnya villa itu akan direnovasi ulang dan ia akan memberikannya untuk Catarina. Henry pun kembali ke kamar lalu berbaring sambil memeluk Catarina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN