Percaya Akan Menjemputnya

1001 Kata
Henry terjaga semalaman meski ia berbaring dengan Catarina di dalam pelukannya, tanpa ia sadari ia merasa hampa, entah apa yang membuatnya merasa tidak nyaman. Waktu kini menunjukkan pukul 07.00, Henry berdiri dan mulai mandi. Ia bersiap-siap menuju villa untuk mulai menjalankan rencananya. Setelah Henry sudah pergi, tak lama kemudian Catarina terbangun dan menyadari bahwa Henry sudah tidak ada diapartemennya. Catarina memgambil HP miliknya dan menelpon ibunya. "Halo ibu, maaf baru menghubungimu. Semalaman aku bersama Henry jadi tidak bisa menghubungimu." "Halo Catarina, tidak apa. Hmmm... Nampaknya hubungan kalian semakin erat. Itu sangat bagus." "Iya bu, daripada aku menunggu Brandon yang tidak memperdulikanku sama sekali, lebih baik aku bersama Henry. Lagipula Henry juga sama kaya raya dan berkuasa seperti Brandon." "Syukurlah kau sudah menjatuhkan pilihan. Aku tidak perduli apakah kau bersama Brandon atau Henry, yang pasti kau harus mendapatkan salah satunya agar hidup kita terjamin." "Aku mengerti bu. Sudah dulu yah, aku ingin mandi dulu, nanti kita bicara lagi. Bye bu." Sebenarnya Catarina mencintai Brandon, ia selalu menolak lamaran Henry karena ia terus mengejar cinta Brandon. Jika saja perusahaan peninggalan ayahnya tidak mengalami kesulitan, Catarina akan terus mengejar Brandon. Baginya Henry hanya pasangan cadangan, ia beruntung Henry terus mencintai dan menunggunya. . . . Madeline yang sedang membuat sarapan mendengar suara mobil Henry, ia lalu menghentikan kegiatannya dan menyambut Henry. "Selamat datang Henry, aku sedang membuat sarapan. Apa kau ingin sarapan bersama?" "Hmmm... Panggil aku kalau sarapannya sudah siap." Henry terus berlalu melewati Madeline menuju ruang kerja. Tok... Tok... "Henry, sarapannya sudah siap" "Ok" Lalu mereka berdua menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Selama sarapan, mereka berdua sama-sama terdiam, hanya sibuk memakan makanan yang ada di depannya. "Ada hal penting," ucap Henry saat ia telah selesai menghabiskan sarapannya. "Aku minta kau segera pergi dan menghilang dari kehidupanku. Aku tidak mau nantinya kehidupan pernikahanku dengan Catarina akan terganggu jika kau masih ada didekatku." Wajah Madeline seketika memucat. Ia tidak percaya bahwa Henry benar-benar membuangnya. "A..a..aku..." "Cukup!" Henry seketika memotong ucapan Madeline. "Ku kira kau tidak perlu berbicara apapun dan perkataanku sudah sangat jelas! Aku pun tidak perlu memberikan kompensasi apa-apa, karena selama ini kau pun sudah tinggal dan makan menggunakan uangku setiap hari." "Tapi aku tidak sanggup meninggalkanmu. Kau adalah hidupku Henry." ucap Madeline yang mulai terisak. "Apa kau tidak merasakan perasaan apapun saat kita melakukan hubungan itu? Aku tulus mencintaimu." "Dengarkan aku wanita jalang!" jari Henry mengepal dengan kuat, ia berusaha tetap sabar. "Pertama, Aku menampungmu hidup disini dan semua itu tidak gratis. Kau hanya perlu membayar dengan tubuhmu. Kau tidak ada bedanya dengan wanita p*****r di luar sana. Yang membedakan, wanita p*****r dibayar dengan uang sedangkan kau dibayar dengan tempat tinggal dan makan setiap hari." "Kedua. Perasaan???!!!! Dari awal sudah kukatakan aku tidak akan pernah menggunakan perasaan karena wanita yang aku cintai hanyalah Caroline. Kau sangat naif apabila berpikir aku akan mencintaimu hanya dengan berhubungan badan. Aku tegaskan tidak ada perasaan sama sekali!!! Tubuhmu hanya alat pembayaran untuk tempat tinggal dan makananmu, aku tertarik dengan tubuhmu karena aku butuh sebuah alat pemuas nafsu." "Ketiga dan yang penting. Pergi dan jangan muncul lagi di hadapanku!!!!" Henry berdiri dan keluar menuju mobil mewahnya meninggalkan Madeline yang masih shock. Madeline menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan menangis dengan keras. Anna yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka menghampiri Madeline dan menarik tangan Madeline dengan kasar. "Hei wanita jalang, kau sudah dengar kan perkataan Tuan Henry untuk segera pergi dari sini." Anna terus menarik tangan Madeline dengan kasar. "Cepat pergi!!! Jangan sampai aku melaporkan ke Tuan Henry kalau kau tidak mau pergi." Begitu sampai di pintu utama, Anna mendorong Madeline dengan kuat hingga ia terjatuh dan Anna segera mengunci pintu. Madeline hanya bisa terus menangis. Ia tidak tau harus pergi kemana dan hanya berjalan keluar area villa dengan kepala tertunduk. Sesungguhnya Madeline tidak tau kehidupan di luar villa, ia sudah satu tahun kehilangan ingatannya, ia tidak kenal siapapun dan tidak tau situasi di lingkungan luar. Ia bingung bagaimana cara bertahan hidup di luar villa. Tak terasa sudah tiga jam Madeline terus berjalan, ia tidak memperdulikan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. Madeline kemudian duduk di halte bus, "Aku tidak boleh terus menangis. Aku yakin Henry pasti akan mencariku, Henry pasti juga membutuhkanku dihidupnya. Aku harus mencari uang sambil menunggu Henry." Tekad Madeline sudah bulat, ia akan menunggu Henry mencarinya membuat Madeline berjalan kembali ke arah villa dan mencari pekerjaan sementara sambil menunggu kedatangan Henry. Baru lima menit berjalan, Madeline dikagetkan dengan suara klakson mobil dibelakangnya. Ia mengira itu suara klakson mobil Henry. Saat ia membalikkan tubuhnya, ia melihat sebuah mobil mewah yang tidak dikenalinya. Ternyata itu adalah mobil milik Adam yang kebetulan lewat. "Madeline, kenapa kau ada disini? Mana Henry?" Tanya Adam. "Adam... Maaf aku tidak mengenali mobilmu. Aku sendirian." ucap Madeline. Adam lalu turun dari mobil dan menghampiri Madeline. "Hey ada apa denganmu? Kau sakit? Wajahmu pucat sekali. Kalau kau sakit, harusnya kau minta Henry mengantarmu ke klinik untuk fi periksa bukannya jalan keluar tidak jelas seperti ini." Mata Madeline mulai memanas, ia merasa ingin menangis. Adam yang melihat ekspresi tidak biasa dari Madeline mulai khawatir. "Ada apa? Ayo masuk ke mobil dulu, kita cari tempat untuk bicara." Madeline pun masuk ke dalam mobil dan mulai memakai seatbelt. Adam membawa Madeline ke sebuah restoran Chinese dan memesan ruang VIP. "Silahkan kau pesan apapun yang kau suka." Adam lalu menginstruksikan pelayan untuk memberikan buku menu ke Madeline. "Kau saja yang pesan. Aku bisa makan apapun." Tolak Madeline. Adam memesan beberapa menu makanan, setelahnya ia melihat Madeline dan menunggu Madeline bercerita. Madeline lalu menceritakan seluruh kejadian tadi pagi di villa. Adam sebenarnya tidak kaget dengan sikap Henry, ia sangat mengenal sifat sahabatnya itu. Adam justru sangat kasihan kepada Madeline, ia menganggap Madeline seperti sebuah cangkang tanpa isi. "Lalu apa rencanamu sekarang?" "Aku akan mencari pekerjaan dan menunggu Henry menjemputku." ucap Madeline dengan sangat yakin. Adam yang mendengar jawaban Madeline tersebut hanya bisa mendesah pelan. Ia iri dengan Henry karena mempunyai seorang wanita yang benar-benar tulus mencintainya walau wanita itu tau kalau dirinya hanya dijadikan alat pemuas nafsu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN