Hamil

1104 Kata
Selesai makan, Adam ingin membantu Madeline mencari tempat tinggal dan pekerjaan tetapi ditolak oleh Madeline dengan alasan kalau Henry akan salah paham. Adam pun mengalah. Setiap tempat yang Madeline datangi menolaknya dengan alasan jika ia tidak memiliki kartu identitas, tetapi Madeline tidak putus asa ia yakin ada tempat yang akan bisa menerimanya bekerja. Matahari telah sepenuhnya terbenam, Madeline memutuskan untuk mencari tempat beristirahat, namun nampaknya hari ini bukan hari yang baik buat Madeline. Ia memungut beberapa kardus bekas dan menuju kursi taman. "Sementara aku tidur disini dulu. Semoga besok aku beruntung." . . . Sementara di villa Henry nampak sibuk, ia memerintahkan Brandon asistennya untuk merombak interior desain dan membuang semua barang yang ada sebelumnya, Henry tidak ingin ada jejak Madeline di dalam villa. Kinerja Brandon dalam bekerja sangat efisien, hanya dalam 3 jam villa milik Henry sudah berubah sepenuhnya. Brandon meneleponya untuk memberikan laporan, "Malam Tuan Henry, interior villa telah selesai diganti semua." "Good job." puji Henry. Henry menutup teleponnya lalu segera menelepon Catalina. "Hai sayang, bagaimana istirahatmu. Kau sudah makan malam?" "Henry sayang, aku sudah makan malam. Apa kau akan kemari malam ini, aku sudah rindu padamu, rasanya aku tidak akan bisa tidur jika tidak kau peluk." ucap Catalina. "Baiklah, aku segera ketempatmu." Henry segera keluar dari ruangannya menuju parkiran mobil dan bergegas ke apartemen Catalina. Tak butuh waktu lama, Henry tiba. Ia langsung menghampiri dan mencium Catalina sedang duduk di sofa sambil menonton TV. "Kau makan dahulu, aku yakin kau belum makan malam, Aku sudah meminta pelayan menyiapkan makan malam untukmu." Henry memakan makan malamnya ditemani Catalina yang duduk disebelahnya sambil sibuk memainkan HP-nya. Selesai Henry makan, Catalina langsung duduk dipangkuan Henry dan menggelayutkan tangannya di leher Henry. Ia berbisik sensual di telinga Henry, "Sayang, kau ingin makanan penutup?" Henry segera menggendong Catalina ke dalam kamar dan menikmati "makan malam". Satu jam kemudian Henry bangun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di bawah guyuran air, Henry berpikir mengapa ia tidak terlalu menikmati saat berhubungan intim dengan Catalina, sangat berbeda apabila ia berhubungan dengan Madeline. Dengan Madeline, ia selalu merasa tidak pernah cukup bermain tiga kali, ia mampu bermain sepanjang hari dengannya. " Sial!!!!! Kenapa tiba-tiba aku teringat wanita jalang itu!" Henry segera menyelesaikan mandinya, mengeringkan tubuhnya dan menuju ke ranjang tanpa berpakaian terlebih dahulu. Paginya Henry bangun terlebih dahulu, ia mengenakan pakaian kerjanya dan berangkat ke kantor. Ia tau Catalina tidak akan menyiapkan sarapan, oleh karena itu ia tidak menunggu Catalina bangun. Saat jam makan siang Henry menerima telepon Adam yang ingin mengajaknya makan siang bersama. "Halo Henry, ayo kita bertemu. Kita makan siang bersama, sudah lama kita tidak berbincang." "Baik, aku berangkat sekarang." Sesampainya di reatoran, Henry menuju ruang VIP, di sana sudah ada Adam yang menunggunya. "Mari kita makan," ucap Adam saat Henry memasuki ruangan. "Kemarin aku bertemu Madeline di jalan, aku kasihan kepadanya, nampaknya ia tidak mempunyai tempat tujuan saat kau mengusirnya," Adam berkata kepada Henry yang telah duduk didepannya. "Aku kasihan padanya, entah bagaimana ia sekarang. Seharusnya kau memberikannya sebuah tempat tinggal sederhana dan pekerjaan sebelum mengusirnya." "Itu urusanku," tanggap Henry dengan dingin. "Aku juga sudah bertanggung jawab menampung dan memberinya makan satu tahun ini. Sekarang aku hanya ingin hidup dengan satu wanita saja, makanya aku mengusir Madeline." "Tapi kau juga selalu menidurinya kan!" tegas Adam. "Setidaknya gunakan sedikit rasa kemanusiaanmu, Madeline tidak akan dapat bertahan hidup di luar sana." Henry memandang Adam dengan sinis. "Aku menggunakannya untuk mengobati rasa kangenku kepada Catalina, wajar saja aku menidurinya karena aku menganggap sedang meniduri Catalina. Bukankah itu saranmu untuk menggunakan wanita itu sebagai obat kangen." Adam menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka pola pikir Henry sangat sempit. "Tapi aku tidak memberi saran untuk terus menerus menidurinya, kau tidak berpikir bahwa ia akan hamil? Jika ia sampai , apa kau akan bertanggung jawab?" "Hahahaha..." tawa Henry memenuhi ruangan, ia merasa lucu dengan ucapan Adam. "Jika ia hamil tinggal gugurkan saja, aku hanya akan menikahi Catalina." "Aku harap kau jangan sampai menyesal Henry." "Aku hanya menyesal jika tidak dapat menikahi Catalina." Mereka pun melanjutkan makan siang mereka lalu kembali ke tempat kerja masing-masing. Sepanjang jalan menuju perusahaan, Henry meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia tidak akan menyesal sama sekali. . . . Hari ini Madeline juga tidak menemukan pekerjaan sama sekali. Ia duduk kelelahan di depan minimarket, tidak sengaja ia melihat seorang ibu tua kesulitan membawa satu karung yang berisi botol bekas. Madeline menghampiri ibu tersebut dan membawakan karung tersebut. "Biar aku bantu," Madeline langsung mengambil karung dari ibu tersebut. "Ibu mau membawa karung ini kemana, biar saya bantu bawa sampai tempat tujuan." "Terima kasih nak, jarang ada anak muda yang baik sepertimu" Ibu itu lalu tersenyum. "Ayo bantu aku bawa botol-botol ini kesana untuk dijual." Madeline baru tahu bahwa botol bekas dapat dijual, ia berpikir daripada ia susah payah mencari pekerjaan lebih baik ia mencari botol bekas untuk dijual lalu uang hasil jualan tersebut dapat ia gunakan untuk menyewa tempat tinggal. Sudah satu minggu Madeline terus mengumpulkan botol bekas dan ia juga sudah mengumpulkan sedikit uang. Ia kini tinggal dengan Ibu Hanna yang kemarin ia bantu. Madeline masih terus berharap Henry akan mencarinya. Saat Madeline membereskan botol yang dikumpulkannya dengan Ibu Hanna, ia tiba-tiba merasa pusing dan pingsan. Ibu Hanna panik dan memanggil tetangga sekitar untuk membantu membawa Madeline ke klinik kecil setempat. Dokter yang memeriksa Madeline mengatakan ke Ibu Hanna bahwa Madeline sedang hamil dua minggu. Melihat Madeline telah sadar dari pingsannya, Ibu Hanna langsung memegang tangan Madeline dan menjelaskan dengan bahagia bahwa Madeline telah hamil dua minggu dan ia harus beristirahat sampai esok hari. Mendengar kabar tersebut, Madeline sangat bahagia dan ia tidak sabar untuk memberitahukannya kepada Henry. Ia yakin Henry akan bahagia mendengar kabar kehamilannya. Madeline berencana akan mencari Henry keesokan harinya, ia tidak dapat menunggu Henry untuk mencarinya. Henry harus segera tahu kabar kehamilannya. Pagi-pagi sekali Madeline mencoba mencari Henry di villa, ia terus mengetuk pintu utama tetapi tidak ada yang membukakan pintu. "Apa Anna atau Henry tidak ada," gumam Madeline. Madeline ingin mencoba mencari Adam tetapi ia tidak ingat dimana letak klinik Adam. Madeline terus mencoba peruntungannya mencari di area sekitar restoran tempat terakhir ia bertemu Adam. Tidak sia-sia Madeline mencari di dekat sana, ia melihat Adam yang baru saja keluar dari mobilnya. Sambil berlari Madeline berteriak memanggil Adam. "Adam!!! Tunggu!!!!" Adam menoleh dan melihat Madeline yang berlari kearahnya. "Madeline, akhirnya kita bertemu lagi. Bagaimana keadaanmu?" "Adam, aku ingin minta bantuanmu," ucap Madeline dengan nafas tersengal-sengal. "Kau ingin minta bantuan apa. Aku akan membantumu." "Tolong pertemukan aku dengan Henry, aku ingin memberitahu kalau aku sedang hamil." Adam terkejut dengan ucapan Madeline, "Hamil??!!!! Baiknya kita bicara di dalam saja." Kemudian Adam dan Madeline masuk ke restoran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN