"Adam, aku hamil anak Henry. Usia kehamilanku sudah dua minggu. Henry harus tau kabar baik ini, aku yakin ia akan bahagia mendengarnya," ucap Madeline tersenyum lembut.
Wajah Adam memucat. Ia tau Henry tidak akan pernah menerima kehamilan Madeline, tetapi ia tidak tega mberitahukan hal tersebut kepadanya. "Selamat kau akan menjadi ibu. Kau yakin ingin memberitahukan kehamilanmu kepada Henry?"
"Aku yakin!" Tegas Madeline dengan yakin.
"Baiklah aku antar ke kantor Henry. Aku minta apapun yang terjadi kau harus kuat demi bayimu. Ayo kita berangkat sekarang." ajak Henry.
Adam dan Madeline tiba di lobby perusahaan Henry. Para pegawai menatap Madeline dengan pandangan aneh. Mereka berpikir mengapa Adam bisa membawa pengemis datang kemari.
Di depan ruangan Adam, mereka bertemu Brandon. Adam bertanya, "Kami ingin bertemu Henry."
"Silahkan Tuan Adam," ucap Brandon dengan sopan.
Adam yang sedang memeriksa dokumen merasakan ada yang memasuki ruangannya. Ia menangkat kepalanya dan melihat Adam datang bersama Madeline. Ia berkata sinis kepada Madeline, "Seingatku aku sudah memberitahukanmu kalau kau jangan mencariku lagi."
"Henry, kau bisa kan bicara lebih lembut kepadanya." ucap Adam yang mulai merasa kesal dengan sikap Henry.
"Untuk apa aku berbicara lembut dengan wanita jalang," Henry berkata dengan acuh
"Uhm... Henry... Aku hamil anakmu, usianya sudah dua minggu," kata Madeline dengan kepala tertunduk.
"Aku tidak peduli Madeline. Sekarang kau pergi dari hadapanku." Henry segera memanggil Brandon ke dalam ruangan untuk mengusir Madeline.
Adam merasa sangat marah. "Henry!!! Jangan kasar!!! Madeline sedang hamil anakmu!!!"
"Sudah kukatakan aku tidak peduli. Terserah ia mau apakan bayi yang di dalam kandungannya."
Air mata telah tumpah dari kedua mata Madeline. Ia tidak percaya dengan sikap Henry. "Tapi Henry, ini adalah anakmu."
Tiba-tiba ponsel Henry berbunyi dan ia melihat nomor telepon apartemen Catalina, dengan segera ia mengangkatnya. "Ada apa?"
"Tuan... Nona Catalina... Dia..." ucap suara di seberang sana dengan putus-putus.
"Ada apa dengan Catalina," Adam mulai panik.
"Nona Catalina pingsan... Kami bingung harus apa..."
"Kau jaga Catalina, aku akan mengirimkan ambulans." Adam lalu menutup teleponnya dan minta Brandon memanggil ambulans ke apartemen Catalina. Ia lalu meminta Adam segera ke rumah sakit dan mengunggu Catalina disana.
"Ayo Madeline, ikut aku," ajak Adam.
.
.
.
Sesampainya di rumah sakit, Adam menyuruh Madeline menunggu diruangannya lalu ia menuju ruang pemeriksaan dimana Catalina berbaring. Henry terus menunggu Adam dan Catalina di luar ruang pemeriksaan dengan gugup. Kemudian seorang perawat memanggil Adam masuk.
"Henry, ginjal Catalina bermasalah. Ia memerlukan transplantasi ginjal, masalahnya golongan darahnya A- dan akan sangat sulit pendonor yang cocok dengannya. Yang aku tau golongan darah Madeline sama dengan Catalina, akan tetapi ia sedang hamil jadi dia tidak dapat menjalani pemeriksaan untuk pendonor."
"Mengapa tidak bisa?" tanya Henry.
"Kau lupa kalau dia sedang hamil, walaupun cocok, ia tidak bisa mendonorkan karena ia sudah pasti akan kehilangan bayinya," jelas Adam.
"Serahkan padaku, kau segera siapkan tes pemeriksaan." Henry lalu keluar dari ruang pemeriksaan dan memanggil dua orang pengawalnya menuju ruang kantor Adam dimana Madeline menunggu.
"Madeline," panggil Adam. "Ikut aku untuk pemeriksaan."
"Pemeriksaan apa?" tanya Madeline.
"Pemeriksaan pendonor. Kekasihku membutuhkan ginjal untuk bertahan hidup," ucap Adam dengan dingin.
Wajah Madeline memucat, ia tahu bahwa ia akan kehilangan bayinya apabila sampai mendonorkan ginjalnya. "Aku mohon jangan. Bayiku akan meninggal." isak Madeline.
"Bawa dia," perintah Henry kepada pengawalnya.
Madeline dipaksa menjalani pemeriksaan dan hasilnya ginjalnya cocok dengan Catalina. Henry segera meminta Adam melakukan prosedur operasi. Madeline terus berteriak sambil menangis memohon agar Henry dapat melepaskannya.
"Kau gila Henry!!! Lihat dia tidak mau melakukan operasi ini. Kalau kau tetap memaksa, silahkan cari dokter lain. Aku tidak akan melakukan operasi ini! Aku harap kau jangan menyesal." Adam lalu pergi dari rumah sakit meninggalkan Henry dan Madeline.
"Brandon, cari dokter lain yang mampu melakukan operasi ini," perintah Adam.
Sebenarnya Henry sedikit iba dengan Madeline yang terus memohon, tetapi baginya hidup Catalina lebih penting. Madeline dapat mempunyai bayi lagi apabila ia kehilangan bayinya sekarang. Ia juga berjanji kepada dirinya jika ia akan merawat Madeline lebih baik.
"Aku mohon Henry, jangan lakukan ini. Hanya bayi ini yang aku punya sekarang. Bayi ini adalah pegangan hidupku setelah kau membuangku." ucap Madeline.
Tidak lama Brandon menemukan dokter lain dan mulai melakukan operasi. Di dalam ruangan operasi, Madeline terus meronta hingga dokter anestesi menyuntikkan obat bius. Perlahan Madeline kehilangan kesadarannya dan operasi pun berlangsung.
.
.
.
Sinar matahari menembus jendela dan menyinari wajah Madeline yang masih tertidur. Adam masuk ke ruang perawatan Madeline, memegang tangannya dan berkata, "maafkan aku."
Madeline pun sadar dan ia melihat Adam. "Adam, bagaimana bayiku? Ia madih ada kan?"
"Maaf Madeline, Bayimu sudah tidak ada. Kau beristirahatlah."
Madeline merasa seluruh jiwanya telah hilang, tatapan matanya seketika kosong. Adam lalu keluar agar Madeline dapat Beristirahat dengan tenang. Di luar ruangan, Adam menelepon Henry, "Kau dimana? Madeline telah sadar. Sebaiknya kau temani dan hibur dia. Ia sangat terpukul kehilangan bayinya."
"Aku sedang menemani Catalina. Kau atur saja perawat menjaganya. Aku tidak punya waktu." Henry segera menutup teleponnya dan fokus kembali merawat Madeline.
"Kau gila Henry," ucap Adam ketika Adam mematikan teleponnya. Adam lalu mengatur beberapa perawat untuk merawat Madeline karena Madeline telah menjalani dua operasi besar sekaligus.
.
.
.
Hampir satu minggu Madeline dirawat dan tidak satu kalipun Henry datang menengoknya. Madeline yang kini telah putus ada mengharapkan Henry mengetahui bahwa Henry juga ada di rumah sakit menjaga kekasihnya. Dengan tubuh yang masih lemah Madeline menuju kamar perawatan kekasih Henry dan ia melihat Henry tersenyum lembut kepada Catalina, sesuatu yang tidak pernah Madeline lihat saat Henry bersamanya. Ia kini sadar Henry tidak pernah mencintainya.
"Kau ingin menengok Nona Catalina? Silahkan masuk," ucap seorang perawat yang akan mengantar obat untuk Catalina.
Henry dan Catalina yang mendengar ucapan perawat memalingkan wajah mereka ke arah pintu dan Melihat Madeline di depan pintu. Seketika wajah Henry berubah dingin dan Catalina terkejut .
"Siapa kau? Apa kau ingin menemuiku atau Henry?" tanya Catalina.
"Hai, Aku Madeline. Aku ingin mencari Henry."
"Ada apa kau mencariku, ikut aku jika kau ingin bicara." Henry lalu berdiri dan keluar.
Madeline mengikuti Henry menuju taman rumah sakit. "Henry, aku kini kehilangan bayiku. Ternyata ini bayaran supaya aku sadar kalau kau tidak pernah mencintaiku." ucap Madeline dengan air mata yang telah keluar dari matanya yang indah. "Aku akan pergi dan tidak akan pernah muncul lagi dalam hidupmu. Aku harap kau bahagia selamanya. Selamat tinggal."
Henry yang mendengar ucapan Madeline merasa ada yang hilang dalam hatinya. Saat ia tersadar, Madeline telah pergi. Ia lalu kembali ke ruang perawatan Catalina.