Madeline menghilang

1462 Kata
"Siapa Madeline?" tanya Catalina dengan nada tidak senang kepada Henry yang sudah kembali. "Bukan siapa-siapa. Hanya wanita tidak penting," jawab Henry singkat. Sepanjang hari Henry merasa akan kehilangan sesuatu yang penting tetapi ia tidak tau apa. Madeline yang telah pergi dari hadapan Henry, menuju ruang kerja Adam untuk berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih. Tok tok tok "Silahkan masuk." Madeline kemudian masuk dan berkata, "Adam, terima kasih atas bantuanmu selama ini. Aku ingin pamit." Adam berdiri dan mengajak Madeline duduk di sofa."Kau ingin pergi kemana? Biar aku antar." "Tidak perlu, aku tidak ingin merepotkanmu lagi. Aku janji ini terakhir kalinya aku mengganggumu." "Kau jangan sungkan. Aku rela membantumu, aku adalah sahabatmu juga. Ayo aku antar ke tempat tinggalmu," ucap Adam dengan lembut. Hati Madeline terasa hangat, ternyata ada orang yang tulus terhadapnya. "Aku bisa turun disini. Tempat tinggalku tidak bisa dilalui kendaraan." "Oke," ucap Adam. "Rumahmu masih jauh? Aku temani sampai rumah." "Terima kasih Adam," ucap Madeline dengan senyumnya yang manis. Adam memarkirkan mobilnya di gedung sekitar dan menemani Madeline berjalan. Sepanjang jalan mereka membicarakan banyak hal, Adam dapat menarik kesimpulan bahwa Madeline bukan wanita bodoh. Ia dapat mengimbangi bahan pembicaraan Adam dengan sangat baik. Sesampainya di tempat tinggal Madeline, Adam terkejut dengan kondisi rumah yang ditempati Madeline. Menurut Adam rumah tersebut dalam kondisi yang tidak layak tinggal karena banyak botol bekas dan tidak mempunyai jendela sama sekali. "Bagaimana kau bisa tinggal di tempat seperti ini?" tanya Adam. "Kau bisa sakit tinggal di lingkungan seperti ini." "Aku bisa tinggal di mana saja," ucap Madeline Kebetulan Ibu Hanna baru kembali dan melihat Madeline dengan seorang pria tampan. Ia melepaskan botol bekas bawaannya dan berlari memeluk Madeline. "Kau kemana saja, aku mengkhawatirkanmu. Kau tidak apa-apa kan?" Madeline membalas pelukan Ibu Hanna dan mengenalkan Adam. "Aku baik Bu, jangan khawatir. Kenalkan temanku Dokter Adam." "Salam kenal, panggil saja Adam." Adam mengulurkan tangannya ke Ibu Hanna. "Aku Hanna, maaf rumahku kotor. Aku harap kau tidak keberatan. "Tentu saja tidak Ibu Hanna. Aku justru berterima kasih kau sudah berbaik hati telah membantu temanku. Aku berkerja di rumah sakit X, jika suatu saat kau membutuhkan bantuanku, kau silahkan datang kesana mencariku. Sekarang aku permisi dulu, sampai jumpa." Madeline dan Ibu Hanna mengucapkan selamat tinggal kepada Adam. Ibu Hanna menggenggam tangan Madeline dan berkata, "Madeline, kau tidak apa-apa kan. Wajahmu sangat pucat." Madeline memaksakan senyumnya. "Aku tidap apa-apa. Mari aku bantu membereskan botol-botol itu." Saat malam tiba, hujan turun dengan deras. Madeline duduk termenung tidak menghiraukan Ibu Hanna yang terus memanggilnya. Keadaan Madeline yang seperti itu meyakinkan Ibu Hanna jika Madeline tidak dalam kondisi yang baik. Ia pun segera memeluk Madeline dan mengelus kepalanya. Hati Madeline terasa hangat, ia merasakan kasih seorang ibu dalam diri Ibu Hanna. Ia berpikir akan menjadi seorang ibu yang akan selalu memeluk dan memberikan kasih sayang kepada anaknua yang telah tiada. "Jika ada masalah, kau bisa cerita kepadaku. Meskipun aku tidak dapat membantumu setidaknya aku akan menjadi seorang pendengar yang baik," ucap Ibu Hanna. "Aku tidak apa-apa. Mari kita tidur, Ibu sudah seharian bekerja pasti lelah," ucap Madeline. Sepanjang malam Madeline tidak dapat tidur, ia memikirkan bayinya yang sudah tiada dan Henry yang sudah membuangnya. Ia merasa hidupnya tidak berarti, ia lalu bangun dan keluar rumah tanpa memperdulikan hujan yang turun dengan deras. Sementara itu, Henry duduk di bar. Ia merasa ada sesuatu penting hilang dalam dirinya. Ia memikirkan apakah sikapnya kepada Madeline sangat keterlaluan. Tiba-tiba seorang wanita merangkul Henry dan mulai menggodanya. Henry merasa mual dengan wangi parfum wanita tersebit dan mengusirnya. Seketika perasaan dalam diri Henry memaksa ingin bertemu dengan Madeline. Ia ingin memeluk, mencium dan berhubungan intim dengan Madeline. Ia juga ingin mendengar suara Madeline dan melihat tawanya. Ia kini yakin bahwa ia membutuhkan Madeline dalam hidupnya. Henry membayar tagihannya dan keluar dari bar. Ia ingin mencari Madeline tetapi tidak tau Madeline ada dimana sehingga yang dapat ia lakukan saat ini hanya mengitari jalan berharap ia cukup beruntung menemukannya. Sudah dua jam Henry mengitari jalan tanpa hasil, ia lalu menuju ke rumah sakit tempat Adam bekerja dan langsung menuju ruangan Adam. Adam yang baru kembali melakukan operasi menuju ruangannya dan ia melihat Henry sedang duduk di sofa dalam keadaan yang berantakan. "Hei... Kau sakit? Tidak biasanya penampilanmu berantakan seperti ini. Jika tidak, ayo kita ke bar." "Aku baru saja dari bar. Kau tau dimana Madeline?" Adam tertawa mendengar pertanyaan Henry. "Bukankah kau meminta Madeline untuk tidak muncul dihadapanmu, mengapa sekarang kau ingin mencarinya. Kau ingin menyakitinya lagi, sebaiknya kau tinggalkan Madeline dan fokus saja ke Catalina. Bukankah bagimu Madeline hanya pengganti." "Diam!" tegas Henry. "Aku hanya bertanya apa kau tau dimana Madeline." Di rumah Ibu Hanna, wanita paruh baya itu terbangun dan melihat Madeline tidak ada di rumah. Seketika ada perasaan tidak enak yang muncul, Ibu Hanna lalu mengambil payung dan keluar mencari Madeline. Merasa putus asa, Ibu Hanna teringat Adam, ia lalu bergegas menuju rumah sakit mencari Adam. "Aku ingin mencari Dokter Adam," ucap Ibu Hanna sesampainya ia di rumah sakit. "Tunggu sebentar, saya hubungi Dokter Adam. Ibu silahkan duduk dan menunggu diperiksa perawat terlebih dahulu." ucap petugas Customer Service. Ibu Hanna menggelengkan kepalanya dan berkata, "Aku tidak sakit. Aku ingin meminta bantuan Dokter Adam. Tolong hubungi Dokter Adam, aku mohon." "Baik, sebentar." Petugas tersebut. Tak lama Adam muncul di hadapan ibu Hanna dan ia melihat Ibu Hanna yang dalam keadaan panik. "Ibu Hanna, ada apa? apa terjadi sesuatu terhadap Madeline?" Ibu Hanna langsung menangis dan menyatukan kedua tangannya memohon kepada Adam. "Aku mohon Dokter Adam, bantu aku mencari Madeline. Ia menghilang dari rumah, aku sudah mencarinya tapi tidak menemukannya. Aku takut terjadi sesuatu kepadanya sebab daritadi aku memperhatikannya ia tidak dalam kondisi yang baik. Oh ya Tuhan, aku benar-benar takut apalagi hujan sangat lebat." Adam yang mendengar ucapan Ibu Hanna langsung menelpon Henry yang sedang menunggu diruangannya. Henry yang mendengar ucapan Adam segera berlari keluar menghampiri Adam dan Ibu Hanna. "Sudah berapa Madeline menghilang?" tanya Henry panik. "Ayo kita cari bersama." Mereka bertiga kemudian menyusuri jalan mencari sosok Madeline. "Itu dia!!!! Berhenti!!!!" Ibu Hanna berteriak sambil menujuk arah dimana Madeline berada. Madeline berdiri di pinggir jembatan melihat kesungai di bawah guyuran air hujan. Ia mendengar seseorang memanggilnya, ketika ia menoleh ke arah datangnya suara, ia melihat Henry, Adam dan Ibu Hanna berlari kearahnya. "Berhenti!!!!!" teriak Madeline "Atau aku akan melompat!!!" Seketika mereka bertiga berhenti. "Madeline! Ini tidak lucu! Kemari!" teriak Henry khawatir. Madeline tiba-tiba tertawa keras dan membuat yang lainnya khawatir. "Tidak!!!! Aku tidak akan kemana-mana! Aku tidak punya apa-apa, semuanya sudah hilang. Bayiku, kau, ginjalku, ingatanku, bahkan identitas diriku." Henry mematung mendengar ucapan putus asa Madeline. Ia merasa ia penyebab keadaan Madeline saat ini. "Tidak Madeline, kau masih punya aku. Kau sudah kuanggap sebagai anakku sendiri," ucap Ibu Hanna sambil menangis. "Kau juga masih punya aku, sahabatmu," ucap Adam juga. "Tapi hidupku sudah tidak berarti. Terima kasih Adam sudah menjadi sahabatku dan selalu membantuku. Terima kasih Ibu Hanna atas perhatian dan rasa sayangmu. Terima kasih Henry atas rasa sakit ini, aku janji tidak akan mencintaimu lagi dan aku berharap tidak akan pernah bertemu lagi denganmu selamanya." Madeline lalu melompat ke sungai tanpa ragu. Henry yang melihat Madeline melompat mencoba meraih tangan Madeline tetapi terlambat. Ia melihat Madeline mengakhiri hidupnya di depan matanya. "TIDAK!!!! Kembali Madeline!!!!" Henry seketika ingin ikut melompat dan menyelamatkan Madeline dihentikan oleh Adam. "Kau gila!" teriak Adam. "Kita panggil petugas penyelamat sekarang!" Hingga pagi hari pencarian terus dilakukan dan hujan pun telah berhenti, tetapi Madeline belum ditemukan. Henry terus menunggu di lokasi. Dengan matanya yang memerah, ia berdoa dalam hati dan berharap Madeline selamat. Kini ia sudah tidak ingat lagi kepada Catalina yang sedang beristirahat di apartemen. . . . Catalina terus menelpon Henry yang sudah beberapa hari ini tidak menemuinya maupun menghubunginya. "Sial!!! Dimana dia. Apa dia bersama wanita itu. Ini tidak boleh dibiarkan. Mengapa wanita itu ada dimana saja. Aku harus cepat menikahi Henry atau Max." Catalina lalu menelpon ibunya. "Halo bu, bagaimana keadaan disana?" "Semua baik-baik saja, bagaimana kondisimu sekarang?" tanya ibu Catalina. "Aku sudah baik, tak kusangka ternyata ginjal wanita itu cocok denganku. Sekarang aku akan segera menjalankan rencana untuk membuat Henry segera menikahiku meski aku lebih suka jika Stanson yang akan menikahiku." "Kau jangan bodoh Catalina. Stanson tidak mencintaimu, sudah berapa lama kau berusaha mengejarnya tapi hasilnya nihil. Lagipula Henry juga tidak kalah kaya, tampan dan berkuasa dari Stanson. Fokus pada tujuanmu, Ingat! Kita butuh salah satu dari mereka untuk lebih sukses." "Aku mengerti bu, aku akan tetap menikahi Henry walau aku masih mencintai Stanson," ucap Catalina. "Bagus kalau kau mengerti Catalina. Bye." "Bye bu." Catalina menghela nafas, lalu mencoba menghubungi Henry kembali. Kali ini ia cukup beruntung Henry menjawab teleponnya. "Halo sayang, akhirnya kau menjawab teleponku. Aku merindukanmu, beberapa malam ini aku tidak bisa tidur. Kau bisa datang malam ini?" "Baiklah. Aku tutup dulu. Aku sibuk." Henry langsung mematikan teleponnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN