Kembali Ke Saat Belum Bertemu

1082 Kata
Catalina langsung memeluk Henry saat Henry tiba diapartemennya. "Aku sangat merindukanmu. Mari kita makan malam, aku kelaparan menunggumu datang." Catalina menarik tangan Henry menuju meja makan. Henry melihat makanan yang disajikan, ia menyadari bahwa tidak ada satupun makanan yang tersaji merupakan makan kesukaannya. Seluruhnya merupakan makanan kesukaan Catalina. Seketika ia teringat pada Madeline yang selalu memasak makanan kesukaannya saat ia ada di villa tanpa ia ketahui apakah Madeline juga menyukai makanan tersebut atau tidak. "Mari makan sayang, setelah itu kita beristirahat" ucap Catalina. Henry memakan makanannya dan semuanya kini terasa hambar dimulutnya, ia ingin makan masakan Madeline. "Oh Madeline, aku merindukanmu," ucap Henry dalam hati. Sepanjang makan malam, Catalina terus berbicara dan Henry hanya menanggapi dengan singkat. Catalina yang menyadari sikap Henry tidak seperti biasanya hanya bisa bertanya dalam hati, "Ada apa dengannya?" Selesai makan malam, Catalina mengajak Henry mandi bersama lalu menuju ke ranjang dalam keadaan telanjang setelah mengeringkan diri. Catalina terua menerus menggoda Henry untuk berhubungan intim, tetapi Henry tidak merespon sama sekali. "Aku lelah Catalina. Lain kali saja, sebaiknya kita tidur," ucap Henry lalu memejamkan matanya. Pagi harinya Catalina berusaha kembali menggoda Henry, Henry yang belum sadar dari tidurnya merasa seseorang menciumnya dan meraba area sensitifnya. Ia membayangkan Madeline yang kini bersamanya. Henry lalu bereaksi membalikan tubuhnya ke atas Catalina langsung memasuki Catalina dan memompanya. Tak lama Henry melakukan pelepasannya dan bangun. Saat ia menyadari bahwa ia berhubungan intim dengan Catalina, ia pun meminta maaf. "Maaf," ucap Henry lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Catalina terdiam mendengar ucapan maaf Henry. Ia bingung untuk apa ucapan maaf Henry. "Maaf?! Aku tidak salah dengar kan. Untuk apa dia minta maaf. Masa bodo, untuk apa aku pikirkan." Tak lama kemudian Henry keluar lalu berpakaian. "Aku berangkat." "Sampai jumpa sayang," Catalina lalu memberikan ciuman ke bibir Henry. Secara tak sadar Henry memalingkan wajahnya sehingga Catalina hanya mencium pipinya dan langsung keluar dari apartemen. . . . Sesampainya Henry di kantor, ia menanyakan perkembangan pencarian Madeline kepada Brandon. "Apa ada perkembangan?" "Belum ada, tim pencarian masih terus berusaha," jawab Brandon. "Cari terus. Aku yakin Madeline masih hidup dan menungguku menyelamatkannya." "Baik bos." Brandon keluar dari ruang kerja Henry. Sepanjang hari Henry tidak konsentrasi dengan pekerjaannya akhirnya ia segera berdiri dan langsung menuju tempat dimana Madeline bunuh diri. "Madeline kumohon muncullah, aku salah. Aku janji akan memperlakukanmu lebih baik lagi jika kau mau kembali," lirih Henry dalam hati. Henry terus berada di lokasi hingga malam hari lalu kembali ke villa yang pernah ditempati Madeline. Saat ia memasuki villa, Henry berusaha mencari jejak Madeline yang masih tertinggal tetapi hasilnya nihil. Henry sendiri yang memerintahkan Brandon untuk menghapus semua jejak Madeline tanpa terkecuali. Rasa penyesalan kini hinggap semakin kuat dalam hati Henry. Madeline kini menghilang tanpa jejak, kembali ke saat awal mereka belum saling bertemu. . . . Di lain tempat, seorang pria yang tak kalah tampan Henry sedang menerima laporan dari orang suruhannya. "Siang Tuan Stanson, saya ingin mengabarkan kalau kita sudah menemukannya," ucap seseorang. "Baik, aku segera kesana," ucap pria tersebut yang tak lain adalah Stanson. "Akhirnya aku menemukanmu, kita akan segera kembali bersatu." Stanson lalu memerintahkan Simon asistennya untuk mengatur pesawat pribadinya menuju lokasi yang telah diinfokan. Sesudah pesawat pribadi Stanson tiba di lokasi, Stanson segera keluar dari bandara dan menuju rumah sakit dengan mobil mewahnya menemui seseorang yang sudah berusaha dicarinya selama ini. "Bagaimana keadaannya?" tanya Stanson kepada Simon. "Saat ini nona masih belum sadar, dokter yang merawatnya memintamu untuk menemuinya nanti sebab ada hal penting yang ingin disampaikan kepadamu mengenai kondisi kesehatan nona," jawab Simon. Sebelum menemui dokter, Stanson mengunjungi wanita yang sangat dicintainya yang kini masih belum sadar terlebih dahulu. Ia memberikan kecupan ringan di dahi wanita tersebut sambil membisikan kalimat 'aku mencintaimu' dengan lembut. "Apa yang ingin kau beritahukan dokter?" tanya Stanson. "Tuan Stanson, silahkan duduk," ucap dokter. "Aku telah melakukan pemeriksaan secara menyeluruh kepada nona dan hasilnya tidak terlalu baik terlebih lagi ia ditemukan dalam keadaan tubuh yang mulai dingin. Syukurlah ia mampu bertahan." "Jangan bertele-tele," ucap Stanson dengan dingin. Apabila ada seseorang yang mampu menandingi aura dan kemampuan Henry, hanya Stanson yang mampu. "Nona hanya mempunyai satu ginjal sekarang ditambah lagi ia baru saja melakukan operasi aborsi. Fisiknya benar-benar sangat lemah. Di kepalanya ada gumpalan darah yang nampaknya sudah lama sehingga nona harus segera menjalani operasi pengangkatan gumpalan darah tersebut, apabila kita tunda takutnya akan semakin membahayakan nyawanya," jelas sang dokter. Stanson terkejut dengan penjelasan dokter tetapi dengan sangat elegan ia menutupi rada terkejutnya. "Segera lakukan operasi tersebut. Aku tidak peduli biayanya," perintah Stanson. "Tunggu Tuan Stanson!" ucap dokter. "Seperti yang telah saya jelaskan, kondisi fisik nona sangat lemah, ia tidak akan mampu bertahan jika kita memaksa untuk melakukan operasi. Sebaiknya tunggu ia sadar dan pulih, baru kita atur operasinya. Sementara itu saya akan terus memantau keadaannya." "Baik," ucap Stanson, lalu ia kembali ke ruang perawatan. Saat Stanson di kamar perawatan is duduk di samping ranjang dan menggenggam tangan ramping wanitanya. "Apa yang terjadi padamu selama kau menghilang. Bertahanlah, aku akan menyelidiki keadaanmu setahun ini dan membalas orang yang membuatmu seperti ini," ucap Stanson dengan mata yang memerah karena marah. Selama tidak sadar, Madeline bermimpi seolah melihat potongan kejadian-kejadian yang terasa familiar baginya. Potongan kejadian tersebut bercampur dengan ingatannya saat ini. Tiba-tiba Madeline terbangun dengan rasa terkejut. Ia kini ingat siapa dirinya. Stanson yang ada di samping Madeline bahagia melihat Madeline sadar. Ia refleks langung memeluk Madeline dengan lembut sambil mengucapkan maaf karena lama menemukannya. Madeline yang terkejut sadar karena kehangatan pelukan Stanson langsung membalas pelukan Stanson sambil menangis. "Sayang, kau tiduran dulu, aku akan meminta Simon mengantarkan bubur untukmu. Kau pasti lapar," ucap Stanson lembut. Madeline menuruti perkataan Stanson. Ia terus memegang tangan Stanson, ia takut sendirian sebab ia masih trauma dengan kejadian yang menimpanya. "Stanson," panggil Madeline. Stanson menatap lembut dan mengeratkan pegangan sebagai tanda respon panggilan Madeline. "Stanson, aku takut." "Hussshhh sayang, jangan takut. Aku disampingmu." "Stanson kenapa kau baru menemukanku sekarang, kau tidak tau apa yang sudah kualami, aku tersiksa. Aku kehilangan anakku, kehilangan ginjal, kehilangan jati diriku, dan kehilangan harga diri. Aku hancur sekarang," isak Madeline. "Maaf, sayang aku beru menemukanmu. Aku kehilangan jejakmu. Aku berusaha mencarimu walau semua orang mengatakan bahwa kau tiada. Aku tidak pernah menyerah dan kini aku berhasil menemukanmu. Bagiku kau tetap samaseperti dulu," ucap Stanson sambil mengelus kepala Madeline dengan tangan lainnya. "Dengar sayang, aku akan membalas orang yang telah menyakitimu tanpa kecuali. Tapi saat ini kau harus pulih sehingga kau dapat menyaksikan kehancuran mereka." "Baik, aku akan berusaha pulih dan membalas mereka," ucap Madeline penuh tekad.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN