Boleh Sanya merasa promosi ini adalah pelarian terbaik agar tidak bertemu dengan Yuji? Selama kerja sama perusahaan berjalan, semoga lelaki itu tidak lagi punya alasan untuk mengusiknya. “Kenapa diam saja? Iya, pengen temu kangen?” sindir Ardika. Sanya cepat-cepat menggeleng. “Besok dan lusa kamu belajar dulu sama Zeno. Setelah itu dia akan lebih banyak di lapangan.” Kali ini Sanya hanya mengangguk pelan. “Apa itu angguk–geleng? Sariawan?” “Iya, Pak. Saya paham.” “Gitulah! Ngomong. Saya ini bukan lagi ngobrol sama tembok.” Sanya menarik napas panjang dalam hati, Sabar, Sanya… sabar saja. Malam harinya, di tempat lain, lelaki misterius itu duduk dalam ruangannya yang temaram. Hanya lampu meja yang menyala, membentuk lingkar cahaya kecil di atas permukaan kayu gelap. Di dalam lingkar ca

