“Pak,” panggil Sanya hati-hati. Mereka sedang melaju menuju hotel tempat meeting dengan klien. “Hmm,” jawab Ardika santai, matanya tetap pada jalan. “Semalam… pulang dari kantor, Bapak langsung pulang?” Ardika spontan mengerutkan kening, melirik Sanya sejenak. “Langsung pulanglah. Emang kamu berharap apa? Saya sedih … galau … karena kamu nggak mau nebengin saya, gitu?” Sanya menelan salivanya. Ia akhirnya sadar salah memilih topik pembicaraan. “Zeno nggak pernah meninggalkan saya,” tambah Ardika datar. Sanya memejamkan mata sejenak saat dirinya dibanding-bandingkan dengan Zeno. “Saya baru kerja dua hari kalau Bapak lupa,” potongnya cepat. Ardika kembali melirik, kali ini lebih tajam. “Terus? Bapak tidur jam berapa? Ada keluar lagi nggak semalam?” Alis Ardika kembali terangkat tinggi.

