Ayam Jago Pak Nova

1000 Kata
Pantatku menghantam kursi bus yang sangat keras, kuusap-usaplah dengan tangan kiriku sembari menguap lalu kututup mulutku dengan tangan kiri. Mata yang berair berkedip-kedip hingga meneteskan setetes air mata, menatap padanya kepalaku mulai pusing. Kutarik tasku agar dirinya tidak melihat badanku dengan tatapan sinisnya. Tasku yang bergambar bunga-bunga ini rasanya tidak asing. Kenapa aku di bus? Aku pun membongkar isi tasku lalu menemukan buku fisika, matematika, dan bahasa. Menelusuk lebih dalam, tanganku menyentuh bulatan lonjong yang langsung kubuka tutupnya. Menyembunyikan setengah wajahku dengan menggunakan tas, kembali diriku memolesi pelembab di bibirku sembari menatap dirinya. Tiba di halte yang sama membuatku menyelingkan selempang tas sambil bangun dan pergi untuk melewati pria berambut berantakan itu, tetapi langkahku malah berhenti di sampingnya saat dia menatapku. Bukankah dia yang menatapku? Alis yang terkerut dan kepala yang tergeleng, aku pun menuruni bus dan mulai berhenti menggeleng secara pelan. Melangkah berjalan sembari melirik sekeliling. Ayam ketawa Pak Nova yang berkokok mengagetkanku, dengan segara kubalikkan badan. Namun, yang kutemukan malah orang-orang asing yang menuruni bus. Melangkah seperti seekor semut, sinar bus yang terpantul ke jendela pertokoan memberiku informasi bahwa bus akan segera pergi. Tanpa menunggu lama, bus itu langsung melaju meninggalkan jalan ini. Membalikkan badan kembali untuk memeriksa plang jalan yang ternyata sudah benar sekarang dengan juga jalan yang sudah sepi sekejap mata membuat diriku hanya ingin berlari. Berlarilah diriku di sepanjang trotoar hingga sesosok pria itu tertampak di jendela pertokoan, aku pun langsung membalikkan badan, tetapi tetap saja jalan itu sepi. Mengecilkan mata saat melihat pedagang es jeruk manis membuka kios tokonya, aku pun berlari ke sana. “Pak!” ucapku dengan kelelahan lalu mengambil minuman botol berasa teh yang ada di meja itu, segera diriku meminum itu. “Hei, itu bukan untuk dijual,” katanya, seketika kusemburkan minuman yang nyatanya berasa apel itu. “Itu milik orang-orang yang menongkrong di sini!” ucapnya sembari mengelap meja. Duduk di kursi berwarna kuning, aku pun bertanya padanya, “Tidakkah Bapak melihat seorang pria berambut berantakan dengan celana hitam kebesaran yang lecek ...,” gumamku yang terhenti lalu kulanjutkan, “Oh iya, kemeja putih ... putih sobek-sobek?” sambungku kebingungan. “Hm tangannya berdarah dan kakinya bersandal jepit!” akhir kata dengan serius. Pedagang es jeruk manis itu pun langsung berhenti menggosok mejanya, ia berdiri tegap memandangiku, “Tidak.” Kembali ia mengelap-ngelap meja dengan lap kotak-kotak hijau. “Aduh, Pak! Bagaimana ini?!” teriakku yang merenggut lap itu dari pundaknya setelah dirinya selesai lalu menggosok-gosok meja bertaplak plastik itu dengan keras. “Hm, kamu berhutang kemarin es jeruk manis dan es mangga s**u,” gumam Pedagang es jeruk manis dengan suara kecilnya. Mataku pun membeliak terkejut mendengar ucapannya. “Aku kemarin kesini kan ...?” tanyaku yang kembali kusambung, “Dengan seorang pria kan?” Pedagang es itu pun mengangguk dan langsung saja kurangkul lehernya dengan erat hingga dirinya kesusahan berbicara pada seragamku. “Pemuda itu yang bayar ke—kemarin.” “Terima kasih, Pak!” sahutku melepas rangkulan dan langsung mencium lap kotak-kotak hijau. “k*****t! Siapa yang kencing di lap itu?!” teriakku setelah melempar lap itu hingga ke pohon permukiman penduduk. “Hai!” panggil seseorang dari belakang. Membalikkan badan, aku pun melihat lambaian-lambaian tangan dari temanku, yaitu Quinn. “Hai!” sahutku yang langsung menuruni anak tangga dengan cepat, kukalungkanlah leher temanku itu sembari mendorongnya untuk menjauh. “Tuan putri, minuman favoritmu?” tanya Pedagang es jeruk manis yang masih terdengar membuatku menarik leher Quinn ke belakang. “Tidak. terima kasih, Pak ...!” sahutku yang kemudian kusambung kembali, “Aku amandel pak, bisa minta tolong lemparkan botol itu, akan kugunakan untuk bermain,” pintaku sembari menunjuk botol teh itu dengan telunjuk kananku. Pedagang es jeruk manis pun menuruni tangga dengan sebotol teh rasa apel itu. “Terima kasih, Pak!” sahutku yang langsung berpamit pada tangan kirinya dan langsung menjambret botol dari tangan kanannya. Menarik sembari mendorong temanku menjauh, aku pun meminum teh itu dengan tangan kananku sedangkan tangan kiriku tetap terkalungkan pada Quinn. “Kamu tidak naik bus?” tanya temanku itu. Pipiku menjadi kembung setelah menahan untuk tidak menyembur teh itu pada Pak Nova yang membawa kurungan ayamnya keluar dari pasar. Matanya sama seperti pemilik wajah yang mengenakan masker hitam itu. Saat matanya bertemu dengan mataku, tangan kiriku yang mengalung di leher Quinn tertarik ke kiri sehingga aku pun kembali menyembur teh itu, tepatnya pada kurungan ayam jago Pak Nova yang kosong dan berwarna emas. “Maafkan aku, Pak Cassanova!” “Kau ingat mata pria kemarin malam itu?” tanyaku sembari menyeberang bersama Quinn setelah aku menggigit bibirku. “Bukankah kemarin kamu tidak masuk?” tanyanya dengan alis yang berkerut dan gigi gingsul yang memaniskan senyumannya. Oh iya, kemarin aku sakit amandel! Melepaskan tanganku dari lehernya, aku pun menarik tangannya untuk berlari belok kiri memasuki gerbang sekolah setelah berjalan di jalan lurus yang panjang. Melepas selempang tas dari bahu setelah memasuki kelas. Tas terpegang dengan kuat lalu kulempar tas itu hingga mengenai siswa yang menunduk. Selempang tas pun kutarik ke bangkuku hingga memperlihatkan kepala siswa yang mendongak dengan gambaran gedung di mejanya. “Wow ... ada apa?” tanya teman-temannya saat diriku duduk di bangku, aku pun mengeluarkan buku fisika lalu bahasa dan matematika bersamaan dengan guru biologi yang memasuki kelas. “Ada apa?” tanya Quinn melihat senyuman semringahku. “Kita tidak dapat fisika!” sahutku sembari memegang kedua pipi. “Oh, ya!” sahut Quinn dengan gigi gingsulnya. “Selamat pagi! Hari ini tugas ya, kalian membuat laporan contoh reproduksi hewan unggas, tugasnya secara bebas, boleh di kumpul setelah ujian akhir!” Entah mengapa ayam jago Pak Nova membayang-bayangi sekarang. Menggambar di buku bahasa dengan sebuah telur raksasa lalu menuliskan ‘ovipar.’ Mencari ide untuk gambaran, aku pun mencari ponsel di tas. Namun, ponselku ketinggalan di rumah sehingga aku pun meminjam ponsel Quinn lalu melewati meja guru untuk pergi ke toilet. Masuklah diriku ke kamar mandi perempuan dengan ponsel Quinn, tetapi sebelum itu aku melihat seorang pria tinggi yang berambut kembang dan berantakan memasuki kamar mandi laki-laki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN