Ponsel Quinn menyala otomatis dengan notifikasi pesan yang muncul di layarnya, sayangnya ponselnya yang bersandi menyulitkan diriku untuk membuka pesannya.
Aku pun menarik dari bawah ke atas dengan jempolku pada layar ponselnya lalu kuketikan pada laman internet hingga memunculkan pemandangan sawah yang beragam.
Menggulir gambar-gambar itu sembari keluar toilet, aku pun mengangguk-angguk setelah berhasil menghafal bentuk gambaran padi-padian di sawah.
Rambut jering itu menampakkan kekeringannya pada pembatas kamar mandi yang seperti setengah pintu itu. Kaki-kakinya yang sekarang bersepatu hitam juga menarik perhatian ujung bola mataku saat diriku mencoba untuk melewati kamar mandi laki-laki itu.
Menabraki pembatas kamar mandi lalu bergerak meraih rambutnya, melainkan malah kerahnya yang kutarik.
“Apa maumu?” tanyanya dari balik papan besi yang menjepitku.
“Keluar kau berandal!” perintahku yang masih mencoba memasukkan tangan kiri untuk menjambaknya, lamun tak kesampaian.
“Lepas dulu!” sahutnya seperti seorang kesal membuatku mengangkat tanganku dan memundurkan langkahku.
Suara berisik terdengar dari dalam sana lalu terbukalah pembatas kamar mandi itu menampilkan alat mengepel lantai bersama embernya. Ia pun mendorong ember itu dengan tongkat pel yang di pegangnya.
“Sekarang apa?” tanyanya sembari memutarkan bola mata ke atas.
“Kau menguntitku?” mataku membesar bertanya-tanya padanya, jariku juga kian tak sabar mengetuk-ngetuk pembatas kamar mandi.
“Jawab! Lama-kelamaan aku pel mulutmu!?” desakku yang langsung meraih tongkat pel hingga membunyikan ember yang diam.
“Yang benar saja ...,” henti ucapan mengelaknya sembari berpose model. “Aku bekerja di sini,” sambungnya sembari merapikan rambut, kaki yang panjang dengan celana sobek-sobeknya menarik perhatianku, aku pun meninggalkannya.
“Kau dari mana?” tanya Quinn dengan unjuk gigi.
“Entah,” sahutku dingin sembari mengambil pensil untuk mulai menggambar sawah.
Bel berdering menandakan pelajaran yang berganti. Setelah guru biologi keluar kelas, masuklah guru bahasa yang membopong buku-buku berat.
“Hari ini kita belajar teks deskripsi!” ucapnya setiba di kelas.
Dirinya pun mengambil spidol lalu menuliskan struktur teks deskripsi di papan.
“Dimulai dari pembuka,” ucapnya sembari menunjuk dan menggarisi tulisannya di papan membuatku menyalin di samping lembaran gambar sawahku.
“Lalu isi ... dan yang terakhir penutup,” ucapnya yang kemudian melangkah maju dan menunjuk siswa yang duduk di depan.
“Kamu ... jelaskan pengertian teks deskripsi!”
Siswa itu pun berdiri tanpa disuruh. “Teks deskripsi adalah teks yang berisi penjelasan secara rinci dan gambaran akan suatu hal,” jawab siswa itu yang langsung saja diberi tepuk tangan oleh guru bahasa.
“Bagus,” puji guru itu yang langsung mengangkat tangannya ke atas sembari bertanya, “Ada yang bisa membentuk teks deskripsi?”
Berdiam sejenak dengan spidol hitam sembari melihat penjelasan struktur yang di garis bawahi di papan yang dipisahkan untuk mencatat. Kembali lagi kutuliskan teksku sebagai dedikasi pada ayam jago Pak Nova.
“Menarik ...,” sahut guru itu yang langsung memberikanku sebuah permen berasa anggur dan rasa jeruk pada siswa berkepala plontos.
“Kalian boleh istirahat, sekian ibu mengajarnya,” ujar ibu itu yang langsung membopong kembali buku beratnya dan meninggalkan kelas.
Memandangi buku bahasa yang sudah tertutup bersih, aku pun mengejar guru itu. Kubantu dirinya membopong buku sembari bertanya, “Bu, kemarin saya sakit ya?” tanyaku padanya dengan mata berlinang seraya berjalan di sampingnya.
“Iya, tenang! Ibu sudah mencatat kehadiranmu,” sahut ibu tersebut mengarah ke ruang guru, diambillah buku-buku yang baru saja kubawa. “Terima kasih!”
Mengangguklah diriku lalu berbalik untuk jalan ke kelas. Namun, Quinn menghentikanku. “Ayo ke kantin!” ajaknya.
“2 bakso dan ...?” pinta Quinn yang terhenti. “Es jeruk,” sahutku sembari melihat keripik ayam pedas di keranjang. “1 kopi.”
“Tidakkah kau kasihan pada ayam yang dimasak, terkadang aku kasihan,” gumamku seraya berjalan bersamanya ke bangku kantin.
“Tidak ...,” sahutnya yang kemudian ia sambung kembali, “Tidak, mereka untuk dimakan,” timpalnya yang langsung mematahkan dan memakan keripik ayam yang ada di meja.
“Iya. Namun, maksudku mereka sangat lucu, terutama ayam-ayam Pak Nova,” sambungku kembali sembari mengambil keripik ayam yang masih terbungkus rapi.
“Ini!” Mangkok bakso pun disuguhkan di hadapanku.
“Terima kasih,” sahut Quinn saat aku merobek kemasan keripik yang berwarna coklat.
“Itu enak, makanlah!” ujar Quinn yang langsung menyendok kuah baksonya sementara diriku masih membelah keripik ayam menjadi dua.
Mengunyah keripik ayam itu merasakan rasa pedas dan manis yang bercampur satu lalu menyendok kuah bakso untuk merasakan asin kaldu ayam dan yang terakhir menyedot minuman baru favoritku.
“Ayo ke kelas!” pintaku pada Quinn lalu merangkul tangannya berjalan bersama ke kelas.
Aula yang padat akan guru-guru baru kemudian melewati ruang guru, Quinn pun dipanggil oleh guru praktik seni budaya, “Quinn ... bisa kamu bantu ibu membawa angklung-angklung ini?”
“Kita mendapat praktik seni?” tanyaku kebingungan pada Quinn sontak saja juga menggeleng kepalanya. Kubantu saja guru itu membawa tiga angklungnya sedangkan Quinn membawa empat angklung
Setiba di kelas, angklung-angklung itu aku taruh di lantai begitu juga dengan Quinn. Kami pun beranjak ke bangku lalu diriku mencatat rupa alat musik yang kubawa tadi saat jalan ke kelas.
“Angklung merupakan alat musik Ideofon ...,” jelas ibu itu lalu ia jelaskan kembali “Ideofon adalah alat musik yang dapat mengeluarkan suaranya sendiri.”
“Siapa yang ingin memainkannya?” tanya Ibu itu dengan alis terangkat dan juga simpul di bibirnya.
“Ayo!” bisikku dengan mata yang berlinang dan jari mengetuk-ngetuk pundak Quinn.
Kami pun maju setelah tiga teman kelas kami, yaitu Rafi, Dian, dan Ludfi lalu ditambah Denis dan Iskandar yang ditunjuk oleh guru.
Menggerakkan dan menggoyangkan angklung tidaklah sulit. Bagian tersulitnya adalah menghafal lubang mana yang harus ditekan ketika ingin membunyikan kunci-kunci indah dalam bernyanyi. Terasa seperti mengelilingi wilayah permukiman ini saat kunci C dan kunci A terdengar.
“Kau tahu ...!” tanyaku pada Quinn saat berjalan bersama keluar gerbang sekolah kemudian aku pun menyambung, “Aku mendapat pelajaran sekarang!”
Mendengar itu lekas saja Quinn mengangkat bahunya seraya memutarkan bola matanya ke atas dan juga kedua telapak tangannya melayang di udara.
Menghadap ke kiri di depan sekolah lalu melangkah lurus di sepanjang jalan dan belok kiri kembali. Akhirnya aku melihat sebuah halte baru yang belum pernah kulihat karena belum pernah melewati jalan lurus ini.
Mengambil arah kiri kembali seraya menghafal nama g**g-g**g kecil yang terbagi menjadi empat di kanan jalan. Quinn dan aku pun lagi dan lagi berbelok kiri setelah melewati jalan lurus yang sangat panjang hingga tiba di plang jalan yang sepertinya pernah aku lihat, yaitu Jalan Melati.
Sepertinya aku melihatnya tadi pagi!