Semua Tak Seperti Kelihatannya

1042 Kata
“Kenapa harus di taman? Mengapa kita kita duduk santai di sofa ruangan kamarmu saja?” tanya Carl sembari melirik ke arah sofa yang cukup luas di kamar Sen. Mendengar permintaan sang Papa, Sen buru-buru tersenyum sembari menggelengkan kepala. Lelaki itu kemudian beralasan, “Akan lebih enak kalau kita berbicara di sana. Jenuh rasanya berada di sebuah ruangan tertutup. Sesekali, Sen ingin menghabiskan waktu di tempat terbuka.” Carl dan Erlaine saling berpandangan. Keduanya saling menaikkan sebelah alis sebelum akhirnya menganggukkan kepala. “Baiklah, ayo kita bicara di sana,” setuju Carl. “Terima kasih, Pa,” ujar Sen sembari memperlihatkan senyumannya yang menawan. Berlainan dengan Sen yang terlihat bahagia akan persetujuan Sen, Vailea merasa kecewa. Pergi ke taman mengharuskan dirinya berjalan agak jauh. Padahal dia masih merasakan sakit di asetnya akibat diterobos oleh Liam tadi malam. “Apa lelaki itu sedang menyiksaku?” terka Vailea sedih. Pandangan perempuan cantik tersebut terarah pada lantai. Vailea berusaha menyembunyikan rasa sakit yang bersarang di dalam hati akibat keputusan Sen. Sementara itu di sampingnya, Sen melirik Vailea dengan sorot penuh rasa bersalah. Sejurus kemudian, dia mengeratkan genggaman tangannya di pinggang Vailea. Membuat perempuan bergaun floral tersebut langsung menoleh dan bergumam lirih, “Apa maumu?” Sen hanya mengulas senyum tipis mendengarnya. Dia lalu menaikkan pandangan. Menatap ke sosok ayah dan ibunya yang belum meninggalkan mereka. “Kenapa Ma, Pa? Bukankah Mama dan Papa setuju kalau kita berbincang di taman?” tanya Sen, berusaha mendesak keduanya untuk segera pergi. “Oh, kupikir kau dan Lea mau berjalan terlebih dahulu,” sahut Erlaine, beralasan. “Tentu tidak, Ma. Sen dan Lea akan berjalan di belakang Papa dan Mama,” elak Sen. “Baiklah kalau begitu,” sahut Erlaine sembari mengembuskan napas agak kencang. Perempuan berusia 50 tahunan tersebut lantas berbalik badan, membuat Carl mengikuti gerakan istrinya. Lalu bersama-sama, keduanya melangkahkan kaki. Meski mereka tidak bergandengan tangan, mereka terlihat sehati dan serasi. Melihatnya, Sen tersenyum sendiri. Membayangkan kalau suatu saat nanti, dia dan Vailea akan kompak dan romantis seperti orang tuanya. “Aku sangat berharap kalau kau mengandung anakku, Vailea. Tidak peduli kalau kau menolak anak itu, aku akan merawatnya dan berusaha mengambil hatimu, sebagai balasan karena hatiku telah dicuri olehmu,” tekad Sen di dalam hatinya. Sesudah berangan-angan sebentar, Sen mengembalikan kesadarannya. Menoleh pada Vailea yang terlihat kesal karena pertanyaannya tadi tidak dijawab. Merasa kalau sekarang kesempatan yang tepat, Sen kembali mengeratkan pelukannya dan berbisik, “Bisa gawat kalau Papa dan Mama melihat noda di atas tempat tidur. Aku tidak ingin dicap sebagai lelaki berandalan, sekaligus melindungimu dari rasa malu. Biasanya, calon mertua memadang rendah calon menantu yang sudah tidur dengan putra putrinya.” Mendengar alasan Sen yang ternyata juga menyelamatkan dirinya, pipi Vailea langsung menampilkan semburat merah. Perlahan, semburat itu menyebar luas, membuat wajahnya semerah tomat matang. “Jadi sekarang, tahan sedikit rasa sakitnya,” pinta Sen sembari menberikan kecupan hangat, tepat di telinga Vailea. *** Dalam perjalanan menuju taman, Sen menyempatkan diri meminta pelayan untuk menyiapkan makanan dan minuman. Mana mungkin dia membiarkan ayah ibunya bertamu tanpa mendapat jamuan yang pantas. Sehingga ketika dia dan Vailea duduk di bangku gazebo, pelayan berdatangan satu persatu. Membawakan makanan ringan dan minuman menyegarkan. “Silakan menikmati hidangannya Pa, Ma,” ujar Sen sembari meraih lap di atas meja. Lelaki itu membersihkan tangannya yang terkena tumpahan es lemon. Adapun gelasnya sudah dia tinggal di meja dekat ambang pintu. Sen mana mungkin membawanya kemari. “Kau jadi repot,” sahut Erlaine sembari mengulurkan tangan. Mengambil salah satu roti kering dengan icing berwarna ungu di atasnya. “Tidak repot kok Ma,” tepis Sen seraya menggelengkan kepala. Setelah mengelap tangannya, Sen memberikan kembali lapnya kepada pelayan. Kemudian dengan penuh percaya diri, dia merangkulkan tangannya di bahu Vailea sembari berkata, “Kalau kau mau juga, ambil saja. Makanan dan minumannya untuk kita semua, kok.” Gugup karena tiba-tiba dirangkul oleh Sen, Vailea hanya bisa menganggukkan kepala sebagai jawaban. Perempuan itu terlalu takut untuk mengatakan sesuatu. “Hei, kenapa kau jadi malu-malu begini? Padahal dulu sebelum kita LDR, kau jarang blushing. Tapi kau tetap manis, sih,” bisik Sen. Meski lelaki itu mengatakannya dengan nada rendah, tapi tetap saja kedua orang tuanya dapat mendengar. Membuat Carl dan Erlaine jadi yakin kalau putranya bucin berat pada Vailea. Sementara itu, pipi Vailea bertambah merah dari sebelumnya. Rasanya, perempuan itu ingin melarikan saja dari sini untuk menghindari dari Sen yang berhasil membuat jantungnya tidak dalam keadaan aman. Bahkan rasanya, organ yang bertugas memompa darah tersebut hendak melompat keluar dari tempatnya. “Kalau dia bertingkah seperti itu, dia terlihat sangat manis seperti kucing. Aku jadi ingin mendaratkan bibirku di pipinya berkali-kali. Sayangnya, ada Papa dan Mama. Aku tidak berani melakukannya di hadapan mereka,” batin Sen sambil terus tersenyum. “Ehem.” Refleks, pandangan Sen tertuju pada sang Papa yang baru saja berdehem. Lelaki itu kemudian tanggap bertanya, “Ada sesuatu yang ingin Papa sampaikan?” Menganggukkan kepala, Carl kemudian menjelaskan, “Tujuan kedatangan Papa kesini adalah untuk mengajakmu berdiskusi soal bisnis. Kalau Mama hanya menemani Papa. Lagipula, Mama sedang tidak ada kerjaan katanya. Jadi sekarang, bisa kita berdua pindah ke gazebo sebelah sana? Topik yang akan kita bahas ini cukup sensitif.” “Oh. Baiklah Pa,” setuju Sen tanpa menaruh curiga sedikit pun. Dua lelaki tersebut bangkit dari kursi masing-masing dan mulai berjalan menuju gazebo lain yang jaraknya bisa dibilang cukup jauh. Dan sebelum meninggalkan Vailea dengan Erlaine, Sen meyempatkan diri mencondongkan tubuhnya ke kanan untuk berbisik, “Aku tidak akan lama, Lea. Kau bisa berbincang dengan ibuku.” Oleh karena perbuatan Sen tersebut, Vailea menganggukkan kepala dengan pipi yang masih semerah buah apel ranum. Vailea merasa sangat diperhatikan oleh Sen, sehingga dia mengiringi kepergian Sen dengan menatap pada punggungnya hingga lelaki itu duduk di kursi lainnya. “Mengapa melihat putraku seperti itu? Apa kau terpesona padanya sampai rela menukarkan segala sesuatunya demi mendapatkannya?” tanya Erlaine tiba-tiba. Dahi Vailea mengernyit seketika. Dia tidak memahami maksud Erlaine. Jadi dengan terus terang, perempuan cantik itu bertanya, “Maaf, Tante. Saya hanya memandang Sen, apa itu tidak boleh?” “Putraku seharusnya dipandang oleh perempuan berkelas, bukan yang murahan sepertimu! Aku tahu kalau kau pasti sudah mengajaknya tidur. Kau pasti melakukannya demi mendapatkan putraku. Iya, ‘kan?” balas Erlaine dengan nada yang kurang enak didengar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN