Terciduk Ortu

1056 Kata
“Perempuan memang merepotkan,” gumam Sen di dalam hati ketika mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir ranum Vailea. “Bukankah sejak awal, aku memang tidak mempercayaimu? Kalau aku percaya padamu, tidak mungkin aku memaksamu meminum wine itu dan menginterogasimu sampai kau darah tinggi,” balas Sen sembari sedikit mendengus. “Jadi sekarang, tidak usah menangis. Tangisanmu sia-sia karena aku bukan tipe lelaki yang gampang luluh melihat air mata perempuan. Lebih baik kau menyimpannya untuk hal lain,” saran Sen kemudian. Lelaki tampan itu kemudian melepaskan cekalan tangannya. Dia beringsut dari peraduan untuk memberi ruang bagi Vailea menerima kenyataan yang tidak dia inginkan itu. Baru saja menginjakkan kakinya di lantai, Sen mendengar Vailea berseru, “Kau jahat!” “Yakin?” tanya Sen Corazon sembari mengarahkan pandangannya pada sosok Vailea yang masih berbaring di atas peraduannya yang nyaman. Vailea mengepalkan tangannya dengan erat. Perempuan itu lantas membalas, “Kau sudah menuduhku yang tidak-tidak, mencuilkku, mengambil mahkotaku, dan bahkan sekarang kau menawanku! Kupikir, kau tidak cukup baik untuk disebut jahat!” “Kau seharusnya bersyukur, Lea!” seru Sen. Tangan lelaki itu menuding pada Vailea dengan kedua mata melotot sempurna. Sesudahnya, dia berkata, “Kalau aku ini orang jahat, sudah pasti aku meninggalkanmu setelah tidur denganmu dan berpura-pura tidak pernah terjadi sesuatu di antara kita.” “Aku tidak mengikatmu dengan rantai besi sebagaimana layaknya seorang tawanan. Aku juga membiarkanmu berjalan-jalan di mansion. Apa menurutmu, aku masih kurang baik?” lanjut Sen dengan api yang berkobar di dalam d**a. Vaila mengepalkan kedua tangan dengan erat. Perempuan itu berusaha kerasa agar otaknya tidak teracuni dengan kata-kata manis Sen. Karena bagaimana pun, dia ingin tetap pada pendiriannya. Sen adalah lelaki jahat yang tidak pantas mengaturnya seperti ini! Sementara itu di hadapannya, Sen membuang muka sembari berbalik badan. Lelaki tampan itu bermaksud menenangkan diri dengan menyesap segelas es lemon yang sudah tersaji di meja. Akan tetapi tepat ketika dia membungkukkan badan untuk meraih gelas, telinganya mendengar suara seseorang yang sedang berlari. Tanpa pikir panjang, Sen menoleh ke kanan. “Lea!” teriaknya ketika melihat Vailea berlari kencang menuju pintu. Vailea yang berencana kabur tentu tidak menghiraukan seruan dari Sen. Bahkan dia semakin kencang berlari, bagai tengah dikejar oleh seekor singa. Tidak peduli kalau dia merasa kesakitan setiap kali melangkahkan kaki. Karena yang terpenting bagi Vailea sekarang adalah melarikan diri dari ruangan ini. Sen tidak tinggal diam. Lelaki itu langsung tancap gas tanpa peduli kalau dia sedang membawa segelas es lemon. Alhasil, minuman dingin nan menyegarkan tersebut tumpah-tumpah di lantai. “Sedikit lagi, Lea! Kau pasti bisa!” batin Vailea untuk menyemangati dirinya sendiri. Perempuan berambut pirang tersebut mengulurkan tangan. Meraih kenop pintu dan langsung memutarnya. Vailea tidak ingin membuang waktu barang satu detik pun. Sebab baginya, setiap detik sangat berharga. Satu detik dapat menjadi penentu, apakah dia berhasil selamat dari kejaran Sen Corazon atau malah terperangkap lebih jauh dengan lelaki itu. Begitu pintu terbuka, mata Vailea membulat sempurna. Sesudah itu, dia langsung berpegangan pada pintu. Tidak ingin menabrak dua orang yang entah muncul dari mana. “Ada apa dengannya?” bingung Sen saat melihat Vailea berusaha keras menghentikan larinya. Padahal kalau dipikir, ini kesempatan emas bagi Vailea untuk kabur. Sen yang penasaran pun bertanya, “Kenapa?” Mendengar suara lelaki itu, Vailea langsung menoleh ke belakang. Mendapati Sen yang sudah berjalan santai dan tidak lagi mengejarnya. Melihat Vailea yang memandangnya tanpa mengatakan apa-apa, Sen jadi tambah penasaran. Lelaki itu memutuskan untuk menambah kecepatan langkahnya dan berhenti tepat di samping Vailea. Adapun matanya mencuri pandang ke arah ambang pintu. Mencaritahu apa gerangan yang membuat Vailea sampai diam di tempat seperti orang ketakutan. “Papa, Mama?” desis Sen terkejut. Ternyata, sepasang orang yang dilihat oleh Vailea adalah ayah dan ibu kandung Sen Corazon. Mereka berdua terlihat sangat syok ketika mendapati seorang perempuan berlari keluar dari kamar Sen. “Siapa dia, Sen?” tanya Erlaine, ibu kandung Sen. Sen dan Vailea kompak bertukar pandang. Dimana Sen menaikkan sebelah alisnya dan Vailea langsung menggeleng-gelengkan kepala. Mereka seolah mengetahui isi kepala masing-masing dan berbicara melalui telepati. Melihat kelakuan sejoli di hadapannya, Erlaine mengarahkan pandangan pada suaminya, Carl. Dan ternyata, Carl menoleh ke arahnya. Mereka memiliki pemikiran yang sama mengenai hubungan antara Sen dengan perempuan berambut pirang tersebut. Sementara itu, Sen mengembangkan senyum manis ketika melihat penolakan Vailea. Lelaki itu dengan sengaja merapatkan diri, melingkarkan tangannya di pinggang Vailea, dan menarik tubuhnya untuk lebih mendekat. “Kenalkan Pa, Ma. Dia kekasihku, namanya Vailea,” ujar Sen dengan tenangnya. Merasa kalau keadaan akan berubah canggung kalau dia tidak mengikuti ucapan Sen, dengan terpaksa Vailea ikut tersenyum dan menyapa, “Selamat pagi Paman, Tante. Saya Vailea, biasa dipanggil Lea.” Setelah mengucapkan hal tersebut, Vailea melangkahkan kakinya ke depan. Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Beruntungnya, Carl dan Erlaine menyambutnya dengan baik. “Kau sudah punya kekasih, Sen? Mengapa kau tidak memperkenalkannya sejak dulu? Papa dan Mama tidak pernah melihatmu bersama seorang perempuan pun,” tanya Carl. Ada rasa curiga di benaknya kalau Vailea bukan kekasih Sen dan berpikir kalau putranya asal bicara. “Maaf karena Sen belum sempat memperkenalkannya pada Papa dan Mama. Kami sebenarnya sudah menjalin hubungan cukup lama, tapi LDR. Baru tadi malam Sen sempat bertemu dengan Lea, sekalian Sen ajak main kesini. Dia belum pernah kesini sebelumnya. Dan rencananya, Sen mau pergi ke kediaman utama untuk memperkenalkan Vailea pada Papa dan Mama, tapi Papa dan Mama malah datang kesini,” bohong Sen, panjang kali lebar. “Gila! Apa lelaki ini pembohong ulung? Dia bahkan bisa menyusun skenario dalam waktu singkat dan nyaris tidak ada cacat logika dalam ucapannya. Wah, wah! Dia tipe lelaki yang harus aku waspadai,” batin Vailea. Erlaine kemudian menanggapi dengan mata berbinar, “Jadi kalau kami tidak kemari, apakah kau akan berkunjung?” “Iya, Ma. Aku bahkan mengambil cuti hari ini. Silakan tanya pada Hendrick kalau Mama dan Papa tidak percaya,” balas Sen penuh percaya diri. “Tidak perlu. Kau ada di sini jam segini tanpa jas dan dasi saja sudah membuat Mama yakin kalau kau tidak akan berangkat ke kantor,” tolak Erlaine yang sudah hapal kalau putranya biasa berangkat lima menit lagi. Seulas senyum pun terbit di bibir merah Sen ketika mendengar ucapan sang Mama. Setelahnya lelaki itu menawarkan, “Berhubung Papa dan Mama sudah ada disini, bagaimana kalau kita mengobrol di taman? Sepertinya akan menyenangkan kalau kita membahas beberapa hal menyenangkan di sana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN