“Umm.”
Vailea menggeliat ketika merasa ada sinar matahari yang menyilaukan matanya. Gadis itu kemudian membuka matanya perlahan. Tidak lupa menguceknya untuk membersihkan kotoran yang berada di sudut mata.
Hal yang pertama kali dilihat oleh Vailea begitu membuka kedua mata adalah selimut. Posisi tidurnya yang menyamping membuatnya dapat melihat keberadaan kain tebal berwarna putih bersih tersebut.
“Tidur lagi, ah,” batin perempuan itu sambil kembali memejamkan kedua mata.
Untuk menghindari silau, Vailea menutupkan selimut tebal ke kepalanya. Lalu dengan tenang, dia menenggelamkan diri ke alam mimpi. Berpikir kalau ini hari biasanya. Hari dimana dia biasa menghabiskan pagi hari dengan bergelung di balik selimutnya yang nyaman.
Akan tetapi baru saja Vailea memejamkan mata, indra pendengarannya dikejutkan dengan suara almari yang terbuka. Sontak saja perempuan itu membulatkan kedua matanya. Jantung pun jadi berdegup tidak karuan.
“Si-siapa yang masuk ke kamarku? Apa dia seorang pencuri?”
Sungguh, Vailea paling takut kalau ada orang yang menerabas masuk ke ruangannya. Terlebih orang itu membuka almari, semakin menambah kecurigaan Vailea.
“Bagaimana ini? Haruskah aku tetap berpura-pura tidur supaya selamat?”
“Aargh! Membingungkan!”
Setelah sempat ragu dan berpusing-pusing ria, Vailea akhirnya memutuskan untuk tetap diam di tempatnya. Cari aman supaya tidak terluka dalam peristiwa ini.
Akan tetapi beberapa saat kemudian, Vailea mendengar suara langkah mendekat. Jantungnya pun berpesta. Degup jantungnya bahkan menyamai orang yang baru selesai lomba lari.
“Jangan kesini, jangan kesini, jangan ke—”
Harapan Vailea ternyata tidak terkabul. Sebab sekarang, selimut yang menyelimuti wajahnya disibak oleh seseorang. Hal itu pun membuat keringat dingin semakin bercucuran di dahinya.
Melihat raut ketakutan di wajah Vailea, tercipta senyum manis di bibir Sen Corazon. Lelaki itu iseng mendekatkan wajahnya. Embusan napas hangatnya pun memberikan gelitik hangat di pipi Vailea.
“Eh? Dia mendekat? Apa dia mau macam-macam? Perlu aku cakar wajahnya?”
Vailea kembali dilanda kebingungan. Namun lagi-lagi, perempuan itu diam. Tidak melakukan apapun untuk mewujudkan pemikirannya. Hingga akhirnya, Vailea merasakan ada sesuatu yang hangat menempel di bibir merahnya.
“A-aku harus mendorongnya! Kali ini, aku tidak boleh membiarkannya!” tekad Vailea.
Perempuan itu langsung membuka mata. Bersiap melayangkan tatapan maut pada orang yang sembarangan mendaratkan bibirnya seperti ini. Namun begitu melihat siapa yang berada di hadapannya kini, tubuh Vailea membeku seketika.
Lelaki itu … adalah Sen.
CEO kaya raya tersebut terlihat sangat menawan dengan rambut yang basah sehabis keramas. Sudah begitu, dia tidak mengenakan pakaian bagian atas. Hanya melilitkan handuk di pinggang untuk menutupi bagian pribadinya.
“Kau mengagumi ketampananku?”
Vailea tersentak ketika mendengar perkataan Sen. Bahkan bola matanya membulat sempurna. Sebab dia sama sekali tidak sadar kalau Sen sudah mengakhiri tautan bibir mereka.
“Jangan melihatku seperti itu. Kau makin menggemaskan,” canda Sen sembari mendekatkan wajah. Memberikan kecupan singkat di kelopak mata Vailea.
Selesai memberikan hediah kecil untuk Vailea, Sen duduk di tepian ranjang. Manik biru langit miliknya mengamati Vailea yang nampak blushing. Hal itu terlihat jelas dari pipinya yang merona merah.
Melihatnya, Sen tersenyum sendiri. Lelaki itu juga membatin, “Ini pertama kalinya aku tertawa bahagia karena perempuan.”
“Jangan senang dulu, Vailea. Aku memberikan kecupan ini hanya untuk membuatmu bangun,” ujar Sen, gengsi mengakui kalau dia melakukannya karena ingin.
“Siapa yang senang?!” kesal Vailea sambil mencebikkan bibir.
Perempuan cantik itu kemudian membuka kedua mata. Menyorot sebal pada Sen. Lalu, bangkit dari tidurnya. Dia malu kalau harus berbaring sendirian.
Akan tetapi beberapa detik berikutnya, Vailea merasakan sakit di aset terpenting miliknya. Tak ayal, perempuan itu mendesis kesakitan.
“Baru sadar sekarang?” Sen Corazon balik bertanya.
“Cepat katakan, sialan!” geram perempuan di sampingnya.
Rasa-rasanya, Vailea ingin menarik kemeja Sen. Sayang, lelaki itu tidak mengenakannya. Yang bisa Vailea lakukan sekarang hanyalah memelototi Sen.
Dengan air mata yang hampir tumpah, Vailea bertanya, “Semalam, apa yang kita lakukan?”
“Baru tanya sekarang?” Alih alih menjawab, Sen balik bertanya.
“Tidak udah banyak komentar dan cepat jawab pertanyaanku, sialan!” maki Vailea sambil mencengkeram erat bahu Sen Corazon.
Bohong kalau jiwa Vailea tidak berguncang. Dunianya bahkan serasa hendak runtuh ketika otaknya memikirkan sebuah kemungkinan yang sangat dia takuti.
Namun dengan entengnya Sen menjawab, “Kau sudah bisa menarik kesimpulan sendiri tanpa aku harus aku beritahu. Atau kau ingin aku menunjukkan bukti berupa video CCTV?”
“K-kau merekamnya?” tanya Vailea dengan suara lesu.
“Kau sudah tidak waras!” umpatnya kemudian.
Usai mengatakan hal tersebut, Vailea merangsek maju. Dia berusaha mencakar wajah Sen untuk membuatnya kesal. Jera kalau perlu.
Akan tetapi kali ini, Sen tidak membiarkan Vailea bertindak semaunya. Lelaki tampan tersebut langsung mencekal tangan Vailea. Tidak lupa untuk menguncinya dan mendorongnya ke atas tempat tidur yang nyaman.
“Jangan membuat keributan, Lea!” peringat Sen.
Begitu mendengar namanya disebut, Vailea tercengang. Tangan dan kaki yang semula bergerak tak karuan sebagai upaya meloloskan diri itu berhenti dalam sekejap. Menunjukkan bahwa dia betul-betul terkejut akan fakta ini.
Vailea kemudian bertanya lirih, “Kau tahu namaku?”
“Aku meminta Hendrick untuk mencaritahu tentangmu. Mana mungkin aku membiarkan kau pergi tanpa meninggalkan identitas yang jelas. Terlebih, bisa jadi kau akan memberikanku seorang keturunan,” jawab Sen sambil mendengus sebal.
Mata Vailea semakin bertambah bulat setelah mendengar ucapan Sen. Terlebih, ketika lelaki itu menyinggung soal bayi. Arah pandangan perempuan itu langsung mengarah pada perutnya. Baru sadar kalau perbuatan mereka semalam bisa berakibat fatal dan membuat suram masa depannya.
“Oleh karena itu, kau akan aku awasi selama tiga bulan. Dalam jangka waktu itu, aku akan bertanggung jawab penuh menikahimu jika memang kau mengandung anakku. Tapi seandainya kau tidak hamil, kau boleh pergi,” ujar Sen, mencoba menahan Vailea untuk tetap berada di sisinya.
Vailea menaikkan pandangannya. Perempuan itu menatap Sen penuh kebencian seraya berseru, “Solusi yang kau katakan itu tidak segampang yang kau pikirkan, bodoh!”
“Minggir! Aku mau pulang!” pinta Vailea sambil berusaha bangkit.
“Tidak boleh! Aku tidak bisa menjamin apakah kau akan bertemu dengan lelaki lain di luar sana. Siapa tahu, kau berusaha keras memiliki anak supaya aku menikahimu. Aku tidak mau hal itu terjadi, Lea!” tolak Sen mentah-mentah.
Dituduh merencanakan hal yang kurang baik, air mata Vailea kembali mengalir. Perempuan itu sungguh kecewa dengan penilaian Sen. Jadi dengan bibir bergetar dia bertanya, “Kau ragu padaku? Kalau iya, kenapa kau harus menikah dengan orang yang tidak kau percayai?”