Hendrick langsung memandang ke spion tengah. Terlihat olehnya wajah cantik Vailea yang tanpak begitu serius. Kelihatannya, perempuan itu bersungguh-sungguh akan ucapannya barusan.
Biarpun demikian, Hendrick bekerja untuk Sen Corazon, bukan untuk Vailea Lexille. Oleh karena itu, dia tetap melajukan mobil ini ke arah butik Croissant de Mont sambil menunggu datangnya perintah dari tuannya.
Sen merasa sangat kesal saat ini. Bahkan tanpa dia sadari, urat lehernya terlihat tegang. Menebarkan semburat kehijauan di leher putih mulusnya itu.
“Rumah? Oh, kita tidak jadi belanja?” tanya Sen, sarkas.
Lelaki itu lalu melirik sinis ke arah Vailea. Terlihat oleh Vailea yang memandangnya balik dengan tatapan kesal.
Sen berkata lagi, “Karena kamu menyebutkan tentang rumah, maka … maksudmu itu adalah rumahku? Apa kamu memang secepat ini membuka pintu hatimu untukku?”
“Wah, wah! Aku kira, semuanya tidak akan berjalan semulus ini,” pungkas Sen seraya bertepuk tangan.
Kata demi kata yang meluncur keluar dari bibir Sen itu mampu membuat darah Vailea mendidih. Ingin rasanya dia merobek bibir Sen hingga berdarah-darah. Tapi sayangnya, hal itu tidak mungkin dia lakukan sekarang.
Vailea pun memberikan lirikan tajamnya. Dia bersedekap sambil berujar, “Siapa juga yang menganggap rumahmu itu sebagai rumahku juga? Jangan sok!”
“Memangnya, kamu punya rumah?” sindir Sen lagi.
“Kau!” bentak Vailea sambil menarik kerah leher Sen.
Dari jarak yang sedekat itu, Sen bisa melihat Vailea yang terlihat sangat marah. Bahkan kedua bola matanya seakan hendak menggelinding keluar dari tempatnya.
Sen menarik sebelah sudut bibirnya ke atas. Bersamaan dengan itu, tangannya mulai menyibak rambut yang menutupi dahi Vailea.
“Kenapa, ya? Padahal kamu sedang marah, tapi wajahmu masih terlihat cantik,” gombal Sen dengan penuh percaya diri.
“Sialan!” maki Vailea sambil mendorong tubuh lelaki itu. Dia bahkan tidak peduli kalau perbuatannya barusan membuat punggung Sen terantuk cukup kencang di kursi.
Alih-alih marah karena Vailea sudah mendorongnya seperti itu, Sen malah tertawa. Tangan lelaki itu juga membersihkan kerah lehernya sambil bergumam, “Menarik sekali.”
“Dasar orang gila! Apanya yang menarik dari didorong oleh seseorang?” Vailea terlihat tidak percaya dengan reaksi yang diberikan Sen.
Sen menghentikan tawanya. Lelaki itu berkata, “Tentu saja ini menarik. Kau baru saja menarik kerah bajuku untuk melihat wajahku yang super tampan ini dari dekat, tapi kemudian kau mendorongku dengan kencang, seolah kau ingin mematahkan punggungku.”
Ucapan Sen tersebut membuat Vailea tambah geram. Tanpa pikir panjang, perempuan itu memukulkan tangannya di bahu Sen sambil berteriak, “Siapa juga yang mau ngelihat muka kamu yang jelek itu? Sadar diri dikit jadi manusia!”
“Tapi sekarang, kamu dekat-dekat denganku lagi,” ucap Sen dengan santai sembari memandang tepat pada kedua mata Vailea.
Vailea tersentak. Dia baru sadar kalau aksi pemukulannya barusan memang membuat dia menjadi lebih dekat dengan lelaki itu.
Buru-buru Vailea memundurkan tubuhnya. Dia tidak ingin membuat Sen jadi gr dan kembali mengganggunya seperti barusan.
Akan tetapi, Sen terlebih dahulu membaca gerakan Vailea. Lelaki itu langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang Vailea, mencegahnya pergi kemana-mana.
“Sial! Singkirkan tangan kotormu itu!” geram Vailea sambil berusaha melepaskan diri.
Saking gigihnya Vailea ingin melepaskan diri, dia sampai tidak sadar kalau dia mendorong kursi Hendrick ke depan. Hal itu jelas membuat Hendrick kerepotan, tapi Hendrick tidak berani memprotes. Yang dia lakukan hanya bersabar dan mengemudi dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
Di saat yang sama, Sen mempersempit diameter pelukannya. Hal itu jelas membuat Vailea semakin dekat dengannya.
“Stop!” teriak Vailea dengan kencang. Dia juga mulai mendorong bahu Sen supaya jarak di antara mereka tidak terus terkikis.
Sayangnya, perlawanan Vailea sia-sia. Sebab pada akhirnya, Sen mampu membuatnya duduk di pangkuan.
Mendapati usahanya berhasil, Sen menyeringai. Lelaki yang tadi tampak sangat baik dan boyfriendable ketika berada di mall, kini tampak seperti seseorang yang sangat jahat dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Emang iblis nih cowok!” maki Vailea di dalam hati. Matanya tidak lepas menatap Sen dengan pandangan kesal.
Tanpa memedulikan hati Vailea yang dibuat dongkol karena ulahnya, Sen mengulurkan tangan kanannya, mengusap lembut pipi perempuan itu. Tentu saja ulahnya membuat Vailea semakin geram.
“Nggak usah pegang-pegang!” kesal Vailea sambil memukul bahu Sen Corazon.
Perempuan itu juga berusaha melepaskan diri dari pelukan Sen, mengingat lelaki itu sekarang hanya memegangi pinggangnya dengan sebelah tangan saja. Namun ternyata, tenaga Sen jauh lebih kuat dari yang Vailea perkirakan.
“Kenapa nggak boleh pegang?” tanya Sen dengan santainya.
Dengan penuh amarah, Vailea menepis tangan Sen. Keberhasilannya membuat Sen kembali menyeringai.
“Mengesankan,” ujar lelaki itu dengan suara lirih, tapi masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Vailea.
“Aku tidak butuh pujian dari lelaki red flag sepertimu!” ketus Vailea.
Sen menaikkan sebelah alis begitu mendengar ucapan perempuan di pangkuannya itu. Dia lalu melingkarkan tangan kanannya ke pinggang Vailea, membuat Vailea terkejut dan menundukkan kepala untuk sesaat.
Tanpa Sen ketahui, Vailea sedang menggigit bibirnya. Dia berusaha keras menahan suara memalukan itu keluar dari mulutnya.
Sementara itu, Sen hanya tahu kalau Vailea sedang tidak baik-baik saja dengan apa yang baru saja dia lakukan. Jadi dengan sabar, Sen menunggu. Dia memperhatikan Vailea yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu.
Setelah merasa baikan, Vailea mengangkat pandangannya. Mata perempuan itu terlihat lebih tajam dari sebelumnya. Juga, dipenuhi oleh kilatan amarah.
“Cepat singkarkan tangan busukmu itu!”
Vailea terlihat tidak main-main dengan amarah yang bergelora di hatinya. Akan tetapi, Sen juga sama. Dia juga tidak main-main memerangkap Vailea dalam pangkuannya. Sen mana mau bersusah payah seperti ini kalau dia tidak memiliki tujuan yang jelas. Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.
“Jangan buru-buru, Sayang. Kamu saja baru duduk di pangkuanku, kenapa aku harus melepaskanmu secepat itu?” tanya Sen dengan kedua pipi yang digembungkan, seolah sedang merajuk.
Vailea memutar bola matanya ke atas. “Sayang dari Hongkong? Huh! Mending kamu cari perempuan lain yang bisa kamu panggil dengan panggilan murahan seperti itu!”
Tanpa peduli dengan ocehan Vailea, Sen melirik ke arah arloji yang melingkar di tangan kirinya. Dia lalu berkata, “Ini bahkan belum ada lima menit, Lea.”
“Apa aku terlihat peduli?” sarkas Vailea sambil mendengus.
“Tidak,” jawab Sen jujur. Kedua mata lelaki itu juga memandang wajah Vailea dengan penuh keseriusan, seolah tidak akan melewatkan satu inchi pun dalam pengamatannya.
“Kalau sudah tahu, kenapa masih menahanku di sini?” geram Vailea.
Menarik napas sebentar, Sen lalu menjawab, “Aku hanya ingin kau mengingat satu hal ini.”
“Apa?” tanya Vailea tidak sabar. Adapun batinnya mengomel, “Cih! Dia giniin aku cuma mau ngomong satu hal? Bener-bener otaknya kurang setengah!”
Alih-alih menjawab, Sen malah menangkupkan tangan kanannya di pipi Vailea. Hal itu membuat kedua mata Vailea melotot seperti burung hantu. Dia merasa tertipu karena sudah menungg, tapi tidak mendapatkan apa-apa.
“Jangan pernah membuatku marah, Lea,” ujar Sen, lambat. “Oh. Bahkan, jangan merusak mood-ku.”
Vailea merotasikan bola matanya. Dia lalu berseru sebal, “Apa peduliku? Lagipula kau pantas menerima semua itu dariku!”
“Karena bila aku marah …”
Sen sengaja menggantung kalimatnya. Lelaki itu lalu mendekatkan wajahnya, membuat Vailea refleks mundur.
Tentu saja Sen sudah mengantisipasi penolakan Vailea. Oleh karenanya sekarang, dia menelusupkan jemari di antara rambut yang tergerai elok di kepala Vailea.
“… ini yang akan terjadi,” ujar Sen, menyambung ucapannya yang tadi. Lalu dengan cepat, dia mendaratkan bibirnya. Mencecap rasa manis yang ditawarkan bibir perempuan itu.