Tak ayal, pipi Vailea menampilkan semburat merah. Buru-buru dia melarikan diri ke lift terdekat. Dia tidak mau Sen sembarangan mendaratkan bibirnya lagi seperti barusan.
“Lea!” teriak Sen kencang ketika melihat pujaan hatinya melarikan diri.
Buru-buru lelaki itu berlari, takut kalau Vailea melarikan diri. Sementara itu, Vailea langsung panik karena Sen tiba-tiba mengejar, seperti polisi yang hendak meringkus maling. Akhirnya, mereka jadi kejar-kejaran di dalam mall.
“Astaga! Apa aku sedang menyaksikan drama tv?” ucap Hendrick sambil menepuk jidat. Dia tidak habis pikir melihat Tuan dan Nona-nya berkejaran seperti itu.
***
“Kena!”
Sen berteriak kegirangan ketika dia berhasil menangkap Vailea. Lelaki itu bahkan bertingkah seperti anak kecil, memeluk Vailea dengan kencang dan tidak mau melepaskannya.
“Le-lepasin, ih! Nggak malu apa kalau dilihat orang?” kesal Vailea.
Perempuan itu tentu malu menjadi pusat perhatian orang-orang. Bahkan, ada salah satu pegawai toko yang sibuk menahan senyum melihat keromantisan mereka.
“Nggak! Kalau aku lepas, kamu bakal lanjut kabur, ‘kan? Aku nggak mau kehilangan kamu dan akhirnya kamu deket sama laki-laki lain!” tolak Sen. Pipinya juga menggembung, terisi oleh kecemburuan.
“Uhuk!”
Vailea terbatuk seketika. Dia tidak menyangka kalau Sen bertingkah seperti ini hanya karena takut dia kabur.
“Kamu batuk? Sakit?” tanya Sen panik.
Segera Sen melepaskan pelukannya, beralih membalikkan tubuh Vailea hingga mereka berdua bisa berpandangan satu sama lain.
Vailea bisa melihat dengan jelas kekhawatiran yang terpancar di mata Sen. Hal itu sedikit banyak membuatnya senang, tapi juga sedih di waktu yang sama.
“Andai pertemuan kita lurus-lurus saja, aku pasti … sudah jatuh hati padamu,” batin Vailea tanpa melepaskan pandangannya dari Sen Corazon.
Vailea memejamkan mata, dia lalu mendorong sedikit lengan Sen sembari berkata, “Nggak sakit, cuma keselek aja.”
“Syukurlah,” lega Sen sambil mengelus dadanya.
Sesaat setelahnya, Sen menawarkan, “Mau minum dulu nggak? Kamu tinggal sebut nama minuman yang kamu mau, pasti aku cari sampai dapat.”
“Nggak usah,” tolak Vailea cepat. Dia tidak ingin merepotkan.
Sen menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak boleh gitu! Kamu harus minum sesuatu! Ayo beli minuman di sebelah sana, aku yang bayar!”
Sambil mengatakan itu, Sen menarik tangan Vailea. Sen memastikan Vailea menuruti kata-katanya. Sebab dia benar-benar khawatir kalau Vailea tersedak cukup parah.
Yang bisa Vailea lakukan hanya menuruti keinginan lelaki itu. Vailea dibawa menuju salah satu outlet minuman terdekat dari tempat Sen berhasil menangkapnya.
“Apa ada yang menarik perhatianmu?” tanya Sen sambil mengarahkan pandangannya pada list menu.
Vailea merasa tidak enak hati untuk menolak kebaikan Sen. Perempuan itu akhirnya menjawab, “Biar aku pikir dulu.”
“Oke,” setuju Sen tanpa pikir panjang.
Vailea pun memusatkan perhatiannya ke daftar menu yang ditempel di dinding. Ada cukup banyak menu di sana, tapi Vailea bisa melihat kesamaan dari semua menu minuman itu … mahal!
“Astaga! Masa iya teh satu gelas harganya tujuh ribu! Kalau di warung biasa, cuma dua ribu. Kalau harganya mahal-mahal gini, aku harus milih yang mana? Mau ambil es teh, sayang karena harganya tujuh ribu. Soalnya nambah dikit bisa dapet menu lain yang belum pernah aku cobain,” bingung Vailea.
“Hiks! Apa nggak boleh aku minta air mineral lagi aja?” pikir Vailea sambil mencuri pandang ke arah Sen.
Sen yang merasa diperhatikan pun menoleh, mendapati Vailea yang sedang menatap ke arahnya. Oleh karena itu, pandangan keduanya bertemu.
Hanya karena kebetulan seperti itu, Sen jadi gr. Lelaki itu bahkan membatin, “Apa dia menyukai wajahku yang tampan ini? Sampai-sampai, dia tidak bisa fokus memilih minuman yang dia inginkan?”
Tanpa sadar, bibir Sen mengembangkan seulas senyum tipis. Vailea yang melihatnya pun tersentak.
“Bisa-bisanya aku natap cowok ngeselin ini!” rutuknya di dalam hati sambil mengalihkan pandangan ke arah lain.
Di sisi lain, Sen terkejut karena Vailea tiba-tiba membuang muka. Lelaki itu menaikkan sebelah alis sembari membatin, “Kenapa? Apa yang salah? Kok Lea nggak mau natap aku lagi? Apa aku tiba-tiba jadi kurang menarik di mata dia? Aargh!”
“Ekhem!”
Vailea berdehem kecil, menyita perhatian seorang Sen Corazon. Deheman perempuan itu ternyata mampu membuat Sen menoleh dan bertanya khawatir, “Kamu terrsedak lagi?”
Sebagai jawaban, Vailea menggelengkan kepala. Dia juga berkata, “Aku mau pesan frappucino.”
“Oh, oke,” sahut Sen cepat.
Dengan segera, Sen menggandeng tangan Vailea sambil mulai berjalan. Mau tak mau, Vailea mengikuti Sen yang membawanya ke depan kasir.
“Mbak, pesan frappucino dua,” ujar Sen.
“Baik, Kak. Mohon ditunggu ya,” balas kasir tersebut. Dia juga segera memberikan kode pada temannya untuk segera membuatkan pesanan Sen.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Sen berjalan memasuki outlet tersebut dengan tangan yang masih bergandengan dengan Vailea. Mereka duduk berdampingan di bangku yang terlihat masih baru.
Vailea yang merasa malu karena tangannya digenggam terus menerus pun mencoba melepaskan tangannya pelan-pelan. Sen yang menyadari pergerakan Vailea pun bertanya, “Kenapa?”
“Pake nanya!” kesal Vailea di dalam hati.
Sambil membuang muka karena malu, Vailea menjawab, “Pegal.”
Jawaban yang tidak disangka-sangka itu sukses membuat Sen terkejut. Segera dia melepaskan tangan Vailea dengan perasaan bersalah.
“Maaf,” ucap Sen lirih. “Aku nggak bermaksud gitu.”
“Hm,” sahut Vailea malas-malasan, bertingkah seperti sedang bad mood.
Hanya karena permasalahan kecil seperti itu, Sen jadi kepikiran. Lelaki tampan itu menundukkan kepala sambil berkata, “Nggak akan aku ulangi.”
Mendengar ucapan Sen, rasa bersalah mulai menyusup di hari Vailea. Perempuan itu jadi merasa tidak enak karena sudha membuat Sen seperti ini.
“Tapi kalau aku ngaku kalau sebenarnya aku malu digandeng Sen, pasti dia malah jejingkrakan nggak karuan. Jadi … biarin ajalah, yang penting dia nggak sampe nangis. Bisa bahaya kalau emaknya sampe tahu. Aku pasti langsung dijadiin geprek gara-gara bikin anak kesayangannya nangis bombay,” pikir batin Vailea.
Vailea menghembuskan napas panjang. Sesaat setelahnya, dia menoleh ke arah Sen. Melihat pada raut murung yang nampak jelas di muka lelaki itu.
“Nggak usah dipikirin, napa? Santai dikit jadi orang, tuh,” ujar Vailea.
Sen menolehkan wajahnya, memandang Vailea penuh keraguan sambil berkata, “Tapi aku udah bikin kamu terluka, ‘kan?”
“Sial!” maki Vailea di dalam hati.
Dengan sedikit sewot, Vailea menyahut, “Udah dari kemarin malam, kali!”
Sen terkesiap. Dia kembali diingatkan akan tindakannya yang sangat tidak terpuji di malam mereka pertama bertemu.
Sambil bertingkah kesal, Sen memprotes, “Bahas yang bagus-bagus saja, kenapa? Mumpung tempatnya bagus juga.”
Vailea merotasikan bola matanya ketika mendengar ucapan Sen. Dia juga membatin, “Lagian sejak pertama ketemu, kelakuanmu udah minus. Nggak cocok dipanggil pakai sebutan Tuan. Nyesel aku pernah panggil gitu.”
***
Setelah minuman diantarkan, Sen segera membayar. Dia dan Vailea yang sedang perang dingin itu lalu berjalan menuju parkiran. Hendrick sudah menunggu di sana. Sebab tadi saat mengawasi Sen dan Vailea dari kejauhan, Hendrick mendapat perintah dari Sen untuk bersiaga di mobil.
“Masuk,” ujar Sen dingin sambil membuka pintu untuk Vailea.
Tanpa menjawab apa-apa, Vailea melangkahkan kakinya masuk. Perempuan itu duduk dengan ekspresi datar. Adapun tangannya menggenggam satu cup frappucino yang masih utuh.
Dari spion tengah, Hendrick hanya bisa membatin, “Tuan sama Nona kenapa lagi, sih? Nggak mungkin kan sikap mereka jadi dingin gara-gara mereka bawa minuman dingin.”
“Lama-lama, aku kena mental kerja sama Tuan Sen,” imbuh Hendrick dengan kepala yang ingin dia sandarkan di stir mobil.
Sen yang melihat Hendrick diam sedari tadi pun berkata tidak suka, “Apa yang kau tunggu? Cepat jalankan mobilnya!”
Hendrick terkesiap. “Ma-maaf, Tuan.”
Agar tidak kena marah, Hendrick segera melajukan mobilnya. Saat itu pula Vailea berkata pada Hendrick, “Antarkan aku ke rumah saja.”