"Haus sih, Kak. Tapi kayaknya lebih haus Kakak. Lagipula, Lea udah duduk dari tadi. Kakak juga habis lari-lari," jawab Vailea.
Buru-buru Hendrick menolak, "Terima kasih atas perhatian Anda, Nona. Tapi, saya duduk di bangku lain saja. Sekalian mau beli sesuatu."
"Betulan?" tanya Vailea memastikan.
Hendrick menganggukkan kepala dengan ekspresi meyakinkan. Dia tak mau Vailea meragukan dirinya.
Rupanya, trik Hendrick berhasil. Vailea langsung yakin kalau Hendrick tidak berbohong.
"Oke Kak, tapi jangan lama-lama. Nanti Sen marah lagi," pesannya.
"Haha, baik Nona," sambut Hendrick dengan diiringi tawa. Berusaha menghibur dirinya sendiri yang sering kena marah Sen Corazon.
Sesudah itu, Hendrick pun berbalik. Dia mulai berjalan menjauhi Sen dan Vailea demi menghindari kecemburuan Sen.
Di saat yang sama, Vailea kembali duduk di sebelah Sen. Dia meminum air mineral dengan tenang. Seolah dia tidak pernah melakukan kesalahan apa-apa.
Sen yang melihatnya jadi kesal. Bahkan dengan sorot mata tajamnya, Sen melirik Vailea. Membuat tengkuk Vailea tiba-tiba meremang.
"Ada apa, sih?" bingung gadis itu sembari mengusap tengkuk. Dia mana tahu Sen tengah menatapnya dengan sorot mata tajam karena cemburu.
Melihat Vailea yang sibuk mengusap tengkuknya, Sen mengembuskan napas kasar. Dia juga langsung meminum air mineralnya sampai habis. Kemudian, meremat botolnya hingga nyaris tidak berbentuk botol.
Mendengar suara yang ditimbulkan Sen, Vailea berinisiatif menoleh. Seketika, bahunya berjengit. Dia sangat kaget melihat Sen yang sepertinya marah besar.
"Ini cowok kenapa, sih? Serem banget perasaan," ucap Vailea di dalam hati.
"Hii," sambungnya sambil mengalihkan pandang ke arah lain. Tak mau lagi menatap ke arah Sen Corazon.
***
"Kita sudah berputar di sini cukup lama. Apa kau memang tidak tertarik dengan sesuatu?" tanya Sen begitu mereka bertiga sampai di penghujung lantai empat.
"Ma-maaf, tapi aku memang tidak begitu suka berbelanja," bohong Vailea.
Sen mengembuskan napas kencang. Lelaki itu lantas berujar, "Kalau kau tidak memilih sesuatu, jangah salahkan aku kalau akhirnya kau tak punya baju ganti."
Vailea langsung melongo di tempatnya. Dia sama sekali tidak kepikiran kalau tujuan Sen mengajaknya kemari adalah untuk mencari baju ganti yang bisa dia kenakan di rumah Sen.
"I-itu ... em, bagaimana kalau kita coba naik ke lantai atas? Barangkali akan ada sesuatu di sana," usul Vailea.
"Tidak ada yang menjual baju di atas lantai empat. Tapi tenang saja, aku masih punya tempat-tempat bagus untuk berbelanja baju," sahut Sen sembari menggandeng tangan Vailea.
Vaila langsung berpikir, "Artinya, perjalanan kesini sia-sia? Sayang sekali. Ah, aku jadi kasihan pada Hendrick. Dia harus mengantar kami kesana kesini."
Nasi sudah menjadi bubur. Vaila tidak dapat mengulang waktu yang telah berlalu. Dia tidak dapat merengek pada Sen untuk bertahan di mall ini lebih lama. Yang ada, Sen akan mencurigainya.
"Ya sudahlah, apa boleh buat," pasrah Vailea sambil mengembuskan napas kencang.
"Hendrick, ayo ke butik rekomendasi dari Mama," ajak lelaki itu. Tapi, terdengar seperti perintah.
Hendrick yang sudah siap siaga itu pun menjawab mantap, "Baik, Tuan!"
Sementara itu, Vailea terkaget di tempat ketika mendengar butik yang akan mereka kunjungi adalah butik rekomendasi Erlaine, perempuan yang membenci dirinya.
"Bagaimana kalau Mama Sen membayar para pegawai butik untuk mempermalukanku selama di sana? Apa ini tidak cukup berbahaya bagiku untuk datang kesana?" risau Vailea.
Tanpa sadar, tangannya mulai erat menggenggam tangan Sen. Membuat si lelaki langsung mengarahkan pandangan ke tautan tangan mereka. Menatap curiga pada genggaman tangan Vailea yang tiba-tiba berubah erat.
Penasaran dengan alasan dibalik perilaku Vailea, Sen mencoba memancing dengan cara berkata, "Kalau kau punya tempat yang ingin kau tuju, katakan saja padaku. Dengan begitu, akan lebih mudah bagimu untuk memilih baju."
"Oh! Emm, baiklah," setuju Vailea tanpa pikir panjang. Sebab menurutnya, ini opsi yang sangat menguntungkan.
Vailea pun sibuk berpikir. Mencoba mengingat toko busana yang pernah menjadi perbincangan di tempat kerjanya.
Sementara Vailea sibuk mencari nama toko di ingatannya, Sen menyimpulkan di dalam hati, "Rupanya dia punya tempat tujuan tersendiri. Kupikir, tadi ada apa."
"Duh! Kenapa tidak ada satu tempat pun yang bisa aku ingat?" sesal Vailea.
Merasa usahanya akan sia-sia untuk mengingat nama toko busana, Vailea mencuri pandang ke arah Sen. Sialnya, lelaki itu juga sedang menatapnya. Jadilah mereka berdua bertukar pandang.
"Kenapa? Sudah ketemu nama tokonya?" tanya Sen begitu melihat Vailea tiba-tiba melirik ke arahnya.
"Bu-bukan begitu! Aku mau bilang kalau aku lupa nama tokonya," jawab Vailea.
"Oh. Jadi bagaimana? Mau pergi ke butik yang direkomendasikan Mamaku?" tawar Sen, memberi solusi atas masalah Vailea.
Rasanya, Vailea merasa berat untuk menganggukkan kepala. Takut masuk dalam jebakan Batt Man. Meski demikian, dia tidak memiliki alasan bagus untuk menghindar.
"Boleh," jawab Vailea sembari mengembangkan senyum palsu.
"Baiklah kalau begitu, kita pergi ke butik Blanc de Mont," ucap Sen. Memberi bocoran mengenai tempat mana yang akan mereka tuju.
Mendengar nama tersebut, Vailea langsung tersentak. Bahkan refleks, tangannya menepuk bahu Sen. Membuat lelaki itu kaget dan nyaris menepisnya.
"Aku ingat! Temanku pernah membicarakan tentang batik Croissant de Mont. Disana, kita bisa mendapat baju murah tapi berkualitas," ucap Vailea dengan penuh semangat.
"Astaga! Kupikir ada orang asing yang menepuk pundakku. Ternyata kamu," lega Sen sambil merundukkan kepala, menyandarkan keningnya di punggung tangan Vailea. seolah, dia tidak peduli dengan Croissant de Mont yang ingin dituju perempuan itu.
Begitu merasakan kening Sen menempel di punggung tangannya, Vailea buru-buru menarik tangannya dari bahu Sen. Juga, melepaskan genggaman tangan mereka.
Vailea merasa malu.
"Ck. Kenapa, sih? Nggak suka?" tanyanya sambil menggembungkan pipi hingga sebesar bakpao.
"Nggak!" jawab Vailea cepat. Dia memang tak terlalu menyukai hal-hal romantis. Terlebih orang yang melakukannya adalah orang yang mengambil mahkotanya di saat dia sedang tak sadarkan diri.
Mendengar jawaban Vailea itu, Sen hanya bisa mengembuskan napas kencang. Sebab bila Vailea tidak menyukai hal-hal romantis, akan sulit baginya untuk mendapatkan hati Vailea.
Sebagai pengalih pembicaraan, lelaki itu berkata pada Hendrick, "Tujuan kita berubah ke Croissant de Mont. Pastikan kau tahu rutenya."
"Baik Tuan," patuh Hendrick.
Mendengar bahwa mereka akan menuju Croissant de Mont alih-alih ke Blanc de Mont, mata Vailea langsung berbinar.
"Kupikir tadi dia tidak mendengarkanku sama sekali. Ternyata aku salah sangka," batin perempuan itu sembari menatap ke arah Sen. Bahkan tanpa sadar, Vailea mengembangkan senyum manis.
Kebetulan, Sen melihatnya. Dia jadi merasa malu karena dilihat seperti itu oleh perempuan yang dia sukai. Pipinya mulai menampakkan semburat merah.
"Apa lihat-lihat? Aku tampan? Terima kasih!" seru Sen dalam sekali tarikan napas. Dilengkapi oleh sebuah kecupan di pipi kiri Vailea. Hukuman karena perempuan itu telah membuatnya blushing di tempat umum.