“Kalau ada sesuatu yang kau inginkan, katakan saja padaku. Aku akan membelikannya,” ujar Sen ketika mereka sedang berjalan di deretan toko yang menjual aksesori.
Hati dan pikiran Vailea beradu. Bertentangan menanggapi kesempatan bagus itu.
“Kalau nggak aku ambil, kapan lagi aku bisa belanja gratis?” pikir Vailea.
Namun pemikiran tersebut disangkal oleh kata hatinya, “Belanja sesuai kebutuhan saja, jangan serakah. Siapa tahu motif Sen mau membelanjakan apapun untukmu karena berpikir, kau akan memberinya bayi beberapa bulan lagi. Akan mengerikan kalau ternyata kau tidak mengandung anaknya dan Sen menuntut ganti rugi atas apa yang sudah kau beli.”
Akibat pertarungan tersebut, Vailea jadi pusing sendiri. Perempuan itu pun memilih untuk diam sejenak. Mengedar pandang ke sekeliling sembari bertanya, “Boleh aku beli air mineral?”
“Kita baru berjalan dan kau sudah kehausan?” tanya Sen sembari menghentikan langkahnya. Dengan serius, lelaki itu menatap Vailea. Mengharapkan jawaban jujur darinya.
Vailea meringis. Memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih. Kemudian, dia berbohong untuk menjawab Sen, “Iya, tadi di rumah aku hanya minum sedikit.”
“Kalau begitu, kita duduk saja di sini. Biar Hendrick yang membelikan air minum untukmu,” ujar Sen. Mengungkapkan keputusannya.
Mata Vailea membulat seketika. Merasa tidak enak hati pada Hendrick yang disuruh Sen untuk mencarikan minuman untuk mereka. Mana minumannya hanya air mineral yang harganya dua ribuan. Masih lebih baik kalau Hendrick diminta mencarikan kalung atau cincin.
Buru-buru Vailea menolak, “Tidak perlu, aku masih bisa berjalan.”
“Kalau berjalan lagi, rasa hausnya bertambah,” debat Sen.
Setengah memaksa, Sen memegangi kedua lengan Vailea. Kemudian, mendorongnya untuk duduk manis di sebuah bangku kosong.
“Jangan bandel, Lea,” ucap Sen begitu Vailea sudah duduk diam di tempatnya.
Suara Sen memang terbilang lembut, tapi sorot matanya mengguratkan ketegasan. Vailea jadi takut untuk membantah perintah Sen Corazon.
Akhirnya dengan lesu, Vailea mengganggukkan kepala. Menyetujui keputusan Sen, sekaligus menyudahi kontak mata di antara mereka. Vailea rasanya tidak sanggup berlama-lama menatap wajah tampan nan garang di hadapannya itu.
“Keputusan bagus,” puji Sen. Lelaki itu kemudian beralih duduk di samping Vailea. Membuat Hendrick seketika pergi. Mencarikan air mineral di vending machine terdekat.
Selagi menunggu Hendrick, Sen menyandarkan punggungnya di dinding. Menarik napas dalam dan diembuskan agak kencang.
“Kenapa malah grogi gini? Ya ampun,” batinnya kesal dengan mata yang dipejamkan.
Tadinya, Sen berencana duduk berdua untuk membangun suasana romantis di antara dia dan Vailea. Namun pada kenyataannya, jantungnya jadi berdebar dengan kencang. Seolah sedang mengikuti lomba lari tingkat nasional.
Rupanya, kegelisahan itu tidak hanya dirasakan oleh Sen. Vailea mengalaminya juga. Akan tetapi, kerisauan yang melanda hati Vailea agak lain.
"Kalau begini, aku jadi serba salah. Misal mau berdoa supaya Hendrick lama baliknya, sama saja berharap Hendrick menemui banyak halangan. Kalau berdoa Hendrick baliknya cepat, aku juga yang repot mencari alasan lain supaya jalan-jalan ini tidak menghabiskan banyak uang Sen," pusing Vailea sembari memijit kening.
***
"Nona betulan haus nggak, sih?" pikir Hendrick dalam perjalanannya mencari vending machine.
Ada rasa curiga yang menyelinap di hatinya ketika melihat ringisan Vailea. Entah kenapa, Hendrick merasa kalau Vailea sedang merencanakan sesuatu. Tapi, apa?
Menarik napas panjang, Hendrick kemudian memilih untuk fokus mencari air mineral. Mencoba bodo amat dengan pemikirannya soal Vailea barusan.
"Haus atau tidak, itu bukan urusanku. Yang penting, aku tidak kena marah Tuan Sen," tekadnya di dalam hati.
Beberapa meter kemudian, mata Hendrick menemukan mesin yang dia cari. Segera dia membeli tiga botol air mineral, lalu membayarnya non tunai via kode QR.
Setelah minuman berhasil didapat, segera Hendrick memasukkan ponsel ke dalam saku dan mengambil tiga botol air mineral yang keluar dari mesin.
Baru saja memasukkan ponsel, telinga Hendrick mendengar nada dering khusus yang menandakan Sen tengah menelepon dirinya. Tanpa berlama-lama, dia mengangkatnya seraya bertanya panik, "Ada apa, Tuan? Apa yang terjadi?"
"Ck, kau lama sekali! Mau membuat Lea kehausan?" omel Sen.
"Maaf Tuan," sahut Hendrick takut-takut. "Mesinnya agak jauh, Tuan. Ini saya sedang dalam perjalanan kembali."
"Alasan!" kesal Sen yang memang jarang memberikan toleransi dalam setiap perintah yang dia berikan.
Sesudah itu, Sen mematikan sambungan telepon. Namun sebelum panggilan terputus sempurna, Hendrick sempat mendengar Sen mengancam lirih, "Kembali dengan cepat, atau aku akan membuat perhitungan padamu!"
Buru-buru Hendrick berlari. Sudah seperti seorang pencuri yang tengah dikejar oleh polisi. Bahkan saking takutnya dengan ancaman Sen, Hendrick tidak peduli kalau dia menabrak beberapa pengunjung lain.
"Hei, pelan-pelan!"
"Apa kau tidak punya mata, hah?!"
Hendrick memilih menutup telinga. Pura-pura tak peduli dengan segala macam teriakan dan gerutuan yang ditujukan padanya.
"Aku harus sampai dengan cepat. Ayo Hendrick, ayo!" ujar lelaki itu di dalam hati, menyemangati diri sendiri.
Berbekal kemampuan yang mumpuni dan tekad baja, Hendrick berhasil sampai di tempat tadi dengan waktu dua menit. Padahal tadi, dia memerlukan enam menit untuk sampai di vending machine.
"Ini airnya, Tuan, ujar lelaki itu dengan napas tersengal. Tangannya menyodorkan tiga botol minuman yang dia bawa dengan susah payah.
"Hosh, hosh."
Terdengar napas Hendrick yang begitu terengah. Diiringi keringat yang membasahi seluruh tubuh. Bahkan, baju yang dia kenakan sampai basah.
Hal itu wajar saja, mengingat kecepatan lari Hendrick dan jarak yang dia tempuh. Tapi melihat keadaan Hendrick yang demikian, rasa bersalah langsung menggerogoti hati Vailea.
"Kalau aku tahu akan begini jadinya, lebih baik aku minta air mineralnya beberapa meter lagi," sesal Vailea.
Sementara itu, Sen mengambil dua botol air mineral dari tangan Hendrick. Ekspresinya terlihat datar. Seakan dia tidak kasihan melihat Hendrick yang kelelahan.
Lalu dengan santainya, Sen menyodorkan kedua botol air mineral tersebut pada Vailea sembari berujar singkat, "Minum."
Vailea yang tengah asyik memperhatikan Hendrick pun terkejut. Beruntung dia masih bisa mendengar ucapan Sen. Kalau tidak, tamat sudah riwayatnya.
"Terima kasih," kata Vailea ketika menerima minuman dari tangan Sen.
Sen Corazon tidak menyahut apapun. Lelaki itu lebih memilih membuka tutup botol air mineral untuk segera diminum.
Sementara itu, Vailea memilih untuk bangkit. Memandang penuh rasa sesal pada Hendrick dan berujar, "Kak, kau bisa duduk di kursi. Tidak baik minum sambil berdiri."
Hendrick terperangah. Tidak menyangka kalau Vailea akan memperhatikan dirinya seperti ini.
"Ta-tapi, bagaimana dengan Nona? Bukankah Nona juga haus?" gugup Hendrick. Lelaki itu merasakan aura tajam dari arah Sen duduk. Sen seolah mengancam keselamatan dirinya kalau nekat duduk di bangku sebelum Vailea selesai minum.