“Apa makanannya sesuai dengan seleramu?” tanya Sen setelah Vailea selesai makan.
Vailea yang sedang mengelap bibir menggunakan sapu tangan tersebut langsung mengangguk. Selain makanannya enak, dia takut kalau Sen tak akan memberinya makanan lagi kalau dia menjawab menu sarapan hari ini tidak sesuai dengan seleranya.
“Besok, apa yang mau kau makan?” tanyanya lagi.
Kali ini, Vailea menatap kebingungan pada sosok lelaki tampan di sampingnya. Di dalam hati, dia juga berpikir, “Kurang kerjaan sekali menanyaiku seperti ini. Memangnya dia mau mentraktirku?”
Melihat Vailea yang diam saja, Sen berpikir di dalam hati, “Sepertinya aku bertanya terlalu jauh. Dia pasti bingung.”
“Bukan besok, maksudku nanti siang. Kita mau makan apa? Apa ada menu yang kau mau?”
“I-itu … saya tidak masalah dengan apapun,” jawabnya ragu.
“Apa dia berencana meminta imbalan aneh-aneh setelah mentraktirku, ‘kan? Jadi ngeri sendiri rasanya,” prasangka Vailea di dalam hati sembari mengusap tengkuk yang tiba-tiba meremang.
Bagi Vailea, sikap baik Sen merupakan sesuatu yang patut diwaspadai, mengingat sikapnya yang begitu kasar saat pertama kali bertemu. Bagi Vailea, sangat sulit untuk percaya kalau Sen berubah baik hanya dalam dalam beberapa hari.
Mendengar jawaban tersebut, Sen mengembuskan napas kecewa. Namun setelahnya, dia meraih kepala Vailea. Memberikan kecupan hangat di sana sembari berkomentar, “Aku senang karena itu artinya kau bukan seseorang yang penuntut, tapi aku juga yang bingung menentukan menu makan siang. Nanti kau saja yang pilih makanannya, ya?”
Vailea langsung membeku di tempat. Baik perilaku maupun ucapan Sen mampu membuatnya kehabisan kata-kata.
“Sekarang, ayo pergi. Hendrick pasti sudah menunggu di mobil. Kasihan kalau dia lumutan gara-fara menunggu kita,” ajak Sen sembari melepaskan rengkuhan tangannya di bahu Vailea. Adapun matanya melirik tajam pada Hendrick, seakan mengancam, “Cepat pergi dan panaskan mobil, atau hidupmu berakhir di sini sekarang juga!”
Menyadari kode tersebut, Hendrick terlonjak di tempatnya. Lelaki itu juga langsung tancap gas menuju garasi. Terburu-buru sekali dia membuka pintu dan memanaskan mobilnya. Setelah itu, barulah dia membuka pintu garasi. Tak lupa dia mengeluarkan mobilnya di halaman. Jadi ketika Sen dan Vailea sampai, mobilnya sudah siap.
“Selamat pagi, Nona,” sapa Hendrick sembari melemparkan senyum ramahnya.
“Pagi,” balas Vailea.
Melihat keduanya bertukar senyum, Sen langsung merasa cemburu. Semakin erat dia menggenggam tangan Vailea. Membuat perhatian dan sorot mata perempuan itu jadi teralihkan padanya.
Pandangan Vailea seolah bertanya, “Ada apa? Apakah ada sesuatu yang salah?”
“A-ada daun di rambutmu,” bohong Sen yang gugup dan tak tahu harus menjawab bagaimana.
Untuk memuluskan kebohongannya, Sen mengulurkan tangannya ke arah rambut Vailea. Lalu dengan hati-hati, dia berpura-pura sedang menarik daun dari sana.
Menyadari jarak mereka yang semakin terkikis, Vailea memejamkan mata. Dia merasa gugup kalau harus berdekatan dengan seorang lelaki. Apalagi, tampan dan romantis seperti Sen.
“Untung dia nggak nyadar, ya ampun! Mau ditaruh mana mukaku kalau dia sampai tahu aku cemburu gara-gara dia tatap-tatapan sambil lempar senyum ke Hendrick?” lega Sen di dalam hati ketika melihat Vailea yang memilih memejamkan mata ketika jarak di antara mereka semakin dekat.
Di tengah kelegaan Sen, mata lelaki itu tak sengaja menangkap basah Hendrick yang tengah menutup mulut untuk menahan tawa. Hendrick benar-benar dibuat geli dengan Sen yang tidak berani mengungkapkan kecemburuannya secara langsung. Malah membuat banyak alasan.
“Sepertinya aku harus berterimakasih pada Vailea. Selama ini, aku belum pernah melihat Tuan Sen sampai salah tingkah begitu, haha! Ini sangat menghibur,” batin Hendrick diam-diam.
“Beraninya kau menertawakanku!” ujar Sen tanpa suara dengan mata yang melotot sempurna bak burung hantu di keremangan malam.
Walaupun tak ada suara yang terdengar di telinga, Hendrick mampu memahami peringatan yang dilayangkan oleh Tuannya. Jadi dengan segera, sopir tampan tersebut membuang pandangan ke samping kanan. Di sana, dia tertawa tanpa suara.
Sementara itu di waktu yang sama, Vailea mulai resah. Sebab Sen terlalu lama berdekatan dengannya.
“Jantungku tidak akan aman kalau begini caranya,” batinnya gelisah.
Demi keamanan organ pemompa darahnya itu, Vailea memberanikan diri untuk bertanya, “Tu-tuan, apa daunnya sangat banyak?”
Sen terkesiap. Segera dia membalas, “Bu-bukan begitu. Aku kebetulan melihat seekor ulat di dekat mobil. Makanya a—”
“Uwaa!”
Tanpa ada aba-aba, Vailea menjerit. Perempuan itu juga langsung menghambur ke pelukan Sen Corazon. Membuat kedua asetnya menempel sempurna dan membuat pikiran Sen berkelana kemana-mana.
Mengumpat di dalam hati, “Sial!”
“U-ulatnya sudah tidak ada. Sudah jatuh, hilang,” bohong Sen demi menyelamatkan dirinya dari godaan menyentuh Vailea lebih dari ini.
“Ta-tapi tetap takut!” bandel Vailea. Malah, perempuan itu semakin kencang memeluk Sen.
“Sialan!” umpat Sen di dalam hati sembari menyugar rambutnya pasrah.
Hendrick yang kebetulan menyaksikan semua itu langsung memegangi perutnya yang sakit. Dia benar-benar tidak kuat melihat interaksi konyol mereka berdua.
“Berasa melihat stand up comedy,” geli Hendrick sambil terus tertawa tanpa suara.
***
Selesai dengan drama daun dan ulat, Sen dan Vailea akhirnya menaiki mobil. Hendrick dengan sigap mengantar Tuannya ke tempat tujuan. Sebuah tempat yang tak pernah Vailea bayangkan sebelumnya.
Dengan polosnya Vailea bertanya, “Tuan ingin membeli sesuatu?”
“Bukan aku, tapi kamu,” sahut Sen cepat.
“Hah?”
Vailea bukannya tidak paham dengan maksud perkataan Sen. Akan tetapi saat mengatakannya, Sen sama sekali tidak menatap wajahnya. Membuat Vailea bertanya-tanya akan keseriusan lelaki itu.
Mendengar keterkejutan Vailea, Sen yang sedang melepas sabuk pengaman pun menoleh ke kiri. Tak lupa dia menjelaskan dengan lembut, “Vailea sayang, hari ini aku mau mengajakmu berbelanja. Kau boleh pilih apapun yang kau suka.”
“Karena aku yang mengajakmu, maka aku yang akan membayar tagihannya. Jangan khawatir,” tambah si lelaki sambil menggenggamkan tangannya. Berusaha meromantisasi suasana seperti yang dia tonton di beberapa film bergenre romance.
Akibat perlakuan Sen dan panggilan "sayang" yang ditujukan untuknya, Vailea serasa melayang. Semburat merah juga muncul di pipi. Terus menyebar hingga membuat seluruh wajahnya menjadi merah padam.
Melihat wajah Vailea yang sudah bisa disandingkan dengan cherry matang, Sen mengulas senyum di dalam hati sembari membatin, “Sepertinya aku sudah ahli merayu wanita. Kalau begini caranya, hanya tinggal menunggu waktu sampai Vailea jatuh hati padaku.”