Bagaimana Mengambil Hatimu?

1034 Kata
“Ba-baik Tuan,” jawab Vailea dengan kedua tangan yang refleks disilangkan. Mengulas senyum miring, Sen kemudian mencibir, “Kenapa kau repot menutupinya, Sayang? Bukankah kau masih berpakaian lengkap? Ayolah, jangan membuat perutku sakit menertawai tingkahmu yang konyol ini.” “A-apa sih? Kan ini tanganku, suka-suka aku!’ balas Vailea dengan pipi merona sempurna. Kali ini, Sen tertawa renyah mendengar penuturan Vailea. Bahkan lelaki itu sampai memegangi perut yang terasa sakit. “Baiklah, baik. Aku akan pergi sekarang. Jangan lupa dengan apa yang baru saja aku katakan, karena aku tidak pernah main-main dengan ucapanku.” Usai memberi peringatan pada Vailea untuk segera mengganti baju, lelaki itu melangkah keluar dari kamar. Tujuannya adalah ruang kerja. Dia hendak mengerjakan sesuatu di sana. Memasuki ruangan pribadinya sambil bergumam, “Bisa-bisanya aku lupa kalau semalam sudah membuatnya kesakitan. Bahkan sejak tadi, dia berusaha menyembunyikan rasa sakitnya dari Papa dan Mama.” “Menurut saya ini hal yang wajar, Tuan. Mengingat Anda belum pernah menjalin hubungan dengan perempuan mana pun,” timpal Hendrick yang entah bagaimana bisa berada di dalam ruang kerja Sen Corazon. Terlonjak kaget sambil memegangi d**a, Sen kemudian menatap horor pada Hendrick sembari bertanya, “Sedang apa kau di sini?” “Mohon maaf kalau saya lancang masuk kesini tanpa seizin Anda, Tuan. Tapi saya berusaha menghindar dari orang tua Anda. Semalam mereka menanyakan keberadaan Tuan, tapi saya takut kalau Tuan dan Nyonya besar memarahi Anda, jadi saya memilih untuk mengabaikan pesan dan panggilan mereka. Saya juga numpang bersembunyi di sini semalam,” terangnya panjang kali lebar. Mendengar penuturan sopir pribadinya tersebut, kedua mata Sen langsung melotot merah. Tanpa basa-basi lagi dia melangkah mendekat. Ditariknya kerah kemeja Hendrick dengan kasar. Bahkan, lelaki itu sampai berjinjit. Sen bertanya geram, “Kenapa tidak memberitahuku kalau orang tuaku mencariku? Aku bisa mengantisipasi kedatangan mereka, Hendrick!” “Ma-maafkan saya, Tuan! Saya sudah menelepon Anda berulangkali, tapi tidak ada jawaban. Anda juga tidak membaca ataupun membalas pesan saya. Saya juga tidak berani mengetuk pintu kamar Anda,” jelas Hendrick. “Sial!” umpat Sen sambil mengempaskan Hendrick ke belakang. Sebagai akibatnya, lelaki itu terhuyung dan kehilangan keseimbangan. Mendarat di sofa yang cukup nyaman diduduki. Menyugar rambutnya kasar, Sen lantas mengomel, “Gara-gara kau, aku memperkenalkan Lea lebih cepat dari perkiraan. Aku juga belum menyiapkan skenario yang bagus, untung dia bisa aku ajak kerjasama. Kalau tidak, aku sudah kehilangan muka di mata Papa dan Mama.” Hendrick hanya bisa diam dan mendengarkan. Dia tidak berani menimpali, takut kena marah. “Sial, apa kau mendengarkan?!” geram Sen ketika tak mendapati tanda-tanda kalau Hendrick akan menanggapi ucapannya. Minimal meminta maaf atau apa. “Ma-maafkan saya, Tuan!” seru Hendrick sembari berlutut. Memohon maaf karena dia salah langkah untuk kedua kalinya. “Bodo amat!” kesal putra keluarga Corazon sambil berbalik 180 derajat. Sen sungguh geram dengan sederet tingkah Hendrick yang membuatnya naik darah pagi ini. Padahal dia pikir, ini adalah pagi terindah setelah bisa menghabiskan malam bersama seorang gadis cantik. Namun pada kenyataannya, dia dihadapkan pada sederet permasalahan yang sama sekali tak dia duga kemunculannya. Melihat bahwa sang Tuan marah besar, Hendrick langsung panik. Sebab bila sedang tidak mood, Sen bisa menghilangkan nyawanya kapan saja. “Aku harus memikirkan sesuatu! Aku harus membuat diriku berguna!” tekadnya di dalam hati. “Tapi apa? Ayo berpikir, Hendrick! Berpikir!” Cukup lama Hendrick mencari cara untuk tidak kena geprek Sen. Hingga akhirnya, lelaki itu menemukan sesuatu yang dia anggap menarik dan layak untuk dicoba. “Tuan,” panggil Hendrick antusias. “Apa?” sahut Sen ketus. Dia juga memperingatkan, “Kalau pembicaraanmu tidak menarik, aku akan membuat perhitungan denganmu, Hendrick!” “Ba-baik Tuan!” jawabnya cepat. Menarik napas panjang, Hendrick lantas mengembuskannya perlahan. Setelah dirasa cukup tenang, barulah dia berkata, “Apa Tuan ingin saya membantu Anda mengambil hati Nona? *** “Cuuup!” “Mmm,” respon Vailea ketika pipinya mendapat kunjungan tiba-tiba dari Sen Corazon. “Bangun, Lea! Kau ini bukan seekor kerbau yang kerjaannya tidur dan bermalas-malasan sepanjang hari,” ujar Sen saat melihat tanda-tanda Vailea terjaga dari tidur lelapnya. Mendengar suara yang tak asing di telinga, Vailea terkesiap. Perempuan itu bergegas bangkit dari tidurnya. Bermaksud tak mau membuat Sen menunggu. Namun karena tidak perhitungan, dia malah memulai sebuah kejadian tak terduga. “Auw!” ringisnya ketika bahunya membentur bahu Sen. Tubuh Vailea juga kembali berbaring di kasur. Membuat asetnya bergoyang beberapa saat sebelum akhirnya mencuri perhatian Sen. “Sial!” umpat lelaki iti ketika pikirannya jadi berkelana kemana-mana karena ulah Vailea. Mengalihkan pandangan ke kanan, Sen kemudian menarik diri. Berdiri tegap memandang tirai seraya memberi perintah lanjutan, “Cepat mandi dan pakai pakaian yang sudah aku siapkan. Kau tidak boleh terlambat sarapan, atau kau yang akan menjadi menu sarapanku!” Usai mengatakan hal tersebut, Sen melenggang pergi. Meninggalkan Vailea yang masih malu dengan insiden memalukan barusan. “Vailea bodoh!” rutuknya ketika mengingat kecerobohannya yang membuatnya menabrak Sen dan dia jadi terjatuh ke atas kasur. “Untung Tuan Sen nggak marah. Kalau iya, aku bener-bener bisa dijadiin geprek sama dia,” gumam perempuan cantik tersebut seraya menggelengkan kepala. Tak mau membuat Sen Corazon murka, Vailea memutuskan untuk segera mandi dan memakai pakaian yang ada di dekat kamar mandi. Setelahnya, dia juga mengepang rambut panjangnya supaya tak terkibas kemana-mana ketika makan. “Selesai,” gumam perempuan tersebut di depan cermin. Vailea bergegas turun. Terlihat olehnya meja makan yang penuh dengan masakan menggiurkan buatan koki kepercayaan Sen Corazon. Membuat cacing di dalam perutnya berteriak meminta jatah sekarang juga. “Duduk dalam dua menit, Lea. Kalau tidak, kau tidak boleh mencicipi makanan atau minuman di sini sedikit pun,” ancam Sen dari tempatnya. Mendengar ancaman tersebut, kontan Vailea berlari dari tempatnya. Terburu-buru dia duduk manis di dekat Sen. Vailea tak ingin kelaparan seharian. Mengembangkan senyum sembari membatin, “Patuh sekali.” Melihat senyuman Sen tersebut, Hendrick menepuk jidat sambil membatin, “Apa yang sedang Tuan pikirkan? Apa Tuan merasa bangga karena membuat Nona Vailea mematuhi ancaman yang sama sekali tak ada romantis-romantisnya?” “Harusnya Tuan mengancam dengan sesuatu yang romantis. Kupikir Tuan sudah belajar dari sesi diskusi kemarin, ternyata sama saja. Aku sebagai guru dadakannya merasa gagal,” sesal lelaki itu lagi sembari memandang Sen yang terlihat hopeless dalam urusan cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN