BRAKK...
Alex menutup pintu apartemen Celine dengan kasar. Wajah Alex terlihat sangat kacau. Membuat Celine panik dan langsung mendekatinya.
"Alex, kamu kenapa?"tanya Celine panik. Penampilan Alex juga sangat berantakan.
Dengan tangan gemetar Alex menyentuh pipi Celine, diciumnya kening itu dengan sangat lama. Air matanya perlahan luruh begitu saja. Ia tidak mampu menahan sesak di dadanya.
"Alex kamu kenapa?kamu sakit?"tanya Celine setelah kecupan itu berakhir.
Alex memandang wajah Celine begitu lama. Wajah yang selalu membuatnya senyum-senyum seperti orang gila, wajah yang setiap saat ia rindukan, wajah yang membuat mimpi malamnya semakin indah.
"Aku sayang sama kamu Celine,"ujarnya dengan lembut.
"Aku juga sayang sama kamu"balas Celine.
"Jangan tinggalin aku ya,apapun yang terjadi,"pinta Alex memelas.
"Kamu kenapa? ada apa?"tanya Celine, ia terlihat khawatir dengan Alex.
"Kamu janji kan?"tanya Alex, tak menggubris pertanyaan Celine.
"Aku gak pernah ada niatan buat ninggalin kamu,"jawab Celine yakin.
Alex memeluk tubuh Celine dengan erat. Celine hanya menurut,dia tidak tau apa-apa karena sejak tadi pertanyaannya tidak dijawab oleh Alex. Apa yang sebenarnya terjadi?kenapa Alex seperti manusia yang penuh dengan luka?
Tuhan,jangan biarkan Alex ku kenapa-kenapa. Aku sangat menyayanginya Tuhan,doa Celina dalam hatinya.
Alex melepaskan pelukannya. "Malam ini aku ingin sendiri,"
Celine mengernyitkan keningnya. "Kenapa?kamu marah sama aku?"tanya Celine.
Alex menggelengkan kepalanya lemah. "kasih aku waktu buat sendiri. Gak papa kan?"
Celine menghela nafas panjang, bagaimanapun ia tidak bisa memaksa Alex. Jika Alex memang ingin sendiri maka dia tidak bisa menolaknya kan.
"Iya udah. Kalo kamu butuh temen bilang ya sama aku,"ujar Celine.
Alex mengangguk. Ia lalu masuk ke dalam kamar. Bukan kamar Celine, melainkan kamar kosong yang berada didekat kamar Celine. Apartemen ini memang memiliki dua kamar, hanya saja setiap hari Alex selalu tidur sekamar dengan Celine
Alex berjalan lemah menuju kamar. Meninggalkan Celine yang penasaran dan bingung ditempat. Setelah pintu kamar tertutup Alex berjalan ke balkon kamar. Menikmati indahnya malam kota Jakarta dari atas apartemen Celine.
Alex mengeluarkan rokoknya, menyalakan korek dan menghisap rokoknya hingga mengeluarkan kepulan asap rokok dan menghilang ditiup angin.
Dengan rasa geram, marah, kesal, kecewa Alex kembali mengingat apa yang Ratu bicarakan dirumah. Sungguh, Alex kecewa dengan Ratu, bisa-bisanya dia mengambil keputusan sepihak seperti itu.
*FLASHBACK ON*
Sepulangnya dari kantor Alex segera kembali ke rumahnya. Seperti yang dikatakan Ratu, dia datang sebelum pukul 8 malam. Alex yang baru turun dari mobilnya segera melepaskan jas dan memberikannya pada pembantunya yang menyambut kedatangannya. Dengan langkah yang lebar dia memasuki rumahnya. Pembantu dan para penjaga rumah tersenyum ramah melihat Alex yang kembali pulang, tapi apa balasan Alex?lelaki itu tidak peduli, ia memasang wajah datarnya.
"Dimana Oma?"tanya Alex pada salah satu pembantunya.
"Ada di ruang makan, bersama nyonya dan tuan pak. Pak Alex diminta untuk segera kesana,"jawabnya ramah, badannya sedikit membungkuk untuk menunjukkan kesopanannya pada tuan mudanya ini.
Tak ingin lama-lama Alex segera pergi ke ruang makan. Benar, disana sudah ada Ratu dengan anak dan menantunya, tak hanya itu disana juga ada seorang gadis berjilbab yang tengah berbincang dengan Oma.
"Selamat malam,"sapa Alex dan segera duduk di kursi yang kosong.
"Hai sayang, kamu udah pulang?gimana di kantor?"tanya Sandra sekedar basa basi. Wanita paruh baya yang mengenakan dres berwarna hitam dengan rambut diikat. Penampilan Sandra terlihat seperti gadis yang masih muda,bukan ibu yang sudah memiliki anak.
"Biasa aja,"jawab Alex singkat.
"Mana Moji?"tanya Alex saat tak melihat adiknya yang masih duduk dibangku SMP di ruang makan.
"Dia belajar kelompok,"sahut Ratu.
Alex sontak terkejut. Bagaimana bisa adiknya belajar kelompok malam-malam seperti ini?oke ini belum larut malam, tapi tetap saja Alex khawatir. Bagaimanapun Moji seorang gadis, dan manusia di Jakarta semuanya belum tentu baik.
"Dan Oma mengizinkan?dia perempuan loh Oma. Gimana kalo.."
"Moji jauh bisa menjaga diri dari pada kamu. Dia jago bela diri, dan bisa dipercaya. Sedangkan kamu?"potong Ratu.
"Ma, gak usah mulai lagi deh."tegur Frans.
Ratu menghela nafas panjang. Ia lalu melirik Nur yang sejak tadi diam ditempatnya. "Kamu kenal dia Alex?"tanya Alex dan menunjuk Nur dengan tatapannya.
Alex menggeleng,dia memang tidak mengenal Nur. Hanya Ratu dan orang tuanya lah yang mengenal Nur.
Alex mengangkat kedua pundaknya.
"Dia Nur, calon istri kamu!!"jawab Ratu dengan tegas tanpa ada keraguan.
"APA?!!"kedua orang tua Alex,dan Alex melotot kaget. Berbeda dengan Nur yang menundukkan wajahnya. Dia terlihat sangat malu,bagaimana tidak?dia tidak mengenal Alex dan tiba-tiba keduanya akan menikah. Sungguh tidak masuk akal.
"Nikah?sama dia?"tanya Alex.
"Ma, mama kalo cari istri buat Alex yang bener dong."tegur Sandra.
"Pilihan Oma bener kok. Dia gadis baik-baik, pintar, agamanya juga luar biasa. Kurang apa coba?"tanya Ratu.
"Alex gak mau!"tolak Alex.
"Kenapa?"tanya Ratu butuh penjelasan.
"Alex gak suka sama dia. Alex cuma suka sama.."
"Perempuan yang pamer belahan itu?iya?"potong Ratu. "Oma tidak suka sama dia. Dan Oma gak setuju,"
"Ma, tapi lebih mending Celine dari pada dia. Celine berpendidikan, dia cantik, pintar cari uang, gak kampungan dan gak norak kayak dia."jawab Sandra dan menatap sinis Nur. Maklum saja, dari dulu Sandra memang sangat tidak menyukai Nur,entah apa alasannya. Yang jelas dia sangat tidak suka.
"Frans setuju Oma. Frans lebih mendukung Alex sama Celine. Nanti kalo mereka menikah Alex yakin kalo cicit Oma akan pintar dan mewarisi rupa Alex sama Celine,"ujar Frans.
Dalam hatinya Alex bersorak senang. Dia tidak sendiri. Ada kedua orangtuanya yang menyetujui dirinya menikah dengan Celine.
"Mata kalian silinder?"tanya Ratu pada ketiganya. "wanita sepertinya dia cuma cantik rupanya tapi akhlak nya?nol besar!!"
"Dia gak hanya cantik Oma, dia juga tulus sama Alex. Jadi Oma gak bisa dong main jodohin Alex sama gadis lain. Oma butuh persetujuan Alex juga."jawab Alex.
"Oma gak butuh persetujuan kamu, mama kamu, dan papa kamu. Ini keputusan Oma! keputusan Oma kamu harus menikah dengan Nur, gak bisa diganggu gugat!!"putus Ratu.
"Ini namanya Oma egois,"sarkas Alex yang sudah terpancing emosi, bahkan dia sampai berdiri dari duduknya.
"Egois dari mana?"tanya Ratu balik, "ini demi kebaikan kamu!!"
"Kalo demi kebaikan Alex gak gini caranya. Bukan dengan menikahkan Alex dengan cewek yang gak Alex kenal dan gak Alex suka. Alex juga butuh bahagia Oma,"jawab Alex, dadanya sudah kembang kempis. Nafasnya memburu, wajahnya memerah emosi.
Nur yang menunduk mulai ketakutan. Inilah yang ia takuti ketika menyetujui permintaan Ratu. Dia sudah menduga jika Alex akan menolaknya. Tapi dia tidak pernah menduga jika Alex akan semarah ini.
"ALEX GAK TERIMA PERJODOHAN INI KONYOL OMA,"tegas Alex dan pergi meninggalkan meja makan.
*FLASHBACK OFF*
Alex membuang puntung rokoknya. s**l, bagaimana bisa Ratu berfikir untuk menjodohkannya dengan gadis kampungan itu?apa perlu diulangi lagi jika Alex hanya mencintai Celine dan akan menikahi Celine?