Alex menelan ludahnya susah payah. Dihadapannya sudah ada seorang wanita yang berusia senja tengah duduk anteng di ruangannya. Wanita itu nampak sibuk membaca beberapa kertas dalam map.
"Oma,"lirih Alex. Kakinya perlahan mendekati Omanya.
Ratu menatap garang Alex, ia lalu melihat jam tangan yang melingkar ditangan keriputnya. "Bagus ya. Jam 11.00 baru sampai kantor,"ujar Ratu.
Alex tersenyum kikuk. Tamat sudah riwayatnya jika Ratu ada didepannya. Sekali saja Alex salah bicara atau melakukan kesalahan maka siap-siap saja nyawanya melayang.
Tuhan, lindungilah hambamu yang lemah ini, doa Alex dalam hati.
"Oma kapan nyampe?kok Alex gak dikabarin?padahal Alex bisa lo jemput Oma di bandara. Oma gimana?sehat kan?Alex kangen lo sama Oma,"ujar Alex dan memeluk Ratu.
Ratu tak membalas pelukan Alex, Alex nyengir melihat wajah Ratu memerah bersiap untuk memberikan wejangan untuknya.
"Gak usah sok peduli sama Oma!"sentak Ratu. "Kamu ini bos yang tidak pantas dijadikan contoh, bisa-bisanya datang ke kantor jam 11. Kemana aja kamu?"
"Alex ada urusan Oma,"jawab Alex cepat,dan bohong.
"Alasan aja. Selama Oma di Belanda kamu tidur dimana?kenapa gak pulang ke rumah?"
Alex meneguk ludahnya lagi. "Nginep di rumah temen Oma,"
"Bohong kamu!kamu pasti dirumah cewek gak jelas itu kan?"tanya Ratu. Matanya melotot seperti ingin lepas dari tempatnya.
"Oma.."
"Diam kamu!Oma belum selesai ngomong!!"potong Ratu, suaranya menggema di ruangan Alex.
Alex menghela nafas panjang. Ia sudah pasrah. Dia lebih memilih diam daripada dia akan mendapatkan hukuman.
"Kamu dikasih tugas buat jalanin perusahaan aja gak becus. Datangnya siang. Atasan macam apa kamu?hah?kamu ini harusnya jadi contoh untuk karyawan yang lain. Keluyuran tidak jelas, suka jajan perempuan"omel Ratu hingga membuat telinga Alex terasa panas.
Ratu lalu mengambil kertas yang tak terbungkus map. "Ini apa?kamu ini sudah tidak waras?Oma kasih kamu tugas buat menjalankan perusahaan ini. Perusahan Oma sama opa yang dibangun dari nol. Tapi kamu?kamu malah menghamburkan uang untuk barang yang gak jelas kayak gini?"
"Itu jelas Oma,"lirih Alex dan mengalihkan tatapannya,tak berani menatap Ratu yang sudah darah tinggi.
"Berani jawab!!"bentak Omanya lagi yang membuat Alex geleng-geleng.
"Barang kayak gini kamu bilang jelas?gila kamu. Kamu beliin perempuan yang suka pamer belahan itu,berlian?apartemen?mobil?astaga Alex!!"geram Ratu tak habis pikir.
Bagaimana tidak?dia mengecek tagihan Alex, dan nominal tagihannya sungguh luar biasa. Rupanya Alex memberikan perhiasan, apartemen, barang-barang branded, mobil pengeluaran terbaru dan barang-barang mewah lainnya. Tak hanya itu, Alex juga mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Jadi pantas saja nominal tagihannya luar biasa mencekik.
"Alex Alex, apa kamu tidak bisa cari perempuan yang benar?"tanya Ratu, tangannya memijat kepalanya yang pening akibat ulah Alex.
"Dia perempuan yang bener Oma,"jawab Alex tenang.
"Bener dari mana?dia suka pamer belahan,suka pakai baju yang kurang kainnya, make up-nya menor. Kamu bilang kayak gitu bener? perempuan yang kayak gitu,yang hobi pamer belahan cuma mau duit kamu doang. Dia matre. Ngerti kamu?"
"Cukup ya Oma, Celine gak kayak gitu!!"sarkas Alex.
"Jangan sebut nama dia didepan wajah Oma. Oma gak suka sama dia. Jauhin dia, karena sampai Oma mati Oma gak akan pernah merestui hubungan kalian, atau suka sama perempuan itu."sahut Ratu.
Amarah Alex semakin membeludak. Dia sangat tidak suka ada orang yang merendahkan Celine. Tapi kali ini, suka tidak suka Alex harus menahan emosinya. Bagaimanapun wanita dihadapannya adalah Oma nya, yang wajib ia hormati dan bersikap sopan. Meski begitu Alex tidak bisa bohong jika sesungguhnya dia membenci ucapan Ratu.
"Oma tau, Alex cinta sama dia Oma."lirih Alex, berharap Oma nya mengerti dan luluh.
"Itu bukan cinta. Kamu hanya sedang nafsu karena dia sering menunjukkan belahannya itu."jawab Ratu.
"Alex ingin menikahi Celine,"putus Alex.
"Dan Oma tidak akan pernah setuju,"sahut Ratu, tatapannya berubah tajam dan dingin.
"Tapi mama sama papa setuju. Jadi Alex akan tetap menikahi Celine."
"Cukup orang tua kamu saja yang tidak waras kamu jangan ikut-ikutan. Orang tua kamu itu, tidak tau mana perempuan yang pantas untuk kamu dan mana yang tidak. Orang tua kamu itu buta, tidak bisa melihat mana perempuan yang baik-baik,"sentak Ratu.
Alex menarik nafasnya. Ia memejamkan matanya sejenak, tangan kanannya mengepal dengan kuat. Ingin rasanya ia memukul Ratu. Tapi dia harus menahan, dia harus ingat jika Ratu adalah Oma nya. Tidak pantas seorang cucu memukul neneknya,meski keduanya tengah bertengkar.
"Jam 8 Oma tunggu di rumah. Kalau kamu terlambat jangan harap nama kamu masih ada di kartu keluarga Oma, dan jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di perusahaan Oma, baik yang disini atau dimana pun."peringat Ratu.
Ratu memanggil asistennya yang sejak tadi menunggu diluar. Tak lama Ratu keluar dari ruangan Alex dengan kursi roda yang didorong asistennya.
BRAKK...
Alex memukul mejanya kerjanya. Dadanya naik turun tidak teratur. Dalam jiwanya seperti ada kobaran api hingga membuat seluruh tubuh Alex panas.
Dalam hatinya ingin sekali dia membenci Ratu. Ingin sekali dia memaki wanita yang usianya sudah senja. Tapi dia tidak bisa. Dia sangat menyayangi Ratu, mana mungkin dia melukai orang yang disayanginya?
Tapi Ratu juga memintanya untuk meninggalkan Celine. Itu mustahil. Dalam hatinya Celine sudah bertahta didalam sana. Dia sudah menguasai dirinya. Dia tidak bisa menjauhi Celine. Dia sangat mencintai dan menyayangi Celine.
Alex tidak bisa memilih antara Ratu dan Celine. Dua wanita itu sangat berharga dalam hidupnya, dia tidak bisa memilih salah satu. Dia ingin kedua-duanya.
Disaat amarahnya tengah memuncak, memori kebersamaannya dengan Celine tiba-tiba berputar. Janji keduanya untuk tetap bersama terngiang di telinganya. Selama ini Celine berjuang mati-matian untuk mempertahankan hubungan keduanya. Dia selalu sabar dengan perilaku Ratu yang tidak suka dengannya. Dia selalu tersenyum dan tetap ceria meski berulang kali dimaki oleh Ratu.
Bahkan Celine tidak pernah sedikitpun membenci Ratu. Tidak pernah. Celine juga menyayangi Ratu seperti dia menyayangi neneknya. Dia sangat tulus pada Ratu. Jadi tak heran jika Alex tidak suka apabila ada yang mengatakan Celine wanita tidak benar, wanita matre. Karena selama ini Alex tidak merasa jika hartanya dikuras habis oleh Celine.
"Aku akan menikahimu," ujar Alex.
"Jangan lama-lama, aku ingin secepatnya menjadi istrimu."jawab Celine manja.
"Jika nanti aku menjadi istrimu, aku akan menyiapkan masakan lezat untukmu setiap hari, aku juga akan berdandan agar kamu tidak melirik wanita lain diluar sana,"
Ucapan keduanya terus terngiang berulang kali. Tawa Celine, senyumannya dan semua perilakunya masih terekam dengan baik di ingatannya.
Janji untuk menikahinya,sekarang apa bisa Alex menepati janji itu?jika tidak, bagaimana hidup Alex tanpa Celine?apa dia bisa menemukan gadis yang seperti Celine?