Maafkan Aku

1911 Kata

“Wengi … ka-mu ti-dur?” “Wengi ti-dur di si-ni?” “Wengi …. Bangun Wengi ….” “Wengi … Wengi ….” Wati terus menepuk-nepuk lengan tangan putrinya yang meringkuk menekuk lutut dengan tubuh bergetar yang tergeletak di lantai. “Wengi pa-nas … Wengi ….” “Wengi bangun … bangun Wengi,” ucap Wati terus berulang-ulang. Wati tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia terlihat kebingungan karena tidak mengerti kenapa Wengi sama sekali tak membuka mata padahal sedari tadi dia sudah membangunkan Wengi dengan berbagai cara. Akhirnya, Wati pun membuka pintu, dia melangkahi tubuh Wengi yang menutupi sebagian daun pintu yang terbuka. Kepala Wati terus menengok ke kanan dan kiri jalan, matanya tak henti memperhatikan lalu lalang orang yang mulai pulang dari sawah mereka karena senja akan datang. “We

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN