Wengi POV “Tidak ….!” Dari dalam kamar aku bisa mendengar ibu menjerit sekuat tenaga. Itu menggoyahkan keteguhanku untuk mengunci diri di kamar. Aku bisa pura-pura tuli saat ibu dan pria itu memanggilku. Namun, saat ibu menjerit sekencang itu, aku tidak bisa tetap diam dan membiarkannya begitu saja karena itu akan membuat emosi ibu tidak terkontrol. Aku tidak ingin ibu kembali mengamuk dan warga dusun kembali berdatangan karena khawatir pada kondisi ibu. Baru saja aku yakin kalau kondisi ibu sudah membaik. Baru saja aku merasa kalau ibu akan sembuh dari penyakit yang tidak pernah kuketahui namanya. Baru saja aku berbahagia melihatnya tidak lagi gagap dan terbata-bata dalam berbicara. Tidak. Aku tidak akan membiarkan ibu kembali menutup dirinya dengan sesuatu yang seolah membuat dunia

