Sakit

1806 Kata

Cup. “Hendra!” Mata Wengi terbuka mendengar seseorang berteriak penuh amarah tepat saat keningnya merasakan kecupan hangat bibir Hendra. “Apa yang kamu lakukan! Memalukan! Bisa-bisanya kamu memanfaatkan keadaan seperti ini! Ini yang kamu dapat selama di Bogor! Bapak merasa gagal mendidikmu melihat kelakuanmu seperti ini. Bukan karena kamu sekarang tinggal di kota berarti kamu menghalalkan sesuatu yang jelas dilarang agama! Pulang! Jangan pernah ke sini tanpa izin bapak!” hardik Marjuki dengan tatapan nyalang penuh amarah yang langsung meletup-letup melihat anak laki-lakinya mendaratkan sebuah kecupan di kening Wengi yang setahu Marjuki masih menutup mata saat itu. “Bapak? Kenapa?” tanya Halimah yang tergopoh-gopoh berlari dari arah belakang dengan setumpuk jemuran kering di tangan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN