Suara tapakan kaki, mengisi keheningan di sebuah lorong besar yang agak gelap. Belve dan Aragon kini masih terburu-buru, mencari seseorang yang akan menjadi peran utama di acara mereka. "Kau tau di mana dia?" tanya Belve, memecahkan keheningan. "Hanya menebak," jawabnya. Kemudian, Aragon memperlambat langkahnya, ketika melihat sesosok gadis yang tengah menangis sambil memeluk lututnya sendiri. Gadis itu duduk sendirian, bersender membelakangi tembok pembatas taman. Padahal tempat itu sangat dingin, dan hanya memiliki sedikit pencahayaan. Sekilas, Belve bisa melihat aura yang terpancar dari tubuh gadis itu. Belve mengusap mata–nya sendiri, untuk memastikan apa yang di lihatnya. Saat itu juga, Belve menyadari..... kalau aura yang berasal gadis itu, terhubung pada Aragon. Bentuknya mirip

