AIR MATA

1014 Kata
MENGAKUI PERASAAN "Kata kan lah,Nak! turuti kata hati mu," suruh bapak tersenyum. Andine yang menatap bapak dengan tatapan meminta dukungan, dia merasa seperti terjebak di dalam suasana yang memaksa nya harus memilih. Bapak yang mengerti dengan apa yang Andine rasakan, menatap balik dengan sebuah anggukan, tanda keyakinan untuk melakukan apa yang harus dilakukan. "Sebenarnya orang itu ada di antara kita," ucap Andine tergagap. Semua orang yang ada di ruang tamu saling berpandangan menatap satu sama lain, terkecuali bapak yang sudah mengetahui semuanya. "Siapa orang itu Andine?" tanya Arman menatap tajam. "Iya kata kan saja Andine jangan ragu," ucap Mama Arman. Miksel yang hanya diam tanpa bicara sepatah katapun, dia juga tak menyangka dengan semua perkataan Andine, selama ini Andine menyukai seorang pria di hatinya secara diam-diam. "Andine kata kan saja terus terang pada semuanya, jangan biar kan mereka menunggu jawaban mu seperti ini," ucap ibuk terlihat kecewa dengan keputusan Andine. "Sebenarnya selama ini Andine menyukai Miksel secara diam-diam," ucap Andine dengan suara bergetar. "Apa?" jawab Arman terkejut saat mendengar pria yang dicintai Andine. Semua mata tertuju pada Miksel, seakan tak percaya dengan perkataan Andine. Begitu pula dengan Miksel yang terkejut dengan pengakuan Andine. "Sejak kapan kau menyukai nya?" tanya Arman kecewa dengan pengakuan Andine. "Aku tidak bisa menjelaskan secara rinci kapan perasaan itu timbul di hati ku," jawab Andine semakin merasa tidak enak dengan suasana saat ini. "Apa kau sudah mengetahui tentang ini?" tanya Arman menatap sinis Miksel. "Aku...tidak mengerti apa yang telah terjadi," jawab Miksel kebingungan. Baiklah semuanya sudah jelas, sekarang kita semua tahu siapa yang telah di cintai Andine selama ini. Dan ini juga berita bagus untuk kita semua, Andine Menyukai Miksel, kami bahagia mendengarnya," ucap Mama Arman tersenyum. "Baiklah kalau begitu kita pamit pulang," Pamit Arman beranjak dari tempat duduknya. "Maaf atas semua ini Arman," ucap Ibuk merasa tidak enak hati. "Tidak masalah,Buk! Arman pamit pulang dulu, assalamualaikum," ucap Arman menatap Andine dengan tatapan sedih. Semuanya kembali pulang menuju rumah, dengan perasaan yang berkecamuk di hati mereka masing-masing. Begitu pula dengan Miksel yang masih bingung dengan semua yang telah terjadi. Dia tak menyangka semua ini akan berakhir seperti ini. Dia melihat Arman dengan perasaan bersalah, dia juga tak tahu, bahwa dia lelaki yang di maksud Andine. "Ini diluar dugaan ku, aku tidak bermaksud merebut Andine dari mu," ucap Miksel mencoba menjelaskan semuanya pada Arman. "Sudahlah, kau tidak perlu menjelaskan apa yang terjadi, semuanya sudah jelas, kau berkhianat di belakang ku," cetus Arman menatap sinis. "Jangan berkata seperti itu, aku tidak pernah sama sekali berniat menghianati mu," jawab Miksel kecewa. "Tapi apa kenyataan nya, Andine menyukai mu, dia menolak lamaran ku," jawab Arman penuh emosi. "Aku juga tidak tahu dia menyukai ku selama ini, aku tidak melihat tanda-tanda dia mencintai ku, aku juga sama terkejutnya seperti dirimu," ucap Miksel meyakinkan. "Sudah cukup! semuanya sudah jelas," cetus Arman. "Percayalah pada ku," pinta Miksel. "Aku tahu sekarang, itu sebabnya kau belajar mengaji bersama Andine secara tiba-tiba. Ternyata kau mencoba untuk menarik perhatiannya," tuduh Arman menahan Amarahnya. "Astagfirullah, kenapa kau jadi suudzon seperti itu padaku?" tanya Miksel tak percaya. "Bagaimana aku tidak berkata seperti itu padamu, kau sudah menghancurkan kepercayaan ku, kau satu-satunya teman terbaik yang aku punya, tapi kau tega melakukan ini padaku," jawab Arman dengan air mata berlinang. "Aku tetap menjadi sahabat mu, kau sudah salah paham padaku, aku tidak menghianati mu sama sekali, aku mengatakan sebenarnya padamu, aku memang tulus ingin belajar mengaji, belajar tentang ilmu agama. Kau harus percaya padaku," terang Miksel semakin merasa bersalah dengan apa yang telah terjadi. "Semua sudah terlambat, tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, aku percaya dengan apa yang kulihat dan kudengar saat ini," cetus Arman meninggalkan Miksel sendiri di ruang tamu. "Arman, tunggu! jangan pergi seperti ini, kau harus percaya padaku," ucap Miksel berusaha mencegah Arman pergi. "Sudahlah! biarkan sendiri untuk berpikir, dia butuh waktu sendiri, sebentar lagi amarah nya akan redam, dia hanya sedikit kecewa dengan penolakan Andine padanya," ucap Mama Arman menenangkan Miksel. Miksel pun berhenti untuk mengejar Arman yang marah kepadanya, dia masuk ke kamar. Di dalam kamar, Miksel menghempaskan badan nya diatas tempat tidur, dia tak menduga semua akan terjadi seperti ini. "Apa yang harus kulakukan sekarang? mengapa semua terjadi seperti ini? mana yang harus ku pilih antara Andine dan Arman? sejak kapan Andine dan menyukai ku?" seribu pertanyaan berputar di kepala Miksel dia merasa semakin bersalah kepada Arman, dia tak bisa bahagia diatas penderitaan sahabat terbaiknya. "Apa semuanya ini Andine, coba jelaskan pada ibuk?" cetus ibuk menatap tajam Andine. "Ibuk jangan berkata seperti itu, Andine juga merasa bersalah atas semua kejadian ini," ucap bapak menenangkan. "Tidak bisa seperti ini,Pak! dia sudah mempermalukan kita di depan keluarga Arman, kenapa dia menolak lamaran lelaki baik seperti Arman, apa kekurangannya? coba jelaskan Andine, kenapa kau bisa menyukai laki-laki seperti Miksel, yang kita tidak tahu asal-usulnya seperti apa?" bentak ibuk pada Andine. "Apakah jatuh cinta sebuah kesalahan,Buk?" tanya Andine dengan air mata yang jatuh membasahi pipinya. "Jatuh cinta itu tidak salah, tapi kamu jatuh cinta dengan orang yang salah, kamu lihat Miksel, dia terlihat berantakan, berbeda dengan Arman yang kita tahu dia sangat rajin beribadah, baik dalam agama, semuanya terlihat sempurna darinya," cetus ibuk. "Kesempurnaan itu hanya milik Allah saja,Buk, dan ibuk juga tidak bisa menghakimi Miksel seperti itu, ibuk tidak tahu proses apa yang telah dia lakukan untuk menjadi manusia lebih baik," jawab Andine menatap ibu nya dengan perasaan sedih. "Pokoknya ibuk tidak setuju jika kamu bersama Miksel, titik!" cetus ibuk penuh emosi. "Buk, jangan egois seperti itu pada Andine, kita tidak bisa memaksa kan keinginan kita padanya, baik menurut kita, belum tentu terbaik untuk Andine," tegas bapak menasehati ibuk. "Terserah bapak mau bicara apa, yang penting ibuk tidak akan setuju jika Andine tetap memilih Miksel," jawab ibuk tetap dengan pendiriannya. Andine tak tahan lagi mendengar semua Omelan dari ibuk nya, dia pun pergi masuk kedalam kamar meninggalkan ibuk nya berdua sama bapaknya di ruang tamu. Bersambung... mampir ya ke karya author yang lainnya #Perjalanan hidup #Cinta Segitiga Berujung Maut (21+) #Suami ku meninggal, Aku berakhir dipenjara (cerpen)
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN