KOMITMEN

1009 Kata
Bab 10 Miksel yang sudah berada di dalam rumah, merebahkan badan nya di atas tempat tidur. dia merasa sangat lelah, setelah seharian berkerja di sawah. Itu pertama kali Miksel melakukan pekerjaan berat dalam hidupnya. Dan dia merasakan, bagaimana susah nya untuk bekerja seperti itu. Tiba-tiba Miksel teringat dengan wajah Andine, dia penasaran wajah Andine yang tertutup di balik cadarnya. "seperti apa ya, wajah Andine? aku yakin dia memiliki paras yang indah, ternyata dia wanita yang sangat baik dan berhati lembut, aku sudah salah paham selama ini pada nya." "Assalamualaikum," Arman yang masuk kedalam rumah. "eh udah pulang lu,Man? Miksel yang keluar dari kamar. Arman duduk di atas kursi menyandarkan badan nya,dan menatap Miksel. "Apa? kenapa loe natap gue seperti itu?" "Bagaimana pekerjaan mu di sawah?" "Aku kan sudah kata kan, aku nyaman-nyaman aja kerja di sawah, emang kenapa?" "Apa kamu berdekatan dengan Andine, maksud ku kau berbicara pada nya?" Tanya Arman penasaran. "Iya kita berbicara, makan bersama," Jawab Miksel dengan santai. "Apa? makan bersama?" Arman yang terlihat terkejut mendengar nya. Miksel yang melihat reaksi Arman, hanya mengerutkan keningnya,dia merasa aneh, kenapa hanya makan bersama saja,Arman terlihat sangat terkejut seperti melihat hantu. "Apa yang aneh? maksud ku Andine Mambawa makanan untuk bapaknya, dan bapaknya menawarkan aku makan, jadi aku makan setelah bapak Andine selesai makan. "Apa yang kamu katakan? aku tidak mengerti?" Arman yang kebingungan untuk mencerna yang miksel kata kan pada nya. "Sudahlah, lupakan jika kau tidak mengerti apa yang aku katakan, kenapa kau bertanya tentang itu? kau seperti menyelidiki apa yang sedang aku lakukan di sawah?" Ucap Miksel menatap Arman. "Andine mengatakan kalian sudah berdamai?" Cetus Arman. "Apa? dia mengatakan seperti itu pada mu?" Miksel yang mendekat dan duduk di samping Arman. Arman yang melihat tingkah laku Miksel Sangat bahagia, saat Andine bercerita tentang dirinya. "Lupa kan!" Cetus Arman. "Hah, cerita lu nanggung, buat gue penasaran aja," Ucap Miksel yang kecewa. "Malam ini aku ada pengajian." "Dimana?" "Di mesjid, kenapa?" "Andine ada gak?" Miksel yang salah tingkah saat menyebut nama Andine. "Kamu suka sama Andine?" Tanya Arman yang mulai cemburu. "E...engak, siapa yang suka, aku kan sama dia cuma temanan aja kok," Miksel yang terlihat gugup. "Aku pegang kata-kata mu!" Arman yang berlalu pergi meninggalkan Miksel di sofa sendiri. Miksel terdiam sejenak, dia tak mengerti, apa yang di maksud Arman memegang kata-katanya." Sudah lah mungkin dia lagi datang bulan?" Ucap Miksel sambil tertawa. *** "Assalamualaikum," Ucap Andine saat memasuki rumah. "Waalaikumsalam," Bapak yang menyahut salam Andine yang duduk di ruang Tv menonton film favorit nya. "ibuk mana pak?" Andine yang duduk di kursi tak jauh dari bapaknya. "Ibuk pergi kerumah tetangga ada acara wirid kata nya," Jawab bapak. "Assalamualaikum," Sasa yang datang masuk ke dalam rumah. "Waalaikumsalam," jawab Andine dan bapak serentak. "Dari mana?" Tanya Andine kepada Sasa. "Dari rumah, mau kerumah kamu," Ucap sasa. "Pak Andine dan Sasa masuk ke kamar dulu ya," Andine yang menarik tangan sasa masuk ke dalam kamarnya. Andine ingin menceritakan kepada Sasa, apa yang telah di alami nya hari ini bersama Miksel. "Ada apa sih? kamu kelihatan bahagia banget?" Ucap Sasa yang bingung dan duduk di atas tempat tidur Andine. "Kami berdamai,Sa,"Ucap Andine dengan senyum yang lebar. Saat berada didalam kamar Andine melepas hijab dan cadar nya, Wajah Andine yang begitu putih dan cantik, hidung yang mancung, alis mata hitam yang tebal, bulu mata yang panjang melentik, bibir tipis yang merah,dan rambut panjang hitam dan tebal. "Berdamai apa? kamu berdamai sama siapa? "Sasa yang tak mengerti apa yang sedang di bicarakan Andine. "Miksel," Ucap Andine tersenyum. Sasa yang mengerut kan alis nya berkata, "Berdamai kerena apa?" Andine menjelaskan semuanya kepada Sasa, tentang apa yang telah dia alami dengan Miksel panjang lebar, sesekali Andine berhenti tersenyum bahagia, dan melanjutkan pembicaraan nya. Sasa yang memperhatikan tingkah sahabatnya yang tak biasanya seperti ini, Sasa hanya tersenyum dan mendengarkan semua cerita Andine. "Andine? seperti nya kamu sedang jatuh cinta?" Tebak Sasa begitu saja. Andine yang memberhentikan pembicaraan nya,dan terdiam dengan apa yang di katakan Sasa. "Apakah ini cinta,Sa?" Andine kembali bertanya kepada Sasa. "Aku tidak tahu pasti, apa kau jatuh cinta atau tidak,tapi kau sangat bahagia saat membicarakan tentang Miksel." "Aku tidak tahu,Sa? tapi entah kenapa jantung ku berdetak saat dia berada di dekat ku?" Andine yang tak bisa menafsirkan hati nya rasa kan. Sasa langsung memeluk Andine, "Akhirnya selama 22 tahun sahabat ku merasakan apa itu cinta." "Sa, jelaskan pada ku, apakah ini yang di nama kan jatuh cinta?" Andine yang melepaskan pelukan Sasa, dan berharap Sasa bisa menjelaskan perasaan nya. "Andine, saat kau melihat Miksel, apakah jantung mu berdetak sangat kencang?" "Iya, aku merasakan nya," jawab Andine mengangguk. "Apakah tangan mu dingin, dan kau sangat gugup saat dia semakin mendekat ke arah mu?" Tanya Sasa memastikan. "Iya,Sa, saat aku berada di pondok, dia berjalan ke arah ku, untuk makan siang, aku merasa sangat gugup, tapi aku berusaha tetap tenang." "Tidak salah lagi, kau telah jatuh cinta pada Miksel," Ucap Sasa dengan bahagia. "Benarkah? Jadi aku sedang jatuh cinta pada Miksel? tapi kenapa secepat itu,Sa? aku baru bertemu dengan nya, dan aku juga tidak begitu tahu tentang kepribadian nya?" Tanya Andine kebingungan. "sahabat terbaik ku, cinta itu adalah anugerah, kita tidak tahu, kapan cinta itu akan datang pada kita, dan pada siapa kita jatuh cinta nantinya, dan pada saat ini, cinta yang kau miliki, itu jatuh kepada Miksel," Jelas Sasa menerangkan. Andine yang baru mengerti tentang perasaan yang dia rasakan saat ini,dia hanya tersenyum, dan berharap kepada Allah. Semoga suatu hari cinta nya berakhir dengan baik pula, dia tidak mau kerena cinta, dia lupa diri, dan melalaikan kewajiban nya sebagai hamba Allah. Bapak yang tak sengaja mendengar pembicaraan Andine dan Sasa, mengetahui bahwa putri nya sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya, turut merasa bahagia. Dia berharap jika memang Miksel di takdir kan untuk putri nya, dia akan menerima nya dengan senang hati, Bapak tidak bisa memutuskan siapa orang yang tepat dan baik untuk Andine, dia hanya mendukung apa yang menurut Andine baik untuk dirinya. Bersambung... Happy reading ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN