Bab 11
"Perasaan ini sangat indah ya,Sa?"Ucap Andine dengan tersenyum.
"Iya, indah saat kau merasakan bahagia, setelah itu, kau akan merasakan sakit saat kau tersakiti, dan kau akan menyalahkan cinta tersebut."
"Ih, kamu ini, ngomong nya kok seperti itu, gak baik ah," ucap Andine memanyunkan bibirnya.
"Malam ini ada pengajian? Ustadz Arman yang ceramah?" Tanya Sasa.
"Iya, Arman yang ceramah malam ini."
"Apa yang kau katakan? kau kata kan Arman, kenapa kau bicara santai saat menyebut nama nya?" Tanya Sasa mengerutkan keningnya.
"Dia yang mengatakan pada ku,jangan panggi ustadz, panggil saja Arman, itu sebabnya aku hanya memanggil Arman," Terang Andine.
"Aneh!" Ucap Sasa mengaruk kepala nya yang tak gatal
"Aneh kenapa?" tanya Andine.
"Kenapa dia mengatakan itu pada mu? tapi dia tidak mengatakan pada ku seperti itu?" Tanya Sasa yang berusaha untuk berpikir.
"Kamu suka sama Arman?" Tanya Andine.
"Awal nya aku sudah tak tertarik lagi sama Arman, aku itu tertarik sama si abang bulek?" Jawab Sasa
"Miksel, maksudnya?" Tanya Andine.
"Iya, Miksel! tapi aku rela kan dia untuk mu, dan kembali pada cinta pandangan pertama ku, yaitu ustadz Arman," Ucap Sasa menerawang ke atas, membayangkan dia akan bersanding bersama Arman.
"Hey,hey, dosa tau! jangan berpikir yang aneh-aneh, apa yang sedang coba kamu pikirkan?" Tanya Andine tertawa melihat tingkah Sasa.
"Apaan sih, yaudah aku lapar nih, kita pesan sesuatu ya," Tawar Sasa.
"Gak perlu! kamu makan di sini aja, kebetulan ibuk masak banyak, kan mubazir kalau gak di habisin."
"Oke, aku akan menyantap makanan itu sampai licin," ucap sasa, berlari menuju dapur.
"Hey, gak di habisin juga kali," Andine yang menyusul Sasa ke dapur.
***
Arman yang duduk di atas tempat tidurnya, membaca beberapa buku, mempelajari materi yang akan dia sampai kan nanti malam saat pengajian sedang berlangsung.
Miksel yang melihat, masuk dan menghampiri Arman.
"Hey bro, lagi apa lu?" Ucap Miksel sambil berbaring di tempat tidur Arman.
"Aku lagi membaca beberapa buku untuk ceramah nanti malam," Ucap Arman.
"Aku boleh gak ikut pengajian? aku pengen tau aja bagaimana rasa nya, mendengar kan ceramah tentang agama, apa lagi best friend aku sendiri yang menyampaikan," Ucap Miksel.
Tangan Arman terhenti membalik lembaran buku ke halaman selanjutnya dan menoleh menatap Miksel tak berkedip.
"Apa? apa ada yang aneh di wajah ku? kenapa menatap ku aneh seperti itu?"ucap Miksel tak mengerti.
"Apa aku tidak sedang bermimpi? atau mungkin aku salah dengar?" Arman yang tak percaya atas apa yang barusan dia dengar.
"Kenapa? emang aku gak boleh ikut pengajian sama kamu?"Jawab miksel.
"Kamu serius?" Arman yang berusaha meyakinkan apa yang dia dengar.
"Iya gue serius! ntar malam gue mau ikut pengajian."
"Itu bagus, aku bahagia mendengar nya, aku bersyukur kau mendapatkan hidayah saat berada di kampung ini," ucap Arman tersenyum dan melanjutkan membaca buku nya.
Dan tiba-tiba Arman teringat, dia berpikir bahwa Miksel bukan ingin pergi ke pengajian dengan tulus, tapi dia punya niat yang tersembunyi.
"Apa kau benar ingin ikut ke pengajian? kau pergi bukan kerena ada niat lain kan?"Tanya Arman langsung menebak.
"Apa kau sedang berburuk sangka pada ku? kau tahu kan m, bahwa berburuk sangka kepada orang, itu termasuk dosa!" Ucap Miksel.
"Aku bukan berburuk sangka pada mu! aku hanya tidak ingin, kau ikut ke pengajian, kerena ada maksud!" Ucap Arman menegaskan.
"Jika aku pergi kerena ada niat lain, bagaimana?" Tanya Miksel kembali.
"Itu percuma, kau tidak akan dapat pahala, kerena kau berniat pergi bukan untuk mendengarkan tentang ajaran agama yang baik, tapi kerena kau punya maksud tersembunyi, dengan beralaskan kau akan pergi ke pengajian tersebut."
"Tenang lah,Man! aku pergi tulus untuk mendengarkan pengajian yang kau sampaikan," ucap Miksel dengan wajah serius.
Arman menatap mata Miksel begitu lama, dia ingin meyakinkan, bahwa Miksel beneran serius dengan apa yang dia katakan barusan.
"Alhamdulillah, jika kau memang benar-benar berniat untuk ikut pengajian dengan ku, dan aku harap seterusnya kau memperbaiki diri mu," ujar Arman yang mulai percaya, bahwa Miksel serius dengan perkataan nya.
"Iya, do'ain aja!" Ucap Miksel yang tersenyum.
Dia juga tak tahu mengapa, kenapa tiba-tiba dia berniat ingin datang ke pengajian Arman.
ada sesuatu perubahan yang dia rasakan saat bertemu dengan Andine, dia merasa Andine membawa hal yang positif untuk dirinya.
sampai akhirnya Miksel tertidur dengan lamunan yang dia pikirkan.
Arman yang selesai membaca beberapa buku tersebut, dan melihat Miksel sedang tertidur, dia hanya menggeleng kan kepala melihat Miksel, yang kebiasaan tidur di saat adzan Maghrib. Arman bergegas mengambil air wudhu dan segera untuk melaksanakan sholat, Arman sengaja untuk melaksanakan sholat di rumah saja, agar dia bisa menghemat waktu, untuk pergi ke pengajian.
setelah melaksanakan sholat Maghrib, Arman membaca beberapa ayat suci Al-Qur'an.
setelah semua selesai dia lakukan, dia membangun kan Miksel untuk segera makan malam.
"Sel,Sel, ayo bangun! kita makan malam dulu!" Arman yang menggoyang kan badan Miksel.
"Apaan sih,Man? gue baru aja tidur," Ucap Miksel dengan mata yang sipit menahan kantuk.
"Ayo makan malam! kamu bilang mau pergi ke pengajian sama aku, setelah kita makan malam, kita sholat isya, kita akan berangkat ke pengajian," Ucap Arman.
Dengan menahan kantuk yang berat, Miksel menuju meja makan, dan melihat makanan yang tidak asing, terhidang di atas meja.
"Ini seperti makanan yang gue makan di sawah tadi? lu dapat dari mana nih makanan?"Tanya Miksel.
"Ini dari ibu Andine, saat perjalanan pulang dia memberikan makanan ini," Terang Arman.
Arman dan Miksel menyantap makanan yang terhidang di atas meja begitu lahap, setelah menyantap makanan di atas meja sampai habis, Miksel keluar ke teras rumah, dan duduk di kursi sambil menghisap sebatang rokok.
Arman yang membersihkan meja makan, dan bersiap melaksanakan sholat isya.
setelah semua nya beres, Arman bergegas untuk menuju mesjid, untuk melakukan pengajian.
"Kamu udah mau pergi?" Tanya Miksel.
"Iya, kamu jadi ikut gak?"
"Yaudah ayok, aku juga udah nungguin kamu dari tadi!" ucap Miksel yang bangkit dari duduknya berniat hendak pergi.
Arman yang melihat dari bawah ke atas penampilan Miksel yang hanya mengenakan celana panjang lie dan kuyak-kuyak ala anak Funk.
"Kamu yakin mau pergi seperti ini?" Tanya Arman.
"Iya, apa yang salah?"Tanya Miksel melihat pakaian yang dia kenakan.
"Pergi lah ke kamar, kau bisa memakai baju ku! cepat jangan sampai kita terlambat."
Tanpa perlawanan dan protes Miksel memakai baju Arman yang tergantung di kamar.saat menuju keluar teras,Arman tertawa melihat pakaian yang di kenakan Miksel, dia merasa Miksel sangat berbeda dengan pakaian yang dia kenakan, Miksel yang memakai kain sarung, digulung sedikit ke atas, dan baju Koko putih yang dia kenakan, tak lupa peci yang dia sarung kan ke kepala nya.
Bersambung ....
Happy reading ?