BEKERJA DI SAWAH

1032 Kata
Bab 8 "Ada nak, Miksel toh," Ucap ibuk yang keluar dari dalam rumah, dan duduk di sebelah bapak. "Selamat pagi, Buk," Sapa Miksel. "İni hari pertama kamu buat bantu bapak di sawah,Nak?" Tanya ibuk dengan tersenyum. "İya, Buk," Jawab Miksel. Tak berapa lama Andine membawakan 2 gelas kopi dan memberikan nya kepada bapak dan Miksel. Miksel yang menyaksikan itu pun Heran. "Minum lah! aku membuat nya dengan ikhlas," Ucap Andine tiba-tiba kepada Miksel. Miksel yang menatap tajam Andine berkata dalam hati,"Apa kau sedang menjebak ku lagi." "Tenang! itu kopi manis, bukan kopi asin," Andine yang tersenyum di balik cadar yang menutupi nya. "Apa dia bisa membaca pikiran ku? kenapa dia bisa tahu apa yang sedang aku pikir kan?" Ucap Miksel dalam hati. "Di minum saja,Nak!" Ucap bapak tersenyum. "Baik,Pak!, dengan ragu Miksel mengambil cangkir yang berisikan kopi, Miksel berpikir, apakah ini akan menjadi Boomerang kedua, jika dia meminumnya lagi. Miksel terlihat pasrah, dia tidak punya pilihan lagi, dengan tangan yang bergetar, Miksel meneguk kopi tersebut. "Tarannnn" Ucap Andine saat Miksel meneguk minumannya. "Bagaimana? Rasa nya manis kan seperti aku," celoteh Andine tertawa. "Manis apa nya? bahkan kopi ini terasa semakin pahit, saat aku melihat dia di depan mata ku," Gerutu Miksel dalam hati. Bapak dan ibuk hanya tertawa melihat keraguan Miksel saat meminum kopi, dan begitu juga tawa kecil yang di susul Andine. Miksel hanya tersenyum saja, dia juga merasa sedikit malu dengan reaksi yang dia tunjukkan saat meminum kopi, ternyata bukan kopi Asin yang di beri Andine, tapi kopi yang sangat manis dan enak yang pernah Miksel rasa kan. Tak berapa lama setelah menghabiskan kopi yang di buat kan Andine, bapak pun pamit untuk pergi ke sawah dan di susul dengan pamitan Miksel. Saat hendak pergi, Andine memanggil Miksel dan berkata,"Miksel Fighting!! semangat ya bekerja di sawah bapak aku," Ujar Andine dengan sikap yang tak biasa di lihat Miksel. Miksel hanya memasang wajah tak mengerti dan mengerut kan kening saja dan melanjutkan perjalanan nya. "Ke sambet apa tuh anak, baru aja dia marah-marah, sekarang berlagak sok imut lagi," Ucap Miksel mengaruk kepala yang tak gatal. İbuk yang heran melihat tingkah Andine berbeda kepada Miksel pun bertanya,"Andine, kamu kenapa? ibuk perhatikan tingkah kamu tidak biasa nya kepada Miksel." "Emang kenapa,Buk? Andine tetap biasa aja kok, Andine tetap sama tingkah nya dari sebelumnya," Andine yang terlihat salah tingkah. "Gak tau lah, ibuk hanya heran saja, melihat kamu memberi semangat yang berlebihan kepada Miksel," Ujar ibuk meninggalkan Andine dan masuk kedalam. Andine yang terdiam dan tercengang, apa yang telah dia perbuat, dia juga bingung kenapa dia bertingkah seperti itu kepada Miksel." Ada apa dengan ku? apa yang salah aku makan hari ini? tapi aku belum makan apa pun?, Tidak! tidak ..., ini tidak boleh terjadi lagi," Ucap Andine yang merasa malu mengingat dengan tingkah nya kepada Miksel. *** Saat sampai di sawah, Bapak pun memberi tahu apa yang harus di kerjakan Miksel, Bapak mengajar kan Miksel cara untuk menanam bibit padi. "Nak, Miksel, pertama-tama kamu harus cangkul tanah ini,agar tanah nya lunak dan rumput nya cepat membusuk, tapi jangan terlalu dalam mencangkul nya, seperti dalam liang lahat.Ucap bapak tertawa kecil. "Siap pak! " Ucap Miksel segera memulai mencangkul tanah. bapak pun pergi berkeliling, untuk melihat-lihat padi, apakah ada musuh bebuyutan sedang mendemo padi. *** "Andine antar kan makanan ini sama bapak mu, mereka pasti lapar belum makan apa pun," perintah ibuk kepada Andine. Dengan langkah yang malas Andine keluar dari kamar, dia tidak punya kekuatan untuk bertemu Miksel setelah apa yang dia katakan tadi pagi, Andine pun mencoba mencari alasan agar tak pergi ke sawah. "Buk,Andine lagi ada tugas," Ucap Andine dengan wajah memelas. "Tugas apa toh kamu? mengantar kan makanan ini hanya sebentar, habis itu kamu bisa pulang kerumah dan melanjutkan tugas mu." "Tapi buk../ "Andine pergi sana! gak usah mencari alasan, cuma sebentar aja kok," perintah ibuk yang memotong pembicaraan. Dengan wajah dan kaki yang malas, Andine terpaksa harus pergi ke sawah mengantar makanan, "Aduh, Andine kenapa sih kamu ceroboh, sok imut lagi saat bicara pada Miksel," Ucap Andine mengomel sendiri pada dirinya. Sepanjang perjalanan Andine terus mengatakan dirinya terlalu ceroboh, sampai dia berada di sawah. Andine melihat Miksel yang mencangkul tanah dengan gagah, Andine tersenyum,"Ternyata dia benaran serius mau bantu bapak di sawah." "Bapak Andine bawa makanan, makan dulu yuk," Teriak Andine dan melambaikan tangannya pada bapak. Bapak yang mendengar jeritan Andine segera menghentikan pekerjaannya, dan menuju pondok di mana Andine duduk. "Nak,Miksel, ayo kita makan dulu!" Ajak bapak menuju pondok. "İya, Pak! saya akan menyusul setelah pekerjaan ini selesai," Ucap Miksel dengan giat mencangkul tanah. "Jangan bekerja terlalu keras! cepat segera datang ya," Ujar bapak. Bapak pun menuju pondok dan melihat makanan apa yang telah di bawa Andine. "Andine masak apa ibuk mu hari ini?" Bapak yang duduk di pondok bambu bersama Andine. "Semur jengkol,sama ikan lele di sambal pak," Ucap Andine yang membuka tutup rantang satu-persatu dan dia hidang kan untuk bapak. "wah ini enak sekali, ibuk mu memang jago buat memancing selera bapak di panas terik seperti ini," Bapak pun mulai menyantap makanan yang terhidang. Andine memperhatikan Miksel yang bekerja dengan giat, dia tak menyangka bahwa Miksel pekerja keras, Andine pun tersenyum dibalik cadar hitam nya. "Kenapa Miksel gak makan pak?" Tanya Andine. "Bapak sudah ajak, tapi dia bilang sebentar lagi akan menyusul," Ucap bapak yang menyantap makanan dengan lahap. "Dia pekerja keras ya,Pak! ," Ucap Andine sambil memandang Miksel yang bekerja di seberang. Bapak yang tersenyum dengan tingkah dan tatapan Andine yang memperhatikan Miksel. Setelah merasa lapar dan lelah, Miksel menghentikan pekerjaannya, dia pun datang menuju pondok yang di tuju kan bapak tadi. Dengan keringat yang mengucur membasahi badan nya, dan wajah putih yang merah, akibat terik matahari. Andine Merasa gugup, saat Miksel menuju ke pondok, tapi Andine berusaha untuk tetap tenang agar tidak ketahuan bapak dan Miksel. "Ayo makan,Nak!" bapak yang bersandar di pondok bambu melepaskan penat. "Hidang kan Andine makanan itu pada Nak Miksel," perintah bapak. Andine pun membuka kembali satu persatu tutup rantang dan memberikan nya kepada Miksel, "Silahkan makan," Ucap Andine. "Terima kasih," Miksel yang tersenyum kikuk. Bersambung .... Happy reading ? semoga terhibur dan suka episode kali ini ya ?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN