MENEPATI JANJI

1042 Kata
Bab 7 Di pagi hari, Miksel terbangun dengan cepat, dia berusaha untuk menepati janji nya kepada Bapak Andine, dia tak mau semakin di remeh kan dengan Andine, dia juga ingin membuktikan bahwa dia serius dengan janji nya, dia juga ingin pamer bahwa dia lelaki sejati yang selalu berpegang teguh dengan janjinya, Miksel yang bergaya seperti Spiderman yang siap menyelamatkan nyawa ribuan orang berdiri di depan pintu. Arman yang melihat aneh tingkah dan gaya Miksel berdiri di depan pintu pun menegurnya. "Kamu kenapa? udah gila?," Ucap Arman yang menggaruk kepala nya yang tak gatal. "Aku lelaki sejati, yang akan siap bertempur," Miksel merentangkan tangan nya yang bersiap seperti hendak terbang. "udah deh! kayak korban sinetron aja," Arman yang geli melihat tingkah aneh Miksel. "Gue mau pergi kerumah Andine, untuk menepati janji ku pada bapak nya, aku akan menunjukkan pada nya, bahwa aku lelaki sejati," Ucap nya dengan gaya Spiderman. "Emang kamu punya janji apa?," "Aduh... gue kan janji sama bapak nya, kalo gue bakal kerja di sawah nya," Ucap Miksel yang bergaya normal kembali. "Oh iya, aku lupa, tapi kamu mau pergi sepagi ini?" "Iya dong! emang kenapa?" "Yaudah sana kamu pergi, semoga kamu berhasil menanam padi di sawah," celoteh Arman tertawa. "Yaudah gue pergi dulu," Miksel melangkah kan kaki pergi. "Assalamualaikum," Arman yang menegur Miksel yang berlalu pergi. "hehehe, Waalaikumsalam! sorry gue lupa,"Miksel yang mengehentikan langkah nya. "kebiasaan kamu, yaudah pergi sana!" Miksel pun pergi melanjutkan langkahnya menuju rumah Andine.Saat berada di rumah Andine pintu masih tertutup, Miksel pun memutuskan untuk menunggu, dan duduk di salah satu kursi di teras rumah Andine. 15 menit sudah Miksel menunggu pintu rumah untuk segera terbuka, Dan akhirnya penantian pun nya tak sia-sia, Andine tampak membuka pintu rumah itu. "Astagfirullah, kamu kok di situ, mengagetkan saja," Andine yang terkejut melihat Miksel duduk di teras depan rumah nya. "Apaan sih? pake kaget segala! lu kira gue hantu," ketus Miksel melihat reaksi Andine. "Engak hantu, tapi di atas hantu," Ketus Andine. Sejenak Miksel berpikir tentang yang di katakan Andine barusan"Hantu diatas hantu?Apa ya? Genderuwo, pocong, mereka kan juga hantu? dia bilang gue di atas hantu, berarti gue Jin dong?," Ucap Miksel di dalam hati. "Eh, maksud lu gue Jin?" "Kalau kamu berpikir seperti itu, mungkin iya," Celoteh Andine tertawa. "Enak aja, gue tampan! gue maco! masak gue di bilang Jin," Miksel yang memperlihatkan otot kekar nya. "Memuji diri sendiri," Andine yang memutar bola matanya ke atas. "Bapak lu mana? gue udah lama nih nungguin dari tadi?," Ucap Miksel. "Ada urusan apa kamu sama bapak aku?" Andine yang mengerut kan dahi nya. "Udah pemarah, jutek, pelupa lagi," Miksel yang berbicara pelan. "Aku dengar yang kamu katakan! telinga aku masih sehat untuk mendengarkan semua nya. "Syukurlah kalau kamu masih punya pendengaran yang bagus, setidaknya itu kelebihan yang kamu punya," Miksel yang tertawa mengejek. "Kamu menyebalkan banget sih!" Andine yang terlihat kesal. "Ada apa ini? pagi-pagi sudah terdengar keributan dari dalam," ucap Bapak yang datang dari dalam. "Eh, Bapak, Ini nih angota kerja bapak udah datang," Ucap Andine. "Nak, Miksel, udah lama kamu nunggu di luar? cepat sekali kamu datang?" "iya, pak! mau membuktikan bahwa saya lelaki sejati yang menepati janji, yang saya buat pada seseorang," Ucap Miksel yang menatap ke arah Andine. "Belagu banget sih," Ucap Andine dalam hati. "hahaha, bapak mengerti, pada siapa kamu tuju kan pembicaraan kamu itu," Bapak yang tertawa melihat tingkah Andine dan Miksel. "Sebentar lagi kita akan ke sawah! tapi sebelumnya bapak ingin minum kopi,Nak Miksel suka minum kopi?" Tanya bapak kepada Miksel. "iya saya suka kopi pak," Jawab Miksel dengan bersemangat. "Andine tolong buat kan kopi bapak dan Miksel ya!" "Baik,pak" Andine yang segera melangkah hendak masuk ke dalam rumah. "Tunggu!" Miksel yang tiba-tiba mengehentikan langkah Andine yang hendak masuk ke dalam, seketika Miksel teringat atas kejadian yang menimpa nya di tempo hari.Dia tidak ingin kejadian sama terulang kembali, bukan kopi manis yang akan di minum nya, melainkan kopi Asin buatan Andine. Andine yang menghentikan langkahnya, heran kenapa Miksel menyuruh nya menunggu,"Apalagi sih yang di inginkan anak ini?" Ucap Andine dalam hati. "Ada apa? Ketus Andine. 'İya ada apa, Nak?" Tanya bapak yang juga heran. "Anu...saya gak jadi deh minum kopi nya,pak" Ucap Miksel menunduk kan kepala nya ke bawah. Andine tersenyum melihat tingkah Miksel, Andine tahu, kenapa Miksel tak mau meminum kopi,Tapi Andine hanya diam saja. "Kenapa? tadi kamu bilang mau? kamu bilang sangat suka minum kopi," Bapak yang tampak kebingungan. "İya... saya lupa kalau saya tidak bisa minum kopi di pagi hari,Pak," Ucap Miksel mencari alasan dan menatap Andine dengan tajam. "İya udah pak, Andine buat 1 kopi aja ya? Miksel juga tidak bisa minum kopi di pagi hari,"Ucap Andine sambil melirik Miksel dengan nada mengejek. "Yasudah lah kalau begitu," Ucap bapak pasrah. Andine pun masuk kedalam dengan tertawa kecil, dia merasa lucu dengan tingkah laku Miksel, yang takut terjebak dengan minuman ter asin buatannya. "Ada apa? kamu kok kelihatan nya senang sekali?" İbu yang keluar dari kamar menyapa Andine. "Eh ibuk, udah bangun?" "İya, kenapa kamu terlihat girang sekali hari ini?" "Ha...engak kok, Andine biasa aja, Andine mau buat kopi untuk bapak," "Bapak kamu dimana? kok ibuk gak lihat di tempat biasa duduk?" "Bapak ada diluar buk," "Loh kok tumben bapak kamu duduk di luar sepagi ini? biasa nya dia selalu duduk di ruang tamu," "Bapak duduk sama Miksel,buk," "Miksel datang sepagi ini? dia benar-benar ingin bekerja dengan giat sama bapak mu," Ucap ibuk yang terlihat menyukai kepribadian Miksel. "Apaan sih,Buk, itu mah biasa aja!" Andine yang tak setuju dengan pendapat ibu nya. "Kamu ini, kalo udah tentang Miksel, pasti semuanya gak setuju, yaudah ibuk mau keluar dulu liat bapak mu," "İya,Buk! Andine juga mau buat kopi," "Tapi kamu cuma buat kopi untuk bapak mu? Miksel memang nya tidak mau kopi?" Tanya ibuk. "Awal nya dia mau, tapi dia menolak, Buk," "Hmm... pasti dia takut kamu kasih kopi asin lagi," ibuk yang menggeleng-geleng kan kepala dan berlalu pergi keluar. Andine yang masih berdiri di tempat yang sama tertawa mendengar kan perkataan ibuk nya, dan berlalu pergi ke dapur untuk membuat kopi. Bersambung .... Happy reading ? Terima kasih udah mampir dan membaca novel HiJrah cinta ku semoga kalian terhibur dan suka ??
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN