"Iya, pergi duluan! Nanti kami menyusul." Mas Edgar berseru cukup lantang saat menyadari Rafka seperti menunggu jawaban kami usai mengabarkan kondisi terkini sang kakek. "Oke, baiklah." Suara Rafka tak terdengar lagi setelah mengucap dua kata itu. Membuatku sesaat larut dalam pikiran sendiri. "Ayo, siap-siap." Mas Edgar mengagetkanku ketika memberikan perintah yang serupa dengan ajakan itu. "Iya." Aku bangkit dari tempat tidur dan gerak cepat menuju kamar mandi untuk mencuci muka sebelum pergi. Aku memilih menggunakan sweater tebal sebelum bertolak menuju ke rumah sakit malam ini. Mas Edgar sendiri memakai jaket kulit untuk melapisi kaos lengan pendek warna putih yang melekat di tubuh gagahnya. Harus aku akui, dia memang selalu terlihat tampan dengan apa pun pakaian yang melekat di t

