"Kamu ngomong apa, sih, Mas?" Aku menggeleng pelan melihat tingkah anehnya. Mas Edgar menarik napas dalam dengan wajah yang tampak kusut. Atau lebih tepatnya … bad mood. Masa iya dia cemburu dengan Bang Fahmi? Ah, tidak mungkin! Bukankah semua yang dilakukan olehnya selama ini cuma sekedar kepalsuan? Jangan terlalu percaya diri dengan menganggapnya cemburu, Afifah! Setelah menunggu sekitar 15 menit, pesanan kami pun datang. Aku yang sejak kemarin-kemarin sudah sangat mendambakan cita rasa bebek lada hitam dari warung ini, begitu tak sabar untuk menikmati makanan penuh memori itu. Mas Edgar yang aku tahu belum memakan apa pun sepulangnya dari kantor, terlihat tak kalah antusias dariku saat menerima bebek yang dipesannya datang. "Pelan-pelan, dong, Mas. Makannya." Aku buru-buru menyodo

