"Sudah selesai bicaranya? Aku capek. Mau tidur," ujarku tegas, tak ingin menanggapi serius ucapannya. Takut makan hati kalau ternyata dia cuma ingin bermain-main. Aku menarik napas dalam saat rasa sesak itu tiba-tiba muncul. Ingat, Afifah! Dia baik padamu hanya karena takut kehilangan semuanya. Bukan karena benar-benar tulus mencintaimu! Aku terus mensugesti diri jika aku tak perlu mengambil hati segala apa yang diucapkan oleh anak sulung mertuaku ini. "Fah, aku serius. Bahkan, hampir tiap detik tiap menit aku memikirkanmu." Aku mendengkus pelan. Se-bucin itukah dia padaku yang cuma wanita miskin dan tak berharta ini? Yang benar saja. "Mungkin sulit untuk dipercayai, tapi sungguh, aku mulai gila karenamu," ungkapnya lantas meraih tanganku. Namun, buru-buru aku hempaskan dengan kasar.

