"Kamu … serius mau nemenin aku beli bubur?" tanyaku sedikit ragu, ketika kami sedang berjalan menuju garasi. "Apa aku terlihat seperti sedang main-main?" tanyanya sambil menunjuk wajah sendiri. Aku menggeleng pelan sebelum menaiki mobil. Kadang masih belum percaya jika lelaki arogan itu bisa berubah menjadi sangat manis seperti ini. Namun, apa yang tidak mungkin? Bukankah Allah yang Maha membolak-balikkan hati? Aku hanya berharap jika dia memang telah berubah, aku ingin dia terus memantapkan hatinya padaku. Mungkinkah itu bisa terjadi? "Kenapa nggak makan bareng sama Mama? Mama masak banyak, loh, tadi," ucapku ketika sedikit merasa bersalah karena membuat Mas Edgar tak jadi menikmati masakan ibunya. Sesuatu yang jarang sekali dia dapatkan. "Kalau aku makan bareng sama Mama, nanti yang

