***
pagi ini aku bangun setelah menangis semalaman , rasanya sakit ketika orang yang aku cinta dan orang yang menjadi sahabatku selama ini mengkhianati ku . bagaimana mungkin mereka berdua tidur bersama di belakang ku . dan kini evelin sedang mengandung anak laki - laki yang aku cinta selama ini .
aku bangun dengan rasa sesak di d**a , rasa tidak percaya dan mata sembab karna semalaman menangis . aku berjanji pada diri sendiri ini adalah tangisan terakhir ku untuk Puja . yang Puja dan Evelin lakukan benar - benar menyakiti ku dan menyakiti keluarga ku . pantas saja Puja dan Evelin seperti hilang ditelan bumi selama ini .
***
ku lihat ibu berada di dapur dan mas Putra sedang bersih - bersih rumah , pasti ibu dan mas Putra sengaja membiarkan aku beristirahat agar lebih tenang lagi . ku hampiri ibu karna bau masakan ibu selalu menggoda ku .
" ibuuuuuu " pelukku dari belakang pada ibu
" sudah bangun nak ? " tanya ibu
" bau masakan ibu bikin bangun lebih cepat , jadi lapar adek bu " rayu ku agar ibu tidak berfikir aku masih kepikiran hal semalam
" ayo makan nak , ibu sudah masak nasi goreng cabai hijau kesukaan mu " pinta ibu
rasanya masih sama , makanan kesukaan ku , cinta ibu , hangatnya rumah ini . hanya saja ayah tak bersamaku lagi . tiba - tiba mas Putra datang merebut piring ku . mas Putra masih sama usilnya , masih sama hobi mengerjai ku . dan aku masih sama suka kesal dan ngambek kalau diganggu mas Putra .
" bu , ini untuk Putra kan ? adek ga usah makan bu , kayaknya udah kenyang " mas Putra datang merebut piring ku
" belum mas , ini punya aku . ambil piring sendiri deh , ibu tolong piring adek diambil mas Putra " aku berlari mengejar mas Putra
ibu tersenyum manis melihat keusilan kami berdua yang masih sama sampai detik ini . aku dan mas Putra berjarak sekitar lima tahun . sekarang usia ku dua puluh dua tahun sedangkan mas Putra dua puluh tujuh tahun . kami memang sering berantem berdua . selalu membuat suasana rumah menjadi heboh . tapi saling merindukan kalau jauh . persis seperti kucing dan tikus kata ayah dan ibu . tapi aku bersyukur mempunyai mas Putra , dia selalu menjaga ku apapun itu . tidak pernah lupa walaupun hanya bertanya tentang makan ku ketika kuliah , lebih over protective sebenarnya .
" ini nasi nya ibu tambah di piring yang sama aja ya nak , sendok nya satu lagi . biar makan satu berdua aja ya " ibu mengecup puncak kepala mas Putra dan aku
ibu selalu bisa menengahi kami berdua tanpa ada drama keributan , tanpa ada yang merasa ibu berpihak ke salah satu antara kami . air mata ku menetes mengingat kebahagiaan tawa ku hari ini tidak ada ayah yang melihat kami sekedar berdehem . biasanya ayah juga ikut makan satu piring bersama kami .
*
*
*
" mas , nanti temenin aku ke panti asuhan di kampung sebelah ya " aku mengajak mas Putra
" mau ngapain ? males ah capek , jauh juga " tolak mas Putra
" ayolah mas , nanti aku traktir bakso pak de diujung komplek " rayu ku pada mas Putra
" dua mangkok ya " tawar mas Putra
" banyak mau banget nih , yaudah deh " pilih ku kemudian
*
*
*
aku sengaja semalam sudah packing semua barang - barang yang selama ini Puja berikan untuk ku . semua barang yang di berikan oleh Puja masih bagus dan memang selama ini selalu aku jaga dan aku rawat . aku memilih untuk memberikan ke panti asuhan adalah agar barang - barang ini masih tetap di gunakan dengan layak dari pada aku kubur atau aku buang jadi lebih mubasir .
" yok mas , adek udah siap nih " ajak ku pada mas Putra
" mau ngapain sih dek ? kardus sebesar gamblang di bawa " kaget mas Putra saat melihatku membawa kardus besar
" mau kemana nak ? itu ngapain bawa - bawa kardus besar nak ? berat kan " tegur ibu padaku
" bantuin dulu mas , baru nanya - nanya . berat nih "
" itu bu barang - barang yang di kasih Puja selama ini . adek mau kasih ke panti asuhan aja dari pada numpuk di kamar jadi penuh bu " jelas ku pada ibu
" cieeeeee menghapus kenangan lama nih judulnya " ledek mas Putra
" yaudah berangkat sana nak , semoga pilihanmu kali ini pilihan paling tepat " ibu mengusap kepala ku
aku ciumi tangan ibu dan juga mas Putra berlari segera mengejar untuk menciumi tangan ibu . Ayah dan ibu selama ini memang mengajari kami bagaimana untuk tetap hormat pada orang tua .
diperjalanan menuju panti , masih tetap ku peluk boneka beruang kesayangan ku selama ini , boneka ini memang diberikan Puja untuk hadiah ulang tahun ku .
" kalau ga ikhlas ga usah sok - sok mau dikasih ke panti dek " ledek mas Putra
aku tidak menanggapi , hanya timpukan halus dari ku menjawab ledekan mas Putra . rasanya memang berat , tapi ini adalah terbaik di perjalanan hidup ku selanjut nya . memilih jauh dari Puja adalah pilihan terbaik . bagaimana pun Puja dan Evelin mengkhianati ku tetapi aku tetap harus mendoakan yang terbaik untuk Puja dan Evelin . aku tidak ingin nanti nya menyakiti anak yang sekarang sedang dalam kandungan Evelin .
*
*
*
sesampai di panti asuhan semua barang - barang aku berikan pada adik - adik yang tampak gembira memilih barang - barang yang menurut mereka bisa mereka gunakan . aku berjalan ke danau belakang panti asuhan ini . aku lihat seorang anak perempuan sekitar berusia lima belas tahun duduk sendiri di danau dan terlihat murung . aku tanyakan kepada ibu pengurus panti asuhan . ternyata ayah dan ibu nya meninggal di sebuah kecelakaan tragis sekitar seminggu yang lalu , ini sebab nya dia berada di panti asuhan ini dan selalu terlihat murung . aku berniat untuk menghampiri nya dan aku meminta izin terlebih dahulu kepada ibu pengurus panti asuhan ini .
" jangan sendiri terus , dunia diluar benar - benar mengasyikkan loh " aku memulai percakapan dengan anak perempuan ini , tetapi tidak ada jawaban darinya .
" cia , namaku cia " aku mengulurkan tangan pada anak perempuan ini
" cilla " jawabnya dengan suara pelan
" aku punya boneka untuk mu , dan semoga kamu suka " aku memberikan boneka tersebut pada cilla
aku memilih membiarkan cilla duduk disana , mungkin dia butuh waktu untuk menerima kenyataan yang saat ini dia hadapi pikirku . lebih baik aku tidak terlalu ikut campur urusan yang dia hadapi sekarang . aku segera pamit pada ibu pengurus panti asuhan . segera menuju warung bakso pak de yang diminta oleh mas Putra , rasanya rindu juga makan diujung jalan desa ku ini
*
*
*
" dek , kamu yakin dengan ini semua ? " tanya mas Putra saat duduk ditempat bakso pak de
" semoga ini pilihan terbaik mas , aku tidak mau menyakiti siapapun mas . cukup mereka yang menyakiti ku selama ini " jelas ku menutup pertanyaan mas Putra
setelah selesai memakan bakso bersama mas Putra , mas Putra menyusuri jalan desa kami dengan pelan , udara sejuknya masih sama , masih membuat ku nyaman
ternyata mas Putra membelokkan mobil kearah taman sekaligus danau buatan . aku merindukan tempat ini gumam ku .
" mari tuan putri " mas Putra meledek ku
" sudah lama kita tidak kesini dek , dulu kau biasanya suka duduk disini " lanjut mas Putra
ditempat ini aku dan Puja sering menghabiskan waktu jika pulang ke desa , terkadang juga duduk bersama mas Putra . Puja merupakan adik kelas dari mas Putra , ya aku dan Puja berjarak sekitar tiga tahun .
berat rasanya harus menerima kenyataan ini , laki - laki yang aku cinta selama ini , aku percaya ternyata mengkhianati ku dengan sahabat ku sendiri . bagaimana mungkin selama ini mereka menjalin hubungan tanpa aku tau sedikit pun .
ibu menelepon ku , memberitahu bahwa ada Puja dirumah menunggu ku , rasanya malas berhadapan dengan dia lagi . bagaimana pun aku harus melupakan Puja dan jauh dari kehidupan Puja bersama Evelin . bukannya aku tidak bisa move on tetapi pilihan terbaik saat ini adalah menjaga jarak dari semuanya .
" kasih tau Puja aja bu , kalau adek tidak dirumah . sudah kembali ke kos " pintaku pada ibu
" mas , besok adek balik ke kos ya . buat sementara mas disini atau balik kerja juga ? " ucapku pada mas Putra
" mas kayaknya balik juga dek , tapi rencana nya jika ibu berkenan mas bakal bawa ibu ke rumah mas , sekalian bakal mempercepat pernikahan mas sama mba Lisa " ucap mas Putra
" sepertinya itu yang terbaik mas untuk saat ini , lagian masa kontrak mba Lisa yang tidak mengizinkan menikah kan cuma tinggal tiga bulan lagi mas " biar ibu bisa sama mas
" iya , pulang yuk , kasian ibu dirumah . Puja pasti udah pulang itu dek " ajak mas Putra
*
*
" kami pulang bu , ibuu , ibuuu " sesaat saat aku dan mas Putra memasuki rumah , tapi tidak ada jawaban dari ibu , kami sudah mencari kesana kemari . akhirnya aku memutuskan bertanya pada bu Tejo .
" maaf bu numpang tanya , ibu lihat ibu saya ? " tanya ku pada bu Tejo
" tadi ibu mu pergi nak bersama Puja " sesaat pikiran ku terasa kacau , kenapa Puja membawa ibu , dia kemana .
segera aku menghubungi Puja , sudah berkali kali aku menelepon tetapi tidak ada jawaban . aku putuskan menelepon mama Puja , tetap juga tidak ada jawaban . akhirnya aku menelepon ke rumah Puja , bibi lah menjawab telepon ku . dari bibi aku mendapatkan jawaban kalau mama Puja beserta Puja hari ini berencana ke makam ayah . segera aku dan mas Putra menuju ke makam ayah . sesampai di makam ayah aku lihat ibu duduk sendiri di makam ayah . sesaat air mata ku lolos membasahi pipi ku .
" ibu " sapa ku pelan , ibu bergegas menghapus air mata nya
" ibu rindu ayah ? "
" iya nak , sepi tanpa ayah rasanya "
" tadi ibu sama siapa kesini ? "
" sama Puja dan mama Puja dek "
" bu , lain kali kalau mau kesini minta diantar sama mas Putra aja ya bu , kami khawatir " pelukku pada ibu
tetapi aku lihat disekeliling aku tidak menemukan Puja dan mama nya . masa iya dia meninggalkan ibu disini sendirian . bergegas aku membawa ibu pulang , sepertinya keputusan mas Putra membawa ibu kerumah nya adalah paling tepat . aku dan mas Putra tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada ibu .
*
*
" sayang , besok aku jemput ya , aku dapat reward di kantor jalan jalan ke bali " pesan dari Ridwan
" wah selamat sayang . aku bahagia atas kesuksesan mu . besok aku tunggu ya " balasku bahagia
aku kemasi semua barang - barang ku di rumah . mungkin besok siang aku akan kembali ke kos ku , entah bagaimana sekarang usaha online shop ku . tapi pastinya para karyawan ku sudah bisa menangani nya dengan baik .
" bu , besok adek balik ya ke kos , Ridwan besok pagi datang jemput adek " izinku pada ibu
" iya nak, hati - hati ya . jaga diri " pesan ibu padaku
" bu , ibu ikut Putra ke rumah Putra ya bu " pinta mas Putra pada ibu
" ibu ikut bagaimana menurut kalian baik saja nak " ucap ibu
" ibu tenang saja , makam ayah dan rumah ini sudah putra pesankan pada mang jaja . dan gaji mang jaja biar Putra yang transfer bu . kalau ibu mau pulang nanti pasti Putra antarkan bu . sebentar lagi Putra juga mau menikah kan bu " mas Putra menjelaskan pada ibu