Setelah berpamitan dan mengucapkan salam kepada Ibu Mary. Kini Ricky berangkat sekolah bersama dengan Edo, berjalan kaki sudah menjadi hal kebiasaan mereka untuk menuju sekolah meski membutuhkan waktu lebih lama dari menaiki sepeda.
Di tengah perjalanan ada sebuah mobil mewah yang lewat jalan itu, ketika sudah mendahului kedua remaja yang hanya berjalan kaki, mobil itu berhenti dan jalan mundur menghampiri Ricky dan juga Edo.
"Hey kalian berdua! kenapa jalan kaki? Yaa sudah, naik sini! Biar ku antar kalian sampai ke sekolah.
Ricky dan Edo saling bertatapan satu sama lain.
"Yakin? Tidak merepotkan anda?"
"Sekolah kami sudah dekat di depan sana dan tidak jauh lagi kami akan sampai berjalan."
"Iyaa saya tahu ... kebetulan juga saya ada keperluan di sekolah kalian," jelas seorang pria itu.
Ricky dan Edo kembali saling menatap dan salah satu di antara mereka mengangkat bahunya. Hingga seseorang yang ada di dalam mobil membuka salah satu kaca jendelanya.
"Sudah ... jangan ragu-ragu! Kamu masih ingatkan sama aku, Ricky?" ajak seorang gadis yang ternyata adalah Fresia.
"Kamu ... kok, bisa sampai kesini?" tanya Ricky tidak percaya seorang Fresia anak kota besar bisa ada urusan dengan sekolah kecil di kota ini.
"Sebentar ... kalian sudah saling kenal? Di mana?" Edo menarik tangan Ricky dan beruntun dia memberikan pertanyaan yang membuatnya penasaran. Ditambah lagi paras cantik Fresia dan mobil mewah itu membuat hati Edo semakin tidak percaya dengan sahabatnya saat ini.
"Kau tenang dulu ... kalau kita bahas sekarang, yang ada kita berdua akan terlambat masuk sekolah," terang Ricky.
"Okey! Tapi janji kita akan bahas kembali kasus ini!" tegas Edo, dia berjalan menghampiri gadis itu. Tapi, dengan segera Fresia menutup kaca jendela mobilnya dan mengunci pintunya membuat Edo tidak bisa membuka. Hanya sebuah senyuman Fresia tunjukan untuk duduk di depan.
Wajah Edo semakin terlihat kesal ketika di suruh duduk di depan bersama pengemudi mobil, Ricky melihat sahabatnya itu dia ingin tertawa namun dia tahan agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkannya.
Lain dengan Ricky, dia di perbolehkan masuk dan duduk berdampingan dengan gadis itu. Edo membulatkan kedua matanya tidak habis pikir bahwa Ricky sahabatnya itu di silahkan duduk berdampingan dengan gadis cantik.
"Huh! Dia di bolehin duduk di situ, sedangkan aku ... emm, sudahlah tidak apa rela berkorban demi sahabatku," gumam batin Edo.
Dari awal masuk mobil wajah Edo tidak seperti berangkat berjalan kaki tadi, Ricky yang melihat hanya menggelengkan kepalanya, dia tahu bahwa Edo saat ini sedang menggerutu. Tetapi bagaimana pun Edo tidak akan bisa marah padanya hanya karena masalah seperti ini.
"Oh yaa ... memangnya ada urusan apa? Apakah ada hal yang ...."
"Nanti kamu juga akan tahu sendiri," sela Fresia.
Mendengar hal itu dari Fresia, Ricky mengangguk saja dan kini mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan gerbang sekolah. Keluar bersama-sama Edo dan Ricky terlebih dulu, sedangkan Fresia masih di dalam mobil. Mengucapkan terima kasih kepada Fresia juga kepada pria yang mengemudi mobil tadi.
Mobil mewah Fresia menjadi tontonan para siswa dan siswi saat memasuki sekolahan untuk memarkirkan mobil di tempat yang sudah tersedia di sana.
"Wiiih ... ada orang kaya masuk ke sekolahan kita," ucap salah satu siswa di sekolah itu.
"Keren mobilnya," tambah teman di sebelahnya.
"Dasar orang udik! Model yang seperti itu saja sudah di bilang keren dan kaya," sindir teman yang lainnya
Saat pintu mobil di buka oleh seorang gadis berparas cantik, semua mata tidak lagi melihat kemewahan mobilnya melainkan langsung terhipnotis kearah gadis yang bernama Fresia.
"Huh! Baru saja melihat model cantik, langsung saja bengong seperti tidak pernah melihat gadis cantik," ejek Edo melewati ketiga siswa yang sedari tadi berbicara tentang mobil mewah di depan sana.
"Sudahlah jangan hiraukan mereka. Ayoo kita masuk, bell sebentar lagi akan berbunyi," ajak Ricky, dia berjalan terlebih dulu masuk ke dalam kelas.
Edo masih memperhatikan Fresia, dia benar-benar terpikat pesona gadis cantik itu. Ricky yang sudah melangkah masuk malah berbalik lagi melihat tingkah laku sahabatnya itu seperti orang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Memang aneh tapi nyata adanya," Ricky tersenyum tipis sembari menggelengkan kepalanya.
"Hmm ... dasar laki-laki mata keranjang! Tidak bisa lihat gadis cantik sedikit saja, langsung seperti orang yang kehausan," sindir Viola, dia berdiri di belakang Ricky hingga membuat laki-laki itu terkejut.
"Heeh, pagi-pagi sudah bikin aku terkejut saja," kata Ricky, dia menoleh kearah gadis yang masih berdiri di dekatnya.
"Kamu siapa? Aku tidak peduli!" acuh Viola dan masuk kembali ke dalam kelas.
"Satu lagi ... ada gadis aneh yang tiba-tiba saja acuhkan aku," gumam batin Ricky.
Tidak lama kemudian bell pun berbunyi menandakan sudah jam masuk dan memulai aktivitas pelajaran pertama di kelas masing-masing. Kedatangan Fresia ke sekolah adalah untuk mendaftarkan dirinya di sekolahan ini, dia ingin pindah ke sekolah ini dikarenakan tempatnya masih sangat alami akan keindahan alam sekitarnya.
Akhirnya semua urusan Fresia selesai dan bisa memulai masuk sekolah besok. Gadis itu benar-benar terlihat senang bukan main.
"Terima kasih, Pak!" ucap pria yang mengemudi mobil mewah, dia sebenarnya adalah Ayah kandung Fresia yang hanya berpakaian sederhana.
"Terima kasih kembali ... saya justru senang bisa mendapatkan seorang murid pindahan dari kota besar," balas Bapak kepala sekolah.
"Aah ... biasa saja, Pak!" tutur Ayah Fresia.
Kini Fresia berjalan seorang diri berkeliling sekolahan itu. Bangunan sekolah cukup luas dan juga memiliki lapangan yang luas sekali. Fresia menikmati berjalan-jalan seorang diri, apalagi udaranya masih terasa segar alami. Sampai pada sebuah kelas gadis itu melihat sosok Ricky yang tengah menyimak mata pelajaran di depannya.
"Tuan putriku ... menyukai anak laki-laki itu?" tanya peri kecil yang selalu berada di dekatnya.
"Kamu ini ada-ada saja. Memangnya aku sedang menyukai seseorang, hmm?" balas Fresia tersenyum mendapati pertanyaan Peri kecilnya itu.
"Habisnya Tuan putri selalu saja memperhatikan laki-laki yang bernama Ricky itu," ucap si Peri kecil.
"Hati dan perasaanku hanya untuk Raja Alderts!" ungkap Fresia.
"Iyaa iyaa Tuan putriku ... sayangku ..." puji si Peri yang di beri nama Gracie.
Fresia tersenyum ketika wajah si Peri terlihat imut sekali baginya. Kini dia kembali berjalan dan menghampiri Ayahnya yang menunggu sedari tadi di parkiran mobil.
"Bagaimana sayang? Kamu menyukainya?" tanya Ayahnya.
"Iyaa aku menyukainya, Yah!" jawab Fresia bersemangat, dia tidak sabar lagi ingin segera mengikuti pelajaran di sekolahan ini. Apalagi ketika dia mendengar dari Bapak kepala sekolah tadi saat di kantornya, bahwa akan diadakan sebuah festival tahunan di sekolah ini dalam waktu seminggu ke depan.
Kini Fresia dan juga Ayahnya memasuki mobil untuk segera pulang. Sepanjang perjalanan wajah Fresia nampak ceria sekali bahkan Ayahnya sendiri juga ikut senang ketika raut wajah putrinya itu terlihat b*******h kembali.
Kembalinya Fresia dari insiden di "Blue Jungle" hampir setiap hari wajahnya terlihat murung tidak b*******h bahkan keceriaannya kian hari seakan terkikis oleh waktu. Kalau saja gelang pusaka itu tidak berubah menjadi seorang Peri maka Fresia akan sulit menjalani kehidupan barunya saat ini.
Ayahnya Fresia sudah membeli rumah di kota itu dan tinggal di sana bersama dengan putri kesayangannya. Perjalanan tidak terlalu memakan waktu lama untuk sampai di rumah baru.
"Woow! Benar-benar suasana klasik," ucap Fresia nampak menyukai rumah baru mereka.
"Kamu suka, sayang?"
"Heem, suka sekali," balas Fresia sembari tersenyum kepada Ayahnya dan memeluk dengan perasaan sayang.
Rumah cukup besar untuk mereka berdua. Segera gadis itu berlari dengan semangat memasuki rumah barunya. Mentari sudah terbenam dan kini berganti rembulan yang bersinar terang di malam hari.
"Aah ... tidak menyangka benar-benar bisa sekolah di kota ini. Meski penduduknya sangat minim tetapi hamparan alam sekitarnya menjadi ciri khas alami nan indah." Fresia dalam posisi telentang dan menghadap langit-langit.
Tidak terasa waktu semakin larut malam dan Fresia pun sudah terlelap dalam mimpi indahnya. Peri kecilnya membuat perisai pelindung di sekitar rumahnya agar tidak ada suatu hal yang tidak di inginkan terjadi.
"Tuan putri Fresia memang sangat cantik. Wajar saja banyak yang terhipnotis akan kecantikan Tuan Putri," puji Gracie.
Si Peri pun juga terlihat mengantuk dan merebahkan tubuh kecilnya di samping kepala Fresia. Lama kelamaan peri Gracie juga terlelap dalam tidurnya. Perisai yang di buat oleh Gracie tembus pandang tak terlihat oleh kasat mata biasa, hingga terlihat seekor ular yang ingin melewati perisai itu sontak ular itu langsung tersengat sesuatu energi kuat dan memutar badan berbalik arah.
Di celah-celah jendela masuk cahaya sinar mentari membuat Fresia mengerjapkan matanya dan berusaha mengumpulkan nyawa. Melihat peri kecilnya masih tertidur pulas, dia bangunkan dengan memberi sebuah kecupan hangat di pagi itu.
"Ayoo bangun! Temani aku berangkat sekolah pagi ini, Gracie!" ajak Fresia, namun Peri kecil itu masih belum bangun juga dari tidurnya justru semakin melingkarkan tubuhnya dan sayapnya pun semakin rapat menyelimuti tubuh kecilnya.
"Hmm ... sepertinya ada yang mau belajar nakal, yah?! Baiklah ... buah apelnya aku makan semua," goda Fresia.
"Hah! Buah apel? Iyaa iyaa ... aku bangun sekarang juga," ucap Gracie sembari merenggangkan kedua tangannya.
Kini Fresia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dengan aktivitas mandinya, dia segera mengenakan pakaian seragam baru dari sekolahan kemarin, dengan gaya rambut berurai panjang rapi nan lembut. Dia segera berjalan keluar kamar dan menghampiri Ayahnya yang sudah menyiapkan sarapan pagi untuk 2 orang saja.
"Ayah ...."
"Hmm, yaa sayang. Ada apa?"
"Aku pulang sekolah nanti ... berjalan kaki saja yah, boleh?" pinta Fresia sembari menyuap sarapannya ke dalam mulut.
*Kenapa harus jalan kaki? Lumayan jauh lho kalau harus jalan kaki saja, yakin mau berjalan saja, kamu?" tanya Ayahnya menatap dengan intens.
"Heem ..." angguk Fresia dengan hati yang mantap.
Ayahnya hanya bisa tersenyum dan kini mereka menghabiskan sarapan pagi. Mengantarkan Fresia pergi ke sekolah dengan mengendarai mobil, tidak lupa juga si Peri kecil ikut namun dalam wujud gelang melingkar di tangan kiri gadis itu.*
Berdiri tegak di depan cermin kali ini Edo terlihat lebih rapi dan harum wangi tidak seperti biasanya. Ricky tersenyum tipis dengan perubahan kepada sahabatnya itu.
"Emm ... wangi sekali kau pagi ini?"goda Ricky.
"Tentu, sewangi perasaanku kali ini," balas Edo.
"Wah pantas saja kemarin gadis itu tidak mau dekat denganmu karna tidak sewangi ini," canda Ricky tertawa tertahan.
"Eeeh! Sembarangan di kau berucap. Begini-begini aku paling tampan setelah kau," puji diri sendiri dengan kepercayaan yang Edo miliki sekarang.
Gelak tawa bersama di pagi itu dan mereka juga keluar kamar menuju ruang dapur yang di mana semua orang sudah di kursi masing-masing, siap sarapan pagi bersama keluarga besar di asrama itu. Seperti biasa rutinitas dilakukan dalam kehangatan bersama, tapi Viola kali ini memperhatikan Ricky tidak seperti biasanya.
"Psst ... psst ..." tegur Edo dengan menyenggolkan tangannya ke tangan Ricky yang duduk di sebelahnya.
"Ada apa? Jangan merusak mood makanku pagi ini," ucap Ricky sembari menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
"Itu ... si Viola dari tadi selalu perhatikan kau!" ungkap Edo.
Ricky yang mendengarnya hampir saja tersedak makanan.
"Kau ini ada-ada saja."
Ricky mau ambil pusing, dia terus memakan makanannya sampai habis. Bagi dirinya sudah bukan hal aneh jika Viola memperhatikan dirinya, yang dia tahu adalah Viola juga termasuk saudari dalam asrama kali ini. Wajah Edo menjadi kerut dan masam akan respon sahabatnya itu karena tidak terlalu menanggapi soal Viola memperhatikan.
Semua anak-anak panti berpamitan dan mengucapkan salam sebelum berangkat sekolah. Seperti biasa Ricky memilih paling terakhir dari yang lain.
"Buu ... saya mau berangkat dan mohon doa restunya," pamit Ricky.
"Iyaa sayang ... hati-hati di jalan," saran Mary dengan penuh kasih sayang.
"Heem, aku sayang padamu Buu," ungkap Ricky.
Ricky selalu mengatakan hal itu, sama halnya dengan Indra yang juga setiap malam menghubungi Mary hanya untuk mengucapkan sayang dan cinta kepada Mary.*
Perjalanan cukup jauh di lalui Ricky dan Edo setiap harinya, bahkan hampir warga sekitar sudah mengenal baik dengan 2 remaja laki-laki tersebut. Sesampainya di sekolah dan bertepatan bell masuk berbunyi, dengan berlari mereka berdua masuk ke dalam kelas.
Tak seperti biasa guru wali kelas hadir lebih awal bahkan sosok gadis cantik berdiri di depan papan tulis. Ricky dan Edo terkejut ketika sudah ada guru walinya di dalam kelas. Namun wajah gadis yang sudah tidak asing lagi bagi Ricky, akan tetapi dia baru tersadar mengapa kemarin bahwa ada urusan ke sekolah adalah untuk menjadi salah satu murid di sekolahnya bahkan menjadi teman sekelasnya kali ini.
"Kalian berdua kenapa bengong! Cepat duduk sana!" tegur Pak Guru.
Segera mereka berdua menghampiri meja masing-masing dan mendengarkan apa yang hendak Guru sampaikan saat ini.
"Kita kedatangan murid pindahan dari sekolahan kota Blue, silahkan perkenalkan diri," ucap Pak Guru.
"Perkenalkan nama saya Fresia ...."
Fresia dengan perasaan cerianya memperkenalkan diri dan hobinya. Namun setiap sorotan mata seisi kelas melihatnya dengan kagum. Baru kali ini ada perempuan yang nampak elok dan enak di pandang terutama oleh kaum laki-laki. Mereka saling berebut dan gumam menanyakan kesukaan gadis itu bahkan sampai hal konyol sekalipun.
"Di sana di sebelah Ricky ada meja kosong, kamu bisa tempati meja itu, Fresia," ucap ramah Pak Guru. Di balas anggukan oleh Fresia.
Edo yang duduk di belakang Ricky, dia menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Hmm ... ada apa?"
"Bertukar tempat duduk, mau?"
"Buat apa? Aku sudah nyaman duduk di sini!"
"Aah, kau ini tidak peka sekali sama sahabatmu ini," rajuk Edo.
Ricky benar-benar tidak bisa mengerti kehendak Edo yang saat ini. Fresia berjalan dan duduk di sebelah meja Ricky dan tersenyum kepadanya. Ricky yang memang suka tersenyum tentu dia membalasnya dengan senang hati. Namun lain dengan Edo terlihat seperti orang yang baru saja jatuh cinta saat memandang Fresia.
Pelajaran pertama kini di mulai sampai jam istirahat tiba. Bel berbunyi untuk jam istirahat pertama. Semua murid di kelas pun keluar untuk menikmati waktu yang sudah dinanti-nantikan. Namun ada juga yang membawa bekal makanan dan salah satunya adalah Fresia, dia audah terbiasa membawa bekal makanan dari rumah.
Lagi-lagi Edo bertingkah tidak seperti biasanya, dia masih diam dan duduk di bangku panasnya.
"Hey, kau tidak lapar?"
"Nanti saja ... aku sedang menikmati anugerah terindah saat ini. Jangan ganggu aku," ucap Edo membuat Ricky menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan kelakuan yang baru pertama kali dia ketahui.
Fresia yang menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya sedari awal masuk hingga istirahat ini tiba. Akhirnya Fresia menoleh ke arah Edo yang terlihat memandangi terus-menerus.
"Kamu tidak istirahat?" tanya Fresia dengan suara lembutnya hingga membuyarkan lamunan Edo.
"Hehe ... aku cukup istirahat di sini saja," balas Edo tersenyum padanya.
"Terus ... kamu tidak lapar?" tanya gadis itu lagi.
"Aku sudah cukup kenyang, saat ada seorang bidadari di hadapanku," ungkap Edo.
"Hmm ... jangan terlalu banyak berkhayal, kalau terlalu tinggi bisa jatuh nanti," sindir Fresia tersenyum manis lesung pipinya.
"Kalau pun terjatuh aku akan rela ...."
"Waah ... sekarang kau pandai berpuisi asmara, yah!" ejek Ricky.
Kehadiran Ricky beriringan dengan bunyi bel masuk. Seketika itu juga Edo merasakan lapar yang hebat, bunyi perut yang sedari tadi berbunyi tapi tak dihiraukannya. Edo hanya bisa pasrah bahwa waktu istirahat tidak terasa baginya begitu cepat berlalu. Karena ulahnya sendiri tidak menghiraukan ajakan Ricky, kini Edo merasakan betapa rasa lapar yang kini melilit di perutnya.
Jam pelajar sudah usai dan penjaga sekolahan membunyikan bel waktu pulang telah tiba. Edo masih dengan wajah lemasnya menahan rasa lapar, dengan bergegas dia berlari ke kantin. Tapi, semua makanan sudah habis terjual bahkan sepotong roti pun tidak dia dapatkan.
"Ini untuk kamu ... makanlah." Fresia memberikan sepotong roti berisi daging.
"Tapi ini kan ...."
"Tidak apa-apa ... kamu sih! Kan audah ku bilang jangan terlalu tinggi dalam khayalanmu," ucap Fresia.
"Hehe ..." tawa Edo, dia menjadi salah tingkah bahkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.
"Cepat habiskan makananmu!" desak Ricky.
Edo begitu lahap memakan sepotong roti isi daging tersebut pemberian dari Fresia. Terlihat lucu bagi Ricky karena sesungguhnya Edo tidaklah seperti ini kebiasaannya. Hari itu hampir semua siswa dan siswi memang terpukau ketika melihat Fresia, selain cantik dia juga cerdas dalam setiap mata pelajaran, bahkan tutur katanya begitu sopan kepada siapapun yang ingin berkenalan dengannya.
Hari pertama Fresia sekolah di kota kecil itu membuat dirinya senang dan ceria. Kini dia pulang hanya berjalan kaki saja seorang diri, dirinya sangat menikmati pesona alam di kota ini, udaranya yang sejuk membuat langkah kakinya tidak terasa sudah di pertengahan jalan.
Namun rasa haus menyerangnya dan mengharuskannya membeli minuman di sebuah mini market. Masuk ke dalam mini market dan banyak terdapat minuman drink penyegar dan Fresia memilih minuman s**u rasa strawbery. Ketika ia ingin membayar ke kasir, tiba-tiba ada segerombolan orang berbadan tinggi besar.
"Sudah ada uang yang terkumpul!!" seru pria berbadan besar.
"Belum ada ..." jawab penjaga kasir itu dengan tubuh gemetaran.
"Ooh ... jadi mau di tunda lagi pembayarannya, hah!!" bentak Pria besar itu.
Fresia hanya terdiam melihat apa yang dilakukan oleh segerombolan pria besar itu. Bahkan beberapa dagangan dalam mini market itu di bawa tanpa membayar uang sepeserpun.