Rencana Untuk Festival

3001 Kata
Misi berhasil diselesaikan meski wajah memar dan luka menjadi sebuah bukti bahwa terjadi pertarungan sengit. Namun di balik itu semua adalah sebuah pengalaman yang sangat berarti bagi mereka masing-masing termasuk juga Ricky dan Indra. Setelah Indra beserta anggota-anggota yang lainnya melaporkan misi selesai ke atasan yaitu kepada Ryuga selaku pangkat tertinggi diantara kapten lainnya. "Hmm ... jadi masih mengikutsertakan anak itu? rupanya masih bersangkutan dengan dimensi Iblis. Baiklah, karna semua sudah terlanjur dan misi pun selesai. Tetapi ... aku minta satu hal kepadamu, Indra. Jangan sampai lengah," pinta Ryuga. "Siap!! aku tidak akan mengecewakanmu, Pak," hormat Indra dan juga anggota yang lainnya. Ricky duduk bersantai sambil menunggu Indra yang masih berada di dalam ruangan khusus di kantor Ryuga. Sesekali dia menoleh kearah pintu kantor yang sedari tadi belum juga terbuka. Cukup lama Ricky menunggu hingga dia bosan hanya duduk-duduk saja, kini berdiri dan berjalan mencoba mencari minuman segar ke luar kantor. Sebuah mesin minuman drink terlihat di seberang jalan tidak jauh dari kantor. Ricky berjalan menyebrang jalan sedikit lebih cepat karena saat ini dia benar-benar sudah kehausan. Beberapa uang koin dia masukkan dan sekaleng minuman drink keluar dari mesin minuman itu. Ada sebuah bangku kecil tepat berada di samping mesin tersebut, kemudian Ricky duduk dan membuka segel penutup minuman dan meminumnya segera. "Aaah ... segarnya, serasa sudah lama tidak minum air drink ini." Ricky menikmati minumannya dipinggir jalan sembari melihat beberapa prajurit yang masih aktif latihan di sore itu. Sekitar 10 menit Ricky bersantai, ada seorang prajurit menghampirinya dan mengajaknya berbicara. "Kau Ricky anak angkat kapten Indra, kan?" tanya si Prajurit itu. "Iyaa, pak!" jawab Ricky datar. "Hmm ... aku dengar kau juga ikut menjalankan misi bersama dengan kapten?!" ujar Prajurit lagi. "Iyaa, pak!" jawab Ricky masih dengan datarnya bahkan dia sambil menikmati minuman drinknya. "Maukah kau ikut bersamaku sebentar?" ajak si Prajurit. "Memangnya mau kemana, pak?" tanya Ricky datar. "Tidak perlu cemas, aku hanya ingin tahu seberapa hebat dirimu itu," ucap pria itu dengan percaya dirinya. Mendengar hal itu membuat Ricky mengangkat sebelah alisnya, meski dia tidak mengerti apa maksud tujuan prajurit itu mengajaknya kalau hanya untuk mengetahui kehebatan dirinya. Ricky mengikuti prajurit itu dengan berjalan santai tanpa ada pikiran negatif apapun tentang pria berotot di depannya kali ini Setelah berjalan cukup jauh dari tempat mesin minuman tadi, kini mereka berdua tiba di sebuah lapangan terbuka dan tidak hal apapun terlihat di sana. "Apa yang akan anda tunjukkan ...." Seketika prajurit tadi tidak terlihat saat Ricky menoleh ke samping dan melihat di sekitarnya pun bahkan kesana kemari juga tidak ada lagi pria itu. "Aneh ... tadi mau mengajakku kesini. Tapi, kenapa malah menghilang ..." gumam Ricky. "Dasar bodoh! itu bukan manusia yang menyapamu tadi!" ucap Rocky bergema dalam dirinya. "Aku tidak bodoh! sudah jelas pria tadi berpakaian seragam prajurit mana mungkin bukan manusia," protes Ricky. "Heh, kau masih belum mengerti dengan yang kita miliki sekarang ini?!" geram Rocky. Ricky benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ia rasakan. "Dengarkan baik-baik anak manja! di dunia ini banyak sekali terdapat dimensi dunia lain dan salah satunya adalah dunia paralel yang sudah kita lewati bersama tadi," jelas Rocky. "Lalu yang barusan tadi apa maksud kamu, bahwa prajurit itu bukan manusia?!" tanya Ricky masih penasaran dengan penjelasan yang belum ia mengerti. Ricky yang tengah asyik bergelut dengan rasa penasarannya, tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk bahunya hingga membuatnya terkejut. "Sedang apa kau di sini, Ricky?" tegur Indra membuyarkan lamunan Ricky. "Hah? tidak apa-apa, cuma sekedar melihat-lihat saja," jelas Ricky. "Yaa sudah, kalau begitu biar ku antar kamu ke asrama dan sekalian aku juga kangen sama dia," ajak Indra di balas anggukan oleh Ricky. Kini mereka berdua berangkat menaiki motor kesayangan Indra. Jarak yang di tempuh cukup memakan waktu dan tiba di asrama pada malam hari. Sesampainya di depan gerbang asrama, dari luar pagar sudah terlihat jelas Mary menunggu duduk di kursi teras depan, dengan segera berjalan menghampiri kedatangan Ricky dan Indra. Pintu pagar di buka oleh Mary dan segera Ricky mencium punggung tangan Ibunya. Namun Mary mengerutkan dahinya ketika melihat goresan luka di bagian kening Ricky dan ia pun mengecupnya, membuat Indra cemburu ketika melihat sebuah kecupan bibir Mary mendarat di kening Ricky saat ini. "Buu, saya masuk duluan yah!" ucap Ricky sembari mengedipkan matanya menoleh kearah Indra. "Iyaa sana mandi, bau badanmu," angguk Mary. "Hehe ... bau wangi, Buu ...?" goda Ricky. "Bau aseem, tau!" sindir Mary. "Tapi ada yang lebih asem lagi, lho!" canda Ricky, ia menunjuk kearah pria yang masih berada di atas motornya. "Eeeh! awas kau yaa ..." geram Indra turun dari motor hendak mengejar Ricky yang sudah berlari terlebih dulu masuk ke dalam asrama. Ketika Indra sudah turun dari motornya, Mary mendekati dan memeluk erat tubuh pria itu. Awalnya Indra tidak mengerti, namun dia mencoba membelai rambut Mary dengan lembut dan mengecup keningnya dengan perasaan rindu yang mendalam padanya. "Kenapa? kamu kangen yaah?" goda Indra. "Tidak, aku hanya ...." "Hanya apa, sayang?" sela Indra membuat Mary tersipu malu, apalagi suara Indra terdengar seperti rayuan yang membuat wajah gadis itu memerah. "Aku sudah ada di sini ... dan sekarang aku mengambil masa cuti untuk beberapa minggu ke depan," kata Indra mencoba sedikit menghibur Mary, tetapi tidak ada jawaban dari gadis itu. "Aku ... aku tidak ingin kehilangan kamu," bisik Mary dalam pelukan Indra. "Hmm ... aku juga," angguk Indra. "Ehem ... ehem ... kenapa tidak di suruh masuk, Mary!" tegur Pak Rizal, seketika pelukan hangat terlepas antara Indra dan Mary bahkan mereka berdua menjadi salah tingkah di hadapan Pak Rizal. "Mau masuk dulu ..." ajak Mary. "Emmm ... sepertinya lain kali saja, sayang. Ini sudah malam, tidak enak sama anak-anak asrama," ucap Indra menjadi sungkan. "Yakin kamu, Indra ...?" tanya Pak Rizal mengangkat sebelah alisnya melihat kearah Indra yang segera ingin berpamitan kepadanya. Setelah kepergian Indra dari asrama, Mary kembali menutup pagar gerbang asrama dan menghampiri Ayahnya. "Ayah belum tidur?" tanya Mary dengan lembut. "Bagaimana aku bisa tidur, sedangkan anak ku satu-satunya selalu gelisah sepanjang hari. Tapi, sepertinya setelah kehadiran orang yang kamu sayangi ... hatimu sudah jauh lebih baik dari sebelumnya," goda Pak Rizal membuat wajah Mary memerah menahan malu. "Aah, Ayah ini ada-ada saja." Mary membantu mendorong kursi Pak Rizal masuk ke dalam asrama. "Iyaa ... memang benar adanya, kok," tambah Pak Rizal di balas tawa senyum simpul Mary. Kehangatan seorang ayah dan anak benar-benar terlihat di mata Ricky yang berada di ruang dapur kali ini. "Jangan bilang kau iri sama kemesraan ayah dan anak itu?!" tanya Edo tanpa berpikir panjang. "Dasar kau ini! mana ada aku punya rasa iri begitu, justru kemesraan mereka ingin sekali ku abadikan," ungkap Ricky. Ricky dan Edo malam itu menikmati makanan yang dimasak oleh Mary. Sahabat setia seperti Edo memang membuat Ricky terhibur akan semua kekonyolannya. Tak lama kemudian setelah Mary mengantar ayahnya masuk ke dalam kamar, kini dia menghampiri Ricky dan Edo di ruang dapur yang tengah menyantap makan malam. "Wah-wah ... dua sahabat ini sangat menikmati sekali yah masakan Ibu," ucap Mary berjalan dan mengambil piring untuk ikut makan bersama mereka. "Tentu donk, Buu!" "Masakan ini sungguh enak tidak ada duanya," puji Edo dan Ricky. "Benarkah? kalian ini yaa pandai sekali memuji, dasar laki-laki gombal," balas Mary. Mendengar hal itu, Edo dan Ricky saling tatap satu sama lain dan merekapun tertawa bersama. Kompak antara keduanya berdiri dari duduk dan menghampiri Mary dan mencium pipi bersebelahan. Mendapati perlakuan dari kedua anak asuhnya, hati Mary benar-benar merasa bahagia sekali di malam itu. Malam yang dingin menjadi sebuah kehangatan ketika semua berkumpul kembali apalagi bersama orang-orang yang disayangi. Tidak ada ungkapan melebihi rasa bahagia untuk mereka hingga masing-masing tertidur pulas dan mimpi indah.* Pukul sudah menandakan sang mentari kembali dengan cahaya terangnya di pagi ini. Sudah hal yang tidak asing lagi bagi Ricky bangun pagi-pagi, dia melakukan kegiatan rutin berolahraga setiap hari dan juga berangkat sekolah bersama sahabatnya Edo. Hari-hari Ricky lewati bersama keluarga besarnya di asrama, meski terkadang suasana tidak selalu gembira. "Dalam waktu seminggu lagi kita akan mengadakan festival tahunan di sekolah ini. Jadi, setiap kelas masing-masing harus mempunyai acara yang mesti di tampilkan di festival nanti. Sesuka hati kalian mau buat acara apa, selama itu menjaga sopan santun dan juga bisa menghibur semua orang. Sekian dan terima kasih atas perhatian." Pengumuman langsung dari wakil kepala sekolah membuat siswa dan siswi bergumam merencanakan apa yang ingin di buat di festival nanti. "Hmmm ... aah! aku tidak punya ide untuk festival. Acara apa yang harus kita tampilkan," ucap seorang Ketua kelas. "Bagaimana ... kalau kita bikin konser aja," ucap salah satu teman sekelas. "Harus ada beberapa orang yang pandai memainkan musik dan juga seorang vokal," jawab Ketua kelas. "Bagaimana kita buat acara cafe?" usul salah satu teman sekelas. "Tapi kita butuh seseorang yang pandai dalam menyajikan masakan dan minuman," balas Ketua kelas yang bernama Rubby. "Kamu tidak perlu khawatir tentang masakan, karena di kelas kita sudah ada orang yang sangat pandai dalam hal itu," ucap Viola, dia ikut berpartisipasi dalam rapat di kelas bersama beberapa teman sekelasnya yang termasuk juga wakil ketua kelas. "Siapa orang itu, Viola?" desak Rubby. "Itu ... si kutu buku," tunjuk Viola mengarahkannya kepada Ricky yang tengah asyik membaca buku "Seni Pernapasan". "Dia ...? kau yakin, Viola?! tidak salah pilih orang, kan?" tanya Rubby begitu beruntun membuat Viola sedikit kesal. "Orang yang setiap hari ikut menyiapkan makanan di asrama adalah dia!" tegas Viola, namun membuat Rubby menjadi geli menahan tawa dengan pernyataan dari Viola itu sendiri. Viola langsung menatap tajam kearah Rubby hingga membuat dia terdiam karena tatapan gadis itu yang hendak menerkamnya. Rubby mencoba mendekati Ricky yang tengah asyik dengan buku bacaannya. "Hay, sob! apa kabarmu?" sapa Rubby berbasa-basi terlebih dulu. Viola yang melihat tingkah ketua kelas itu, ingin sekali dia muntah. Karena apa yang dilakukan oleh Rubby terlalu banyak memakan waktu hingga gadis manis ini berdiri dan berjalan menghampiri Ricky. Saat Ricky hendak menjawab sapaan dari ketua kelas itu. Tiba-tiba Viola sudah berdiri tepat dihadapan kedua laki-laki itu dan menghentakkan tangannya di atas meja Ricky dan langsung mengatakan dengan lantang. "Maukah kamu ikut berpartisipasi dalam festival nanti? dan kami memilih kamu untuk menjadi penyaji makanan dan minuman, mau atau tidak??" ajak Viola dengan suara tegas namun terdengar lembut. Ricky terdiam sejenak sesudah apa yang baru saja dikatakan oleh Viola. Ricky melihat tatapan mata gadis itu, ia merasakan sesuatu yang berbeda kali ini. Rubby melihat antara Viola dan Ricky saling menatap satu sama lain tanpa berkedip sekalipun, hingga dia membalas menghentakkan tangannya di atas meja Ricky dan membuyarkan kedua. "Woiii! kalian mau bahas festival atau mau tatap-tatapan, hah!" sindir Rubby. "Bahas festival!!" tegas Ricky dan Viola bersamaan. "Woow!! kompak yaah ternyata kalian berdua, baguslah. Hahaha ..." canda Rubby dan ia langsung lari dari hadapan mereka berdua. "Apa kamu lihat-lihat?! belum pernah lihat aku, hah!" kesal Viola saat Ricky memperhatikan kembali wajahnya. "Iyaa aku belum pernah lihat wajahmu yang seperti ini, lebih cantik dari biasa," ungkap Ricky dengan kepolosannya masih memandangi wajah gadis itu. "Haah?? kamu ...." Wajah Viola seketika memerah menaham malu saat mendengar perkataan dari Ricky, sebelumnya tidak pernah ada seorang remaja laki-laki memujinya secara langsung apalagi berhadapan seperti saat ini. Tanpa perasaan yang dapat dimengerti oleh Ricky, Viola beranjak dari hadapannya. Edo sedari tadi hanya diam dan mendengarkan saja sahabatnya itu karena dia tidak mau repot-repot ikut serta dalam festival nanti. "Tumben sekali kamu tidak angkat bicara hari ini?" tanya Ricky kepada sahabatnya Edo. "Hmm ... kau saja yang tidak bisa mendengar isi hatiku saat ini," balas Edo, ia menyilangkan kedua tangannya dan merebahkan kepalanya. "Aku tahu kok! apa yang terlintas dalam hatimu ..." kata Ricky. "Apa coba?!" balas Edo. "Semoga aku tidak di tunjuk oleh Viola," canda Ricky. "Eeh! Kok, kamu bisa tahu apa yang ku pikirkan." Edo tidak habis pikir bagaimana bisa sahabatnya itu tepat sekali ucapannya. Ricky hanya membalas dengan senyuman tipis di mimik wajahnya. Terik matahari di sore hari masih cukup terang menyinari dan memberi kesan tersendiri bagi seorang Ricky yang berjalan pulang dari sekolah. Edo tidak mau lagi pulang seorang diri, karena dia takut akan kena marah seperti waktu itu ketika Ricky belum sampai ke asrama. Ricky pulang hanya berjalan kaki di ikuti oleh sahabat setianya yaitu Edo. "Rick, kenapa kamu lebih suka jalan kaki saat pulang sekolah?" tanya Edo sambil jalan disampingnya. "Kenapa baru sekarang kamu tanyakan, hmm?" balas Ricky. "Hehe ... karna aku, baru ingatnya sekarang," canda Edo. "Huh dasar lemot!" balas Ricky, di sambut tawa Edo dan akhirnya dia kuga ikut tertawa bersama. Perjalanan pulang mereka tidak begitu terasa sudah sampai di depan gerbang asrama. Masuk ke dalam asrama dengan mengucapkan salam di sambut oleh Pak Rizal. "Kalian berdua seperti biasa yaah datang lebih lama dari yang lain," ucap Pak Rizal. "Iyaa Pak, habisnya si Ricky jalannya sambil melamun," ejek Edo. "Heleh, yang ada kamu tuh kebanyakan jajan terus," balas Ricky. "Iyaa iyaa ... pokoknya kalian berdua kompak," jelas Pak Rizal tersenyum melihat tingkah kedua remaja yang ada dihadapannya. Ricky dan Edo kini berpamitan untuk masuk ke dalam kamar mereka. Keakraban keduanya melebihi saudara kandung bahkan terkadang membuat anak-anak putri di asrama merasa iri akan hubungan Ricky dan Edo. Bagaikan sepasang kekasih yang saling melengkapi satu sama lain, tidur, makan, berangkat sampai pulang sekolah pun mereka bersama-sama. Hanya saja Edo belum mengetahui siapa Ricky sebenarnya. Sebuah ketukan terdengar di balik pintu luar, Ricky yang masih terjaga dalam tidurnya mencoba bangun dan beranjak dari tempat tidur. Berjalan menghampiri pintu kamar untuk mengetahui siapa malam-malam mengetuk pintu kamarnya. "Iyaa sebentar," ucap Ricky sambil membuka pedal pintu kamarnya. Setelah di buka ternyata seorang gadis berdiri di depan pintu kamar adalah Viola. "Kamu ada waktu sebentar?" bisik Viola. "Memangnya ada apa, Viola ...?" tatap Ricky. "Ini tentang festival!" ucap Viola. "Yaa ampuuun, aku kira apa?! Ternyata festival ... kenapa kita tidak membahasnya di sekolah saja, hmm?" tanya Ricky, dia heran dengan sikap Viola saat ini. "Ooh! jadi kamu tidak mau membahasnya sekarang? ya sudah, maaf mengganggu!" rajuk Viola, dia langsung saja berbalik badan sebelum Ricky ingin mengatakan sesuatu. Refleks saja Ricky memegang tangan Viola saat hendak melangkahkan kakinya dari hadapannya. "Hey, tunggu dulu." "Ada apa lagi? Bukannya kamu merasa terganggu?" Viola merasa kesal atas ucapan Ricky tadi. "Yang bilang aku terganggu siapa, Viola?" tanya Ricky, tangannya masih menempel memegangi tangan gadis itu. "Ada apa, sob?" Suara Edo terdengar dari dalam kamar, hingga Ricky terkejut dan melepaskan tangan Viola. "Tidak ada apa-apa, kok!" terang Ricky. Hampir saja Edo mau keluar kamar ingin tahu apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Ricky masih memandangi Viola yang berjalan cepat menaiki anak tangga ingin kembali ke kamarnya. Namun, sebelum lebih jauh naik keatas gadis itu sempat menoleh kearah Ricky saat dia masuk ke dalam kamarnya. "Kenapa bisa sampai aku menghampirinya malam-malam seperti ini," gerutu Viola, dia pun kembali menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Viola bertanya-tanya pada dirinya sendiri tentang barusan yang dia lakukan menghampiri kamar seorang laki-laki. Ini adalah hal pertama kali Viola lakukan, bingung tapi dia masih teringat jelas tangannya disentuh oleh tangan Ricky, bahkan remaja itu juga sering membantunya dengan senang hati. Sepanjang malam Viola tersenyum sendiri terus bahkan dia terbayang waktu dulu sempat ditolong oleh Ricky ketika hendak terjatuh dari sepeda hanya karena dia lengah dan hampir menabrak seekor kucing yang lewat menyebrang jalan. Sosok Ricky memang selalu baik kepada siapapun termasuk dirinya. Namun kali ini perasaan Viola sedikit berbeda dari sebelumnya bahkan jantungnya berdebar-debar tak karuan ketika tangannya di pegang oleh Ricky. "Dia memang tampan dan imut saat tersenyum. Aah, kenapa aku jadi kepikiran dia, yaah?" Viola tak sadar akan perasaannya kali ini, bahwa dia mulai menyukai seseorang. Lain hal yang dirasakan oleh Ricky, dia heran dengan tingkah laku Viola yang tidak biasa dari sebelumnya. Bahkan selama ini sikap Viola selalu acuh kepada dirinya. "Apakah dia malu membahas bersamaku di sekolah, padahal yang ikut berpartisipasi dalam festival bukan hanya aku saja." Malam semakin larut namun kedua insan masih terjaga dalam dan bertanya-tanya dalam diri mereka masing-masing. Hingga pada akhirnya rasa kantuk pun menyerang mereka berdua yang tidak bisa dikalahkan, perlahan memejamkan mata dan akhirnya terlelap sampai ke dalam mimpi. "Viola, boleh aku bertanya padamu tentang sesuatu?" tanya Ricky. "Silahkan ..." balas Viola tersenyum padanya. "Maukah kamu menjadi kekasihku?" Ricky menatap penuh harapan kepada gadis cantik itu. "Heem ..." angguk Viola tersipu malu. "Laa ... Laa ... Viola!! Bangun ...!" Viola terkejut dan bangun dari tidurnya, langsung membuka kedua matanya. "Kamu kenapa tersenyum-senyum sendiri dalam tidur? Emm ... pasti sedang mimpi indah, yaa?" goda Riani, dia membangunkan. "Tidak ada!!" balas Viola. "Hmm ... kamu tidak bisa bohong, dari wajah kamu saja sudah kelihatan, lho! Merah begitu, hayoo!! Pangeran mana yang beruntung ungkapin cinta sama kamu?" goda Riani lagi. "Ish ... Dah aah, aku mau mandi!" Viola tidak tahan akan godaan Riani. Sebenarnya Riani mengetahui apa yang dilakukan oleh Viola malam tadi. Dia mengintip dari dalam kamar bahkan mengikuti Viola yang menghampiri kamar Ricky. Bahkan Riani sempat tidak percaya dengan apa yang di lihatnya ketika malam itu Ricky memegang tangan Viola. Semua sarapan pagi sudah tersedia dan berkumpul bersama di meja makan. Setelah selesai dengan aktivitas sarapan pagi bersama, kini masing-masing putra putri kembali berangkat sekolah dan berpamitan kepada Ibu Mary dan Pak Rizal. Saat Ricky hendak menggapai pedal pintu, secara kebetulan Viola juga ingin meraihnya dan benar saja meraka kembali bersentuhan tangan untuk yang kesekian kalinya. "Ehem, mau sampai kapan kalian saling menatap?" tegur Edo mengerutkan dahinya dan memperhatikan wajah sahabatnya dan juga gadis disampingnya itu. Ketika Viola melihat kelakuan Edo, dia pun mendorong wajah Edo dengan telapak tangannya. "Jaga mata mu ...." "Aku selalu menjaga mataku dengan baik," protes Edo tidak terima dengan ucapan dari Viola. Viola pergi tanpa menghiraukan lagi ucapan Edo, dengan segara ia menaiki sepedanya dan berangkat pergi ke sekolah. Ricky hanya tersenyum tertahan ketika mendapati sahabatnya itu di perlakukan seperti orang bodoh oleh gadis tersebut. "Emmm ... senang dia melihat sahabatnya di perlakukan sama gadis seperti itu!" gerutu Edo. "Tidak, siapa bilang? Aku cuma suka gaya dia saja kok." Tanpa sadar Ricky mengatakan suka dengan apa yang dilakukan oleh gadis itu kepada Edo. "Waaah kau menyukai ...." "Kalian belum berangkat juga, hmm?!" sela Mary mengejutkan mereka berdua yang sedari tadi sudah lama berdiri di belakang mendengar pembicaraannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN