Saatnya Berlibur

1502 Kata
Edwin mencoba untuk memberitahukan lewat pesan singkat kepada Kapten Indra, dia sedikit khawatir akan rencana musuh yang sudah dikalahkannya. Apa lagi dengan menyebut seorang penyihir yang kemungkinan pil itu buatan seorang ilmuwan hebat.* Indra, Ricky dan Mary mereka dalam perjalanan menuju taman wisata yang berada di kawasan kota Green. Di sana menyediakan berbagai tempat bersantai, permainan, dan juga taman wisata yang memiliki kebun binatang cukup banyak di tempati oleh hewan-hewan. Ada juga beberapa spesies langka bahkan di biarkan bebas bergerak agar tercipta sebuah nuansa alam liar yang ramah lingkungan. Tentunya fasilitasnya di lengkapi berbagai kebutuhan di sana untuk memanjakan para pengunjung di kawasan itu. Bahkan juga ada sebuah pesawat berbentuk seperti bola unik yang bisa melayang di udara khusus untuk menampung satu keluarga yang ingin berkeliling bahkan bisa menikmati pemandangan dari atas tempat wisata itu. Ada juga beberapa minibus untuk menampung orang-orang banyak bagi mereka yang ingin berkeliling menikmati pemandangan alam liar yang begitu luas nan indah akan hijaunya kehidupan di sana. Indra sudah mengantongi pesan peringatan dari Edwin, namun dia menggerutu sepanjang perjalanan merasa selalu tidak bisa tenang saat menikmati masa liburnya. Apalagi sekarang dia bisa berlibur mengajak Mary seorang wanita idaman hatinya, akan tetapi tak kunjung ia ungkapkan perasaanya itu kepada gadis yang duduk di belakangnya. "Ada-ada saja! Kenapa aku tidak bisa tenang sehari saja untuk menikmati masa cuti ku!" Indra menggerutu tanpa henti sampai-sampai Mary yang mendengarnya tersenyum tipis dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Berulang kali Edwin mencoba menghubungi Kapten Indra namun tak mendapat jawaban bahkan sengaja Indra blokir panggilan masuk Edwin agar tidak mengganggu momennya hari ini. "Heeh! Terpaksa aku yang harus bekerja." Edwin berjalan menghampiri 2 orang pria yang sudah di tahannya. Langsung mengintrogasi di tempat hingga mematahkan jari mereka satu persatu agar membuka informasi yang harus di ketahui Edwin saat ini juga. Di tambah lagi dia sangat penasaran dengan seorang penyihir yang di sebut-sebut oleh rekan mereka yang sudah hancur berkeping-keping di bawah sana berserakan menjadi sekumpulan batu. "Misi kami hanya untuk memantau dan membagikan informasi kepada mereka yang sudah siap dalam perencanaan menyerang," ucap salah satu pria yang meringis kesakitan saat ibu jarinya di patahkan Edwin. "Berapa orang yang sudah bersiap dalam penyerbuan itu?" tanya Edwin sembari memegang jari telunjuk salah satu pria tawanannya, dia ingin mematahkannya lagi. "Se ... Sekitar 20 orang sudah bersiap, tapi mereka terbagi menjadi 2 kelompok." Pria itu terlihat berkeringat tanpa henti, dia ketakutan jari telunjuknya ikut di patahkan juga oleh Edwin. "Hmmm begitu rupanya ... lalu siapa orang yang disebut penyihir itu?!" Edwin menggenggam jari telunjuk pria itu, bahkan dia menatap dengan tajam seakan ingin benar-benar membunuhnya. Mereka berdua terlihat sangat ketakutan ketika mendengar sebutan penyihir bahkan salah satu di antara mereka menggelengkan kepala dengan gemetaran, justru membuat Edwin hanya semakin penasaran. Namun Edwin tak lantas langsung melakukan tindakan yang gegabah, dia bisa mengerti mengapa kedua pria itu nampak raut wajah ketakutan kali ini. Mencoba menghubungi markas pusat untuk meminta langkah antisipasi agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Edwin secara detail menjelaskan kepada Ryuga melalui panggilan gelang smart dan menceritakan tentang semua hal apa saja yang terjadi hari ini. Begitu juga dengan sebuah pil yang kemungkinan besar adalah buatan dari seorang ilmuwan hebat di mana pil itu dapat merubah seorang manusia biasa menjadi sesosok mahkluk mengerikan. Ryuga dengan segera memerintahkan dan mengirimkan beberapa anak buahnya untuk menjemput 2 orang tawanan Edwin dan juga mengirimkan bantuan kepada Indra yang mungkin saja dia akan menghadapi 20 orang dari kelompok Bulan Kegelapan yang ingin menyerangnya. Tujuan utama dari gerakan Bulan Kegelapan sekarang adalah untuk membebaskan ketua mereka, namun harus menaklukan seorang Kapten Indra yang di mana dialah pemegang kunci utama untuk bisa membebaskannya. Kunci utama menggunakan sistem sensor mata Indra yang di percayakan kepadanya, karna Indra memiliki julukan Si Baja Biru. Kini Indra, Ricky dan juga Mary. Mereka sudah sampai di kota Green melewati berbagai pemeriksaan dan bahkan salah satu penjaga mengenali Kapten Indra. "Sssssttt!! anggap saja aku adalah warga sipil, mengerti!" Indra mengisyaratkan telunjuknya agar penjaga itu tutup mulut saat dia ingin berlibur ke kota Green yang dikunjunginya saat ini dan di balas anggukan oleh seorang penjaga itu. "Maaf Kap ... Uuupsss! maksud saya, bolehkah minta tanda tangan anda tuan? saya pengagum anda sejak dulu," ucap seorang penjaga itu membuat Indra mengangkat sebelah alisnya dan juga membuat Ricky dan Mary tertawa tertahan. Sebenarnya Indra adalah seorang Kapten yang sangat di kagumi oleh banyak kalangan prajurit-prajurit muda yang membuat mereka terinspirasi ingin kuat, berani dan tangguh seperti halnya Kapten Indra. "Kapten ... kamu seperti artis saja," Mary tersenyum merekah sampai terlihat barisan gigi putihnya membuat Indra terpesona akan kecantikan yang ingin sekali dia miliki. "Kapten! Bertahan lah ... kita baru saja sampai ini," ejek Ricky semakin membuat Mary gemas kepadanya. "Okeeeyy!! kita sekarang berlibur sepuasnyaaa!" Indra mengangkat tubuh Ricky yang mulai terlihat wajah cerianya. Kini mereka bertiga berjalan memasuki gerbang taman wisata. Terlihat begitu banyak para pengunjung yang mengantri tiket untuk masuk. "Waduuuhh parah ini! antriannya panjang sekali," gumam batin Indra. "Kenapa Kapten?" tanya Ricky, dia menoleh kearah Indra yang terlihat menghela nafas kasar. "Jangan tanya kenapa, aku sedang mencari cara biar kita bisa masuk tanpa harus mengantri panjang," balas Indra sembari dia menggaruk kepalanya dan sesekali curi-curi pandang dengan Mary. Kebetulan Indra melihat seorang operator yang sedang bersantai dan dia mencoba menghampirinya untuk berbicara agar mendapatkan layanan VIP. Terlihat Indra mencoba membujuk dengan segala macam cara hingga terpaksa Indra membuka identitasnya agar bisa mendapatkan tiket masuk tanpa harus mengantri panjang di depan sana. "Nah gitu donk, hahaha ... ini namanya pelayanan khusus," ucap Indra tersenyum lebar dan menepuk pundak seorang operator. Dia juga memberikan sebuah tips khusus kepada petugas operator itu agar bisa berjalan lancar sesuai yang di sepakati mereka berdua. "Kamu yaa, mencontohkan yang tidak baik!" Mary menatap tajam kearah Indra. "Tenang ... semua tak melanggar aturan kok, aku cuma meminta bantuan," balas Indra tersenyum tipis. "Iyaa tapi kan ada Ricky," Mary belum sempat melanjutkan protesnya kepada Indra, tangannya di genggam Ricky dan memasang raut wajah imutnya. "Buu ... Kapten hanya meminta tolong dan paman itu mau menolongnya," ucap Ricky polos. Mary hanya bisa tersenyum dan mencubit gemas pipi Ricky yang terlihat imut. Kini mereka menuju sebuah kendaraan bola unik yang dimana sudah disiapkan oleh petugas operator tadi, namun membuat Mary merasa canggung ketika harus bersama Indra dan Ricky. Sungguh mereka bertiga terlihat seperti sebuah keluarga yang harmonis. "Kenapa hanya berdiri di luar saja? ayoo masuk, jangan sungkan semuanya aman terkendali," ucap Indra sembari mengedipkan sebelah matanya kepada Mary. "Iyaa bawel!" balas Mary dengan acuh. Namun Ricky lebih dulu masuk dan duduk di tengah-tengah dan mengulurkan tangannya untuk menyambut Mary masuk kedalam pesawat bola unik bersama-sama. "Kau mencuri kesempatan ku lagi," tatap Indra dengan intens kepada Ricky. "Tidak! Dia sekarang Ibu ku ... dan Kapten adalah Ayah ku," ucap Ricky dengan kepolosannya membuat Indra dan Mary tersipu malu hingga mereka berdua menjadi salah tingkah. Mesin dinyalakan secara otomatis pesawat itu bergerak melayang di udara sekitar 5 meter dari atas permukaan bumi, bahkan pesawat itu terbang dengan mengikuti arah yang aman membuat nyaman para penumpangnya. Ricky benar-benar terlihat bersemangat dan ceria, bahkan dia dapat meluluhkan suasana hati Indra menjadi yakin akan keputusannya mengadopsi Ricky. Apa lagi dia sekarang bisa lebih dekat dengan Mary karena kehadiran anak itu. Kini pesawat unik yang mereka tumpangi mendekati sebuah danau dan di tepian danau terlihat sekelompok hewan yang berkumpul untuk menikmati air danau disana. Terlihat begitu indah pemandangan disana dan masih terasa asri akan alam sekitarnya. Ricky memperhatikan danau yang nampak indah dan tenang bahkan sesekali dia tersenyum tipis saat pandangannya ke danau itu, seperti melihat sesuatu yang ada di dalam danau itu. "Konon kabarnya disana ada seekor monster bersemayam di dasar danau itu bahkan sesekali monster itu menampakan dirinya kepermukaan saat malam hari dibawah terangnya rembulan. Monster itu memiliki suara yang terdengar lirih seakan merindukan sesuatu." Indra bercerita saat menilik Ricky yang tersenyum sendiri dan membuatnya mengangguk membenarkan cerita ayah angkatnya. "Aaah ... mungkin itu hanya mitos saja, memangnya ada yang pernah melihat monster itu, Indra?" tanya Mary sedikit meragukan cerita pria yang ada di sebelah Ricky. "Itu nyata dan benar adanya karna saksinya adalah aku sendiri yang mendengar suara itu, dulu saat aku sedang dalam pelatihan militer disini. Malam itu cukup terang dibawah sinar rembulan aku berjalan hanya seorang diri saja untuk mengambil air yang ada di danau ini. Namun tanpa sengaja aku mendengar suara yang meraung lirih, mencoba melihat di sekitaran tepi danau tapi tak ada apapun yang terlihat. Ketika aku mencoba semakin dekat dengan suara itu, tiba-tiba melihat sebuah gelombang air yang mungkin saja itu adalah sesosok mahkluk danau yang baru saja masuk kedalam air." Cerita Indra membuat Mary tertegun mendengarnya. Ricky tersenyum mengangguk, dia juga ikut mendengarkan cerita Indra yang membuatnya bersemangat. Indra mencoba mendarat dan menepikan pesawat yang mereka tumpangi ke tempat yang sudah disediakan oleh para petugas disana. "Aaaahh ... sudah lama aku tak merasakan suasana tenang seperti ini," ucap Indra sembari berjalan dan merentangkan tangannya keatas. "Jadi selama ini kamu hidup tak merasa tenang?" tanya Mary menoleh kearah Indra yang nampak memerah di wajahnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN