Sang Penjaga Hutan

1503 Kata
Indra tersipu malu saat Mary bertanya kepadanya tentang kehidupan yang seakan belum pernah merasakan arti sebuah ketenangan dalam hidupnya sebagai seorang Kapten. "Emmm ... Yaa mungkin karna banyaknya mendapatkan tugas yang merepotkan," ucap Indra menjawab pertanyaan Mary. "Kalau merepotkan, kenapa kamu mau menjadi seorang Kapten sekarang?!" balas Mary. "Hmm, pertanyaan mu masuk akal juga. Tetapi ... ketika aku melihat kejahatan yang menindas orang-orang lemah, tubuh ku selalu bergerak ingin menolong mereka dengan segenap kekuatan ini," jawab Indra sembari tersenyum dan mengepalkan tangannya menempelkan ke d**a. Terpancar aura ketulusan hati Indra dari raut wajahnya saat ini. Angin berhembus cukup sejuk menerpa rambut panjang kecoklatan milik Mary dan dia menyibakkan rambutnya kesamping kupingnya sembari masih menatap raut senyuman tulus Indra yang ada dihadapannya kali ini. "Kapten tampan juga yaah, Buu," "Iyaa." Tanpa sadar Mary terkena godaan Ricky yang membuatnya tersipu malu seketika wajahnya menjadi merah. Ricky berlari ceria karna telah berhasil membuat Mary mengatakan yang semestinya tidak dia katakan di depan indra. Berlari-larian bercanda ria sungguh momen yang sangat hangat kali ini dirasakan oleh mereka bertiga. Namun dari tempat kejauhan dalam hutan lindung yang penuh dengan rimbunan pepohonan besar. Disana sudah ada beberapa orang tengah bersiap ingin menyerang Indra dan menunggu waktu yang tepat. Sekitar 10 orang lengkap dengan persenjataan mereka, membutuhkan persiapan dan strategi untuk bisa mengalahkan seorang Kapten Indra. "Kali ini kita pastikan dapat menaklukan Kapten itu!!" seru seorang ketua pimpinan kelompok itu yang bernama Hans. Melihat waktu dari jam digital di tangannya, kali ini dia sudah menentukan waktu dan ingin segera memulai aksinya. "Goo!!" Hans memerintahkan dengan kedua jari telunjuk dan tengah sebagai isyarat bergerak maju mendekati area danau yang dimana Indra berada kali ini. Dengan formasi V mereka bergerak maju mendekati area danau. Namun satu persatu dari kelompok itu di sekap dan di lumpuhkan oleh seseorang yang tak terlihat dari arah yang tak disangka-sangka mereka. Hingga terlepas sebuah tembakan dari salah satu anggota Hans, membuat formasi mereka berantakan. Hanya tersisa 3 orang yang ada dibelakang Hans, dia tampak kesal bahwa rencananya sudah di ketahui oleh orang yang mengacaukan saat ini. "Kurang ajar!! siaga ditempat kita bereskan orang ini, jangan sampai lengah!" Baru saja Hans berucap, tiba-tiba salah satu leher anggotanya terjerat sebuah tali elektrik dan ditarik paksa kembali kedalam hutan yang mereka lewati tadi. Dengan segera Hans mengaktifkan sensor yang kini dikenakan sebagai kacamata khusus juga mampu mendeteksi keberadaan hawa panas yang tak terlihat oleh mata biasa. "Meski samar tapi pergerakan kau masih bisa ku lihat, pengecut!!" Hans dengan beberapa kali menembakan kearah sosok yang tak terlihat itu. "Kau yakin bisa melihat ku, hmmm?!" Suara seseorang tepat di samping Hans. Hans langsung menoleh kearah suara itu namun tetap saja sensor yang dia aktifkan kurang maksimal dalam pendeteksiannya. Lagi-lagi satu anggotanya terjerat di bagian leher lagi dan ditarik keatas pohon bergelantungan tak berkutik hingga pingsan. Sampai pada akhirnya hanya tersisa Hans seorang saja, barulah sosok yang tak terlihat itu menampakkan dirinya dari arah belakangnya. "Rencana mu boleh juga sampai-sampai nekat masuk kedalam wilayah ku!" seru seorang pria sembari berjalan dengan gagahnya dari arah belakang Hans. "Ciih!! ternyata seorang Kapten Si Mata Buas. Memang ahlinya kau bersembunyi dalam hutan seperti ini, tapi sayang itu adalah tindakan seorang pengecut bagi ku!" balas Hans, dia bersiap dalam posisi bertarungnya. "Pengecut, kata mu?! Bukankah kau membawa begitu banyak anggota hanya untuk melumpuhkan satu orang saja? Siapa yang lebih pengecut disini!!" Tegas seorang Kapten yang bernama Altran bertugas melindungi hutan lindung di kota Green. Altran berjalan menghampiri pria itu sembari menonaktifkan sistem tabir kamuflasenya. "Terpaksa aku harus menelan pil itu," gumam batin Hans, dia segera mengambil pil yang berada di saku celananya. Namun Altran sudah mengetahui informasi yang di dapatnya dari markas pusat bahwa kelompok Bulan Kegelapan mulai bergerak kembali setelah sekian tahun lamanya mereka tak terdengar kabar. Misi kelompok Bulan Kegelapan adalah untuk membebaskan ketua mereka, namun yang ingin diketahui oleh atasan pasukan bersenjata kali ini adalah siapa dalang dibalik p*********n dan perencanaan para kelompok Bulan Kegelapan sebenarnya. "Apa yang dia lakukan? Apakah itu pil yang dimaksud oleh atasan?!" Altran mengerutkan dahinya, dia mencegah sesuatu yang ingin dilakukan Hans. "Sial!!" Pil yang hendak di telan Hans terjatuh. "Percuma saja kau mengandalkan pil itu. Hasilnya tidak akan merubah nasib mu sama sekali, menyerahlah bodoh!! ini peringatan terakhir ku!!" Tegas Altran sembari dia menjerat tangan pria itu dengan cambuk elektriknya. "Meskipun aku harus mati, aku akan membebaskan ketua dengan cara apapun itu." Hans menggenggam cambuk dia berusaha melawan. "Dasar bodoh!! "Aku tidak perduli!!" Hans meluapkan amarahnya dalam setiap serangan yang dilancarkannya kepada Altran. Namun tak sedikit pun dari serangan itu dapat menggapai Kapten Altran. Hanya beberapa pukulan dari Altran, Hans sudah mulai terlihat babak belur di wajahnya. Entah kenapa Hans begitu terlihat marah hingga membuat Altran mengerutkan dahinya dia mencoba membaca dari tatapan mata lawannya. "Rasa tanggung jawab, harga diri dan amarahnya itu." Altran membulatkan kedua matanya dia tidak percaya bahwa orang yang ada dihadapannya saat ini dalam keputusasaan. "Apa yang kau lihat, haah!!" "Maaf saja, kau bukanlah lawan ku." Hans semakin kesal, dia merasa diremehkan oleh seorang Kapten yang kini berhadapan dengannya. Namun pukulan pria itu dengan mudah dihentikan oleh Altran hingga menendangnya dengan cukup keras mengarah kebagian samping perutnya sampai terkapar tak berdaya lagi dan tergeletak dibawah pohon. Tak jauh dari Altran berdiri, dia melihat sebuah pil tepat disebelah kaki kanannya. Pil yang sempat ingin ditelan pria itu namun berhasil dia cegah. "Lapor! 10 pejantan sudah saya bereskan dan saya juga mendapatkan bonus sesuai apa yang anda harapkan," ucap Altran sembari memperlihatkan sebuah pil yang didapatnya saat ini. "Hmm, terima kasih atas kerja samanya Kapten Altran," balas Ryuga, dia adalah seorang atasan dari ke 5 Kapten yang saat ini berada dibawah kepemimpinannya. "Tidak perlu berterima kasih, karena sudah kewajiban saya untuk melindungi hutan ini dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab," ucap Altran dengan tatapan percaya dirinya. Kini para kelompok Bulan Kegelapan yang berjumlah 10 orang beserta barang bukti sebuah pil sudah diamankan oleh pasukan Altran dan menggiring mereka ke markas pusat untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Apalagi perencanaan mereka kali ini adalah p*********n kepada Indra dan ingin membebaskan ketua Bulan Kegelapan. Namun 10 orang lagi yang belum terlacak keberadaan mereka, kapan dan dimana mereka akan beraksi untuk melakukan p*********n kedua. Meski pasukan sudah menyebar luas ke seluruh wilayah, namun masih belum mendapatkan jejak keberadaan 10 anggota itu. Waktu sudah menunjukan sore. Kini Indra, Ricky dan Mary berada dalam sebuah pertunjukan sirkus dengan berbagai macam atraksi yang ditampilkan disana, mulai dari akrobat, sulap hingga pada pertunjukan binatang buas yang melompati lingkaran api. "Waaahh!! hebat sekali mereka bisa berjalan diatas tali." Ricky terlihat begitu menyukai pertunjukan sirkus itu. "Hmm, aku juga bisa lebih dari itu," gumam Indra. Namun pertunjukan kali ini menginginkan sebuah relawan dari para penonton yang dengan senang hati ikut serta dalam sebuah pertunjukan sulap, aneh tapi nyata. "Nah itu ada lowongan untuk kamu disana unjuk kebolehan, Indra!" seru Mary sembari tersenyum tipis. "Haah!! kenapa harus ada acara seperti ini?!" gumam batin Indra. "Kenapa? takut yaa, katanya kamu bisa lebih dari itu," goda Mary membuat Indra sedikit berkeringat menahan malu. "Siapa takut!" balas Indra. "Adakah dari anda sekalian yang berkenan ikut dalam pertunjukan sulap kami? kami hanya menginginkan seorang pemberani saja, kalau orang penakut bisa-bisa pingsan sebelum dimulai," ucap pembawa acara sirkus itu dengan pakaian badutnya, disambut gelak tawa para penontonnya. Mendengar seorang pemberani Ricky ingin mengangkat tangannya, namun dicegah Indra dengan terpaksa dia yang ikut berpartisipasi dalam sulap itu. "Waah ... anda sungguh orang yang sangat pemberani tuan," ucap badut itu menyambut kedatangan Indra masuk dalam panggung pentasnya kali ini dan disambut tepuk tangan meriah dari para penonton termasuk Ricky ikut menyemangati Kaptennya. "Apakah anda siap, tuan?" tanya badut. "Kapan pun aku selalu siap!" balas Indra. "Okey! kita langsung saja kesebuah peti hitam yang sudah tersedia disana." Badut itu menunjukan sebuah peti dan menyuruh Indra masuk kedalamnya. Saat ini Indra berada didalam sebuah peti. Indra pun tak bisa melihat keadaan di luar sana, apa saja yang dilakukan oleh badut pesulap itu. Sudah beberapa menit dia menunggu didalam peti, namun tiba-tiba dia merasa seperti mau pingsan didalam peti itu. "Hallo ... Wooii!! apa ada orang di luar?! aku di sini sudah kehabisan nafas ini!" Indra mencoba mengetuk-ngetuk dari dalam peti. Namun tak ada yang menjawab bahkan suara penonton yang tadinya ramai terdengar kali ini benar-benar sepi tak ada suara sama sekali. Indra mencoba memukul dengan cukup keras dari dalam peti, namun tak berhasil sama sekali karena peti yang dimasuki saat ini terbuat dari sebuah lapisan baja. "Sial!! ruangannya benar-benar sempit susah sekali untuk memukul. Jangan-jangan ini sudah direncanakan!! Kurang ajar berani-beraninya badut itu mempermainkan ku." Indra baru tersadar, sebelum badut itu menutup pintu peti dia tersenyum licik kepada Indra. Mengatur pernapasan, Indra mencoba berkonsentrasi untuk mengumpulkan energi agar menghasilkan pukulan dahsyat. Meski didalam peti kali ini benar-benar minim oksigen yang didapatnya, namun Indra yang sudah terlatih mampu menguasai dalam situasi hal apapun tanpa ada rasa panik sedikitpun. Tiba-tiba air perlahan masuk disela-sela peti yang kali ini dimana Indra terkurung. Peti itu sekarang berada didasar danau yang mereka kunjungi siang tadi. Kedalam danau hingga mencapai 450 meter.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN