Si Baja Biru

1509 Kata
Tiba-tiba air masuk perlahan di sela-sela peti yang kali ini di mana Indra terkurung, setiap detiknya air terus masuk cukup deras hingga membasahi tubuh Indra dan semakin mengikis oksigen bahkan wajahnya sudah mulai tertutup oleh air. Peti itu kali ini berada di dasar danau paling dalam yang dimana sebuah danau indah mereka kunjungi siang tadi. Sekarang Indra berada dalam situasi berbahaya yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, meskipun begitu menahan nafas dengan udara seadanya dalam situasi sulit kali ini adalah pilihan satu-satunya. "Payah!! kenapa bisa dengan mudahnya aku di kelabui oleh badut itu." gumam batin Indra sambil ia mengepalkan kedua tangannya dan memusatkan energinya. Air danau sudah memenuhi seisi peti, meski terlihat mustahil bagi seorang manusia biasa bisa lolos dari situasi sulit kali ini, namun tidak dengan Kapten Indra yang sudah begitu banyak melewati halangan dan rintangan bahkan selama menjadi prajurit hingga kini memiliki julukan seorang Kapten Si Baja Biru dia memiliki kegigihan dan semangat pantang menyerah. Indra masih dengan konsentrasi penuh untuk mendapatkan hasil pukulan maksimal meski tanpa sebuah gelang smart khusus yang sering dia gunakan dalam sebuah pertempuran. "Sekarang!!" Satu pukulan sampai 5 pukulan bertubi-tubi mampu membuka paksa pintu peti itu bahkan rantai yang melingkar di peti itu juga ikut terlepas. Kedalaman danau hingga mencapai 450 meter. Kali ini Indra berusaha dengan ketahanan nafas yang luar biasa menyiksa detak jantung berdegup semakin cepat. Di tambah lagi suhu air dingin bisa mencapai 20 derajat celcius dan arus airnya pun sangatlah ekstrim. "Tubuhku! bertahanlah tubuh ku. Ayoo ... ayo ayoo, lihat saja nanti kau badut kurang ajar!!" Perlahan Indra mulai kesulitan dalam menahan nafasnya. Dia tidak menyangka akan jadi seperti ini ketika lengah, namun Indra baru menyadari gelang komunikasinya masih berfungsi dalam air yang bersuhu dingin kali ini. Indra menekan kedua switch khusus di gelang smart itu secara bersamaan. Berfungsi mengaktifkan kontrol otomatis pada kendaraannya yang masih terparkir di luar sana. Lampu depan motor Indra menyala dan mulai bergerak otomatis menuju keberadaan Indra yang sudah ia modifikasi motornya dengan sensor gelang smartnya kali ini. Sekarang Ricky dan Mary berada di sebuah pesawat. Mereka berdua dalam keadaan tak sadarkan diri karena tidak sengaja menghirup suatu gas beracun saat Indra memasuki peti badut. "Bagaimana, apakah Kapten itu sudah mati?" tanya seorang badut itu sembari melepas kostumnya, sesekali memperhatikan Ricky dan Mary. "Masih belum ada tanda-tandanya, apalagi dalam cuaca gelap dan hujan gerimis seperti ini kami sedikit kesulitan di sini ..." balas salah satu rekannya yang bertugas memantau keadaan Kapten Indra yang saat ini masih di dalam danau. "Tetaplah di posisi mu!! mengingat dia seorang Kapten dengan julukan Si Baja Biru. Aku yakin dia sudah keluar dari dalam peti itu," jelas seorang pria yang sudah melepas kostum badutnya. "Baiklah, kau tenang saja. Kami bertujuh di sini, dan pastinya Kapten itu tak akan bertahan lebih dari 30 menit di dalam sana." Belum habis pembicaraan mereka, tiba-tiba dari arah belakang yang bersiaga di tepi danau. Mereka semua dikejutkan oleh sorotan cahaya lampu yang menyilaukan. Panggilan komunikasi antara pria yang kali ini berada di sebuah pesawat terputus dengan rekannya yang bersiaga di tepi danau itu. Sebuah motor dengan tampilan gagahnya melaju dengan kecepatan cukup tinggi menuju arah danau. Menabrak beberapa orang yang ada di sana dan kendaraan Indra pun langsung terjun bebas masuk ke dalam danau itu. "Kurang ajar!! kenapa aku tidak terpikirkan bahwa dia mampu mengendalikan motornya seperti itu." ucap seorang pria yang tertabrak motor Indra. Sekitar 10 menit, sesuatu muncul dengan lompatan cukup tinggi keluar dari permukaan air danau itu. Semua orang yang bersiaga untuk memantau Indra, tercengang seakan tidak percaya apa yang tengah mereka lihat kali ini. Sekarang Indra tiba di atas permukaan danau dengan kendaraanya yang masih aktif dengan power booster berkekuatan penuh. "Sekarang giliran ku!!" seru Indra dalam posisi duduk diatas motornya, air yang membasahi rambut dan tubuhnya yang kekar bahkan tatapan tajamnya siap membunuh orang-orang yang ada dihadapannya kali ini. "Tembak!!" serang salah satu pria kelompok Bulan Kegelapan. Semua tembakan mengarahkan kepada Indra, namun tak ada satu tembakan pun yang dapat mengenainya. Kali ini Indra mengaktifkan mode tembakan dalam keadaan siaga dan target pun terkunci, secara otomatis mengarahkan kepada target musuh yang ada dihadapannya sekarang. Indra melajukan motornya menuju ke arah musuh kali ini dan dia masih di atas kendaraannya hingga melakukan aksi berputar 360 derajat di tengah-tengah musuhnya. Hampir semua anggota itu terkena tembakan dari kendaraan Indra, namun ada salah satu diantara mereka yang cukup lincah untuk menghindar dan berlari menghampiri Indra yang masih berada diatas motornya. "Hmm, cukup lincah juga orang itu." Indra turun dari motornya dan berjalan mendekati pria yang saat ini dia pun menghampirinya. Namun belum sempat melancarkan pukulan kearah Indra, tiba-tiba dia terkapar terlebih dulu dengan tendangan yang dilancarkan oleh Altran. "Hah?!" Indra membulatkan kedua matanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya kali ini. "Kau terlalu lama bermain-main disini Indra," ucap Altran di balik sistem kamuflasenya. "Heh, kau rupanya! masih suka main sembunyi-sembunyi seperti itu?" tanya Indra dengan acuh. Dia berbalik dan berjalan kembali menuju ke motornya. "Sekarang ada suatu masalah serius dan kini ke 3 Kapten sudah berkumpul di markas utama untuk mengadakan pertemuan. Dan sekarang hanya menunggu kau saja!" balas Altran. Indra berjalan sambil mendengarkan ucapan Altran dan hampir sampai dia berjalan menuju motornya. Tiba-tiba saja dari arah samping sebelah kanan Indra sebuah bola api melesat kearahnya. Tanpa menghindari bola api itu, Indra menangkisnya dengan telapak tangannya. "Kau pergilah terlebih dahulu, aku akan menyusul mu nanti setelah membereskan orang ini!" seru Indra. Di bawah rintikan hujan yang gerimis bahkan sesekali cahaya kilat memancar dan menampakan otot-otot lengan yang kekar hingga di telapak tangan Indra masih tersisa asap dari bola api yang di tangkisnya tadi. Bahkan tatapannya lurus tajam melihat kearah musuhnya. "Baiklah, kalau begitu berhati-hatilah. Dia sudah menelan pil yang bersumber dari Lifestone," ucap Altran sembari menyentuh pundak Indra. "Hmm? akan ku selesaikan dalam waktu 30 detik," balas Indra. Pria yang sudah berubah menjadi manusia kobaran api itu kali ini berlari menghampiri Indra dan juga melepaskan bola api yang keluar dari tangannya. Dengan gerakan gesit menghindari setiap serangan bola api itu dan Indra maju melangkah mendekati manusia kobaran api itu. "Apapun yang kau lakukan tak akan berpengaruh dihadapan ku, dasar payah!!" Pukulan pria itu terlihat bukan apa-apa bagi Indra bahkan sebaliknya pria itu yang mendapatkan 3 pukulan telak mengenai bagian perut dan wajahnya. "Heh! hanya segini kemampuan hah!!" ucapan pria itu tak dihiraukan oleh Indra. "Syuuu ... benar-benar mengerikan si Baja itu. Kalau manusia biasa pasti tak akan sekuat itu pukulannya, apalagi dia baru saja keluar dari dasar danau yang super ekstrim itu," gumam Altran, dia menyaksikan pertarungan singkat dari Indra. Setelah Indra melancarkan 3 pukulan kepada pria yang masih berdiri tegak itu, kini dia berbalik badan dan berjalan tanpa menghiraukan lagi meski sempat pria itu ingin membalas. Secara mengejutkan manusia dengan wujud kobaran api itu memuntahkan darah yang tak pernah diduganya. "Apa ini? kenapa bisa begini, kau ... kau!" Kobaran api yang menyelimuti tubuh pria itu kini padam seketika dan pria itu jatuh tersungkur meringis kesakitan menahan sakit di area perutnya. "Maaf, aku langsung memukulmu dengan tehnik ini," ucap Indra sembari memperlihatkan tangannya yang dimana bukan sebuah kepalan tangan melainkan kelima jarinya lurus seperti sebuah pedang saat melancarkan serangan kebagian perutnya, lebih tepatnya menuju bagian hati. "Hmm ... lebih cepat dari dugaan ku kau menyelesaikan seorang pria yang sudah menggunakan pil itu atau memang pria itu terlalu lemah untuk mu, Indra?" tanya Altran namun tak dihiraukan oleh Indra, dia langsung berangkat menuju markas utama. Kali ini semua Kapten sudah berkumpul di sebuah ruangan rapat yang berada dalam markas utama, dalam pembahasan yang terjadi pada hari ini cukup serius. Apalagi adanya sebuah pil yang di mana dari hasil penelitian laboratorium menyatakan bahwa terdapat serbuk yang berasal dari Lifestone. Hingga mendatangkan Prof. Sheo Lee dalam rapat kali ini juga ikut serta membantu meneliti terkait pil bersumber Lifestone itu. "Jadi siapa orang yang mampu menciptakan pil itu sedemikian rupa dapat merubah manusia biasa menjadi wujud tak seperti seharusnya?" tanya Seorang Kapten dari kota Red yang bernama Harly. "Mungkin ini hanya dugaan ku saja," ucap Prof. Lee ragu-ragu. "Aku yakin orang itu sama jeniusnya dengan mu, yaa kan Prof?!" tambah seorang Kapten dari kota Orange yang bernama Yakashi. "Lalu apa maksud dan tujuannya menciptakan pil itu. Sungguh sangat disayangkan sekali kalau kecerdasan seperti itu digunakan untuk hal kejahatan," ucap seorang Kapten dari kota White bernama Jessica. Indra dan Altran masih dalam diamnya, mereka berdua hanya ingin mendengarkan pembahasan yang lebih penting dari seorang atasan yaitu Ryuga. "Baiklah semuanya dengarkan baik-baik, dari hasil informasi yang kami kumpulkan bersama dengan Edwin selaku wakil Kapten Indra. Hari ini dia memberitahukan bahwa ada sejumlah kelompok Bulan Kegelapan bergerak kembali dan mereka semua beranggota 20 orang dan membagi kelompok menjadi 2 bagian. Kelompok yang terbagi menjadi 2 bagian itu masing-masing kelompoknya memiliki 10 orang anggota dan 10 orang anggota bagian pertama berhasil dilumpuhkan oleh Kapten Altran, mereka beraksi di wilayah kota Green. Misi mereka sebenarnya untuk menaklukan Kapten Indra sebagai kunci untuk membebaskan Ketua Bulan Kegelapan." Cukup panjang lebar penjelasan Ryuga kali ini. "Lalu bagaimana dengan pil itu? aku yakin tujuan mereka sebenarnya bukanlah Indra?!" tanya Altran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN